Filsafat Islam
Filsafat Pendidikan
Islam
Pengertian
Secara
harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata
Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta
cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani
mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap
hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan
menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa
filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab
dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu
terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab
falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta,
suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi,
Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau
lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara
itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami
perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal
sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa
kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau
semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian
filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau
kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari
segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau
pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya
bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim
digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai
rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa
pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Berdasarkan
rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan,
yaitu: (1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan
yang dilakukan secara sadar; (2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong; (3)
Ada yang di didik atau si terdidik; dan (4) Adanya dasar dan tujuan dalam
bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai
suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif
dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan
sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi
pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya
mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan
diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan
hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk
mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat
tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai
sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti
ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan
pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di
akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi
Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life
education ).
Dari
uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya
bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi
di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini
ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini
di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan
orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan,
serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar
pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman
Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah
kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami
menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami.
Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar
( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min
yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat
kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya,
serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh
kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari pengertian
di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
Bahwa
al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan
hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang
diridloi Allah SWT.
Menurut
Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk
mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam
bentuk pendidikan Islam.
Al
Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi
petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya
agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan
Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan
berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya
sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan
dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk
mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya
kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam
pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya
dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah
pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan
penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit,
dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern
dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para
ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan
memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu
pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan
hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang
sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang
melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung
unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi
itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa
hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan,
hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan
sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati
sebelumnya.
Sedangkan
para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang
tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya
gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada
satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau
dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat
dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka
terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan
menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai
ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan
Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan
dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka
sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan
islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan
kemajuan.Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber
ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia
:
Menyadarkan
secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta
tanggung jawab dalam kehidupannya.
Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya
dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya. Menyadarkan
manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Menyadarkan
manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami
hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada
manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah
mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam
itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat
dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai
sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai
sumber sekunder.
Dengan
demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah
filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang
dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas,
tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan
mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam
telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya
beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian
tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau
filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang
kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa
mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang
mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan,
ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan
menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini
memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah
yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan,
masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Prof. Mohammad
Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5
tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al
Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :
1.
Untuk membantu pembentukan akhlak
yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan
Islam.
2.
Persiapan untuk kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi
keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh
perhatian kepada keduanya sekaligus.
3.
Menumbuhkan ruh ilmiah pada
pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu
bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra,
kesenian, dalam berbagai jenisnya.
4.
Menyiapkan pelajar dari segi
profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu,
teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam
hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5.
Persiapan untuk mencari rezeki dan
pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat
agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada
segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak
lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagai suatu
metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal
sebagai berikut :
Pertama,
bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal
ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai
pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di
ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.
Kedua, metode
pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat
dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing
prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam
menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an
semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad
Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
Ketiga, metode
pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode
analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis
terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
Keempat,
pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula
dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan
ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori
keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula.
Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam
analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk
menjelaskan suatu fenomena.
Pandangan Islam Dalam
Masyarakat
Masyarakat secara sederhana didefinisikan sebagai kumpulan individu
atau kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama. Di
dalamnya termasuk segala jalinan hubungan yang timbal balik yang berangkat atas kepentingan bersama, adat
kebiasaan, pola-pola, teknik-teknik, sistem hidup, undang-undang, institusi dan
segala segi fenomena yang dirangkum oleh masyarakat dalam pengertian luas dan
baru.
Dari berbagai definisi tentang masyarakat dapat diambil beberapa
unsur yang ada dalam suatu masyarakat, yaitu: (1) Hidup bersama dua orang atau
lebih, (2) Hidup bergaul dan bercampur cukup lama, (3) Hidup dalam suatu
kesatuan yang utuh, (4) Mereka sadar bahwa sistem kehidupan bersama menimbulkan
sebuah kebudayaan tersendiri, sehingga mereka merasa adanya ketertarikan di
antara mereka, (5) Adanya aturan yang jelas dan disepakati bersama.
Adapun masyarakat menurut Islam mempunyai sikap dan ciri tertentu
yang dapat membedakannya dari masyarakat lain. Komunitas masyarakat tersebut
dapat dilihat pada komunitas yang ditampilkan pada zaman Rasul SAW, zaman
keemasan Islam dan pada masa sekarang, masyarakat Islam tersebut adalah
masyarakat yang teratur rapi, aman, makmur, adil dan bahagia yang meliputi
seluruh umat. Kehidupan komunitas masyarakat dalam Islam menerapkan ajaran
Islam dalam seluruh aspek kehidupan seperti bidang akidah, ibadah, akhlaq,
undang-undang dan sistem pemerintahan.
Dalam Islam,
anggota masyarakat mempunyai persamaan dalam hak dan kewajiban, Islam tidak
mengenal kasta dan pemberian hak-hak istimewa kepada seorang atau kelompok.
Kemuliaan seseorang dalam masyarakat Islam hanyalah karena ketaqwaannya kepada
Allah. Adanya perbedaan itu tidaklah
menyebabkan perbedaan dalam kedudukan sosial. Hal ini merupakan dasar yang
sangat kuat dan tidak dapat dimungkiri telah memberikan kontribusi pada
perkembangan hak-hak asasi manusia.
Menurut al-Syaebaniy, masyarakat Islam mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1.
Masyarakat Islam mempunyai tonggak
dasar pada keimanan. Ciri pertama ini membuahkan rasa aman dan damai di hati
setiap anggota masyarakat, sejak komunitas yang terkecil sampai pada komunitas
kolektif yang lebih luas. Dasar iman dapat mendidik manusia agar mau bekerja
keras, karena hanya amal yang saleh yang ikhlas karena Allah yang akan
diperhitungkan oleh Allah. Iman membuahkan rasa tanggung jawab terhadap segal
tindakan manusia. Iman membuahkan takwa kepada Allah semata, tak ada yang
ditakuti selain Allah saja.
2.
Agama diletakkan pada proporsi yang
tinggi. Segala urusan hidup dikembalikan kepada hukum-hukum Allah.
3.
Nilai manusia adalah akhlaknya.
Akhlak dikaitkan dengan agama sebagai realisasi praktis terhadap-Nya. Islam
mendorong agar masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia.Ilmu
mendapat perhatian yang sepenuhnya oleh masyarakat Islam. Masyarakat berkeyakinan bahwa dengan ilmu, manusia
memperoleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk aspek ekonomi yang
dapat meningkatkan
4.
income masyarakat. Dengan ilmu,
manusia akan dapat memperbaiki taraf hidup dan derajatnya.
5.
Islam menghormati dan menjaga
kehormatan insan. Penghormatan itu tidak membedakan warna kulit, bangsa atau
pun agama. Hak pribadi seseorang dihormati. Hak untuk mendapatkan keadilan di
junjung tinggi. Pribadi pada hakikatnya bukan hamba masyarakat dan begitu pula
sebaliknya.
6.
Keluarga mendapat perhatian penuh
dalam masyarakat Islam. Peranan keluarga sebagai dasar utama proses pembinaan
generasi perlu berangkat atas dasar kasih sayang, keadilan kebenaran dan budi
luhur.
7.
Masyarakat Islam adalah masyarakat
yang dinamis. Mereka bertekad untuk maju terus.
8.
Kerja seorang mendapat perhatian
dalam masyarakat Islam. Dalam hal ini, manusia diukur oleh kerjanya, bukan
posisinya.
9.
Harta diperhitungkan untuk menjaga
kehormatan insan. Harta harus didapat dari jalan halal, disalurkan harus sesuai
dengan perintah Allah, harta tidak boleh ditumpuk dan tidak dimanfaatkan dan
penunaian dari harta itu berdasarkan hak dan tuntutan dengan ketentuan: (1)
Untuk diri yang sesuai dengan kebutuhannya dan (2) untuk masyarakat dimulai
dari kerabat yang terdekat kemudian yang terjauh.
10. Nabi
menekankan agar masyarakat muslim itu kuat fisik dan mentalnya.
11. Masyarakat
muslim adalah masyarakat yang terbuka dan dapat menerima yang baik dari mana
pun datangnya, tanpa terkelupas dari ruh ilahiyah.
12. Dalam
hal bantu membantu, masyarakat Islam jadi tauladan terutama bukan hanya untuk
golongannya saja, tapi juga untuk semua golongan.
Filsafat Akhlak Dalam Islam
Klasifikasi Akhlak
Akhlak
merupakan bagian dari kehidupan manusia. Studi mengenai akhlak meliputi
deskriptif (meliputi akhlak yang timbul pada masyarakat), akhlak normatif
(perspektif akhlak), dan metaakhlak (analisis akhlak). Dalam esensi konsep
moral terbagi kepada pembagian konsep moral yaitu konsep esensial (konsep yang
di dapat melalui indra lalu diabstraksi melalui akal), konsep logis (mental),
dan konsep falsafi (pengamatan dari beberapa akal lalu dikomparasikan di antara
keduanya). Konsep esensial membicarakan mengenai batasan-batasan sedangkan
konsep logis dan falsafi membicarakan karakternya. Statemen moral bisa
dituangkan dalam bentuk afirmatif dan dalam bentuk normatif. Tetapi dalam
artian sesungguhnya penerapan konsep moral sebenarnya masuk kepada konsep
universal falsafi dimana statemen moral bersifat konvensional namun isinya
berdasarkan pertimbangan faktual dari masyarakat. Asal usul kemunculan konsep
moral adalah konsep moral sebagai realitas objektif (konsep moral hanya
dipersepsi oleh akal), konsep moral penetapan/konvensi (konsep moral ada
kaitannya dengan konsep objektif), dan konsep moral sebagai naluri (moral itu
bersifat naluriah dan ada dalam kodrat manusia).
Parameter Akhlak Yang Baik
Statemen-statemen
moral terbagi atas dua macam yaitu obligatif (harus/tidak boleh) dan evaluatif
(baik/buruk). Mengenai esensi konsep akhlak baik dan buruk masuk dalam statemen
moral evaluatif. Beberapa analisis kebaikan dan keburukan menurut beberapa filsuf
dimulai dari manusia memilih apakah itu baik untuk dirinya atau tidak. Beberapa
filsuf cenderung berpendapat bahwa mengenai baik dan buruk itu tergantung dari
fisiknya. Apabila ia cantik, maka ia baik. Begitupun sebaliknya. Namun pada
dasarnya semua itu bukanlah menjadi tolok ukur. Parameter kebaikan dan
keburukan adalah apakah itu bermanfaat untuk diri manusia secara khusus, dan
kemanusiaan secara universal. Pandangan-pandangan seputar kebaikan dan
keburukan moral adalah objektivitas (konsep objektivitas dari alam luar),
simbol emosionalitas (pandangan baik/buruk mengenai keindahan & kejelekan),
I’tibar (baik/buruk dalam arti penetapan), dan kehendak Tuhan. Latar belakang
permasalahan dalam pemikiran islam terpecah dalam dua kelompok besar yaitu Adliyah
(akal manusia yang dapat menentukan baik/buruknya sesuatu dan perintah Tuhan
merupakan petunjuk manusia dari luar) dan Hanafiyah (sama dengan objektivitas
baik/buruk dan lebih menekankan kepada perintah Tuhan). Arti-arti baik dan
buruk serta klaim asy’syariah dimana dimaksudkan menemukan titik-titik
persamaan antara pendapat kaum Asysyariah dan Adliyah yaitu kesempurnaan dan
kekurangan (baik itu sempurna dan buruk itu kurang), kesesuaian dengan tidaknya
tabiat manusia (kebaikan adalah keinginan manusia dan keburukan sebaliknya),
keseuaian dengan tidaknya tujuan, dan ketersanjugan dan hujatan. Analisis atas
pandangan Asysyariah tidak berbeda dengan Adliyah seperti perintah kepada Tuhan
namun Adliyah juga menekankan kepada akalnya. Maka dari itu manusia tidak hanya
cukup hidup dengan perintah-perintah Tuhan saja. Karena dalam kalangan
Asy-syariah saja sudah berbeda penafsiran maka dari itu membutuhkan ajaran
serta arahan Nabi pula. Objektivitas acuan-acuan abstraksi dimaksudkan seperti
standar kebaikan (kesesuaian antara tindakan dan tujuan manusia bertindak).
Akar perdebatan dalam studi moral di seluruh dunia ini yang seperti dibahas
sebelumnya bahwa di Negara ini tidak boleh dan di Negara lain tidak boleh
adalah karena ketidaktahuan seseorang mengenai kesempurnaan hakiki dan
ketidaktahuan dan pemahaman yang salah mengenai tindakan yang sengaja dan
kesempurnaan yang sesungguhnya.
Tanggung Jawab Moral (AKHLAK)
Pentingnya
studi nilai moral tidak hanya dalam bidang filsafat, melainkan sosiologi
politik, ekonomi, dan masih banyak lagi. Tanggung jawab moral sangat dibutuhkan
dan sudah lama menjadi perbincangan para filsuf. Tanggung jawab moral dapat
berupa suatu hak atau suatu kepatutan. Syarat-syarat tanggung jawab moral
berupa kemampuan (kemampuan melakukan/meninggalkan kewajiban), pengetahuan dan
kesadaran (manusia tahu apa yang dibebankan padanya), dan pilihan dan kehendak
yang bebas. Argumentasi determinisme berupa falsafi, natural, dan teologis.
Beragam tanggung jawab moral seperti kepada Tuhan, diri sendiri, orang lain,
dan alam.
Kurikulum Pendidikan Islam
Pengertian
Kurikulum
Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa
latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran. Ada yang mengatakan berasal
dari bahasa prancis courier yang berarti berlari.Ada pula yang mengatakan
kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang artinya pelari dan
“curere” yhang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dikaitkan
dengan pendidikan, kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa
kata bahasa Arab istilah kurikulum dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan
terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika
dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan
peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.
Sedangkan
secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para
ahli berikut ini:
a. Crow and Crow : Kurikulum adalah rancangan
pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis
sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.
b. Saylor Alexander (dikutip S. Nasution) :
Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga
didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di
lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
c. Hasan langgulung : Kurikulum adalah
sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik
yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
d. UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan
mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Dari beberapa
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan salah satu
komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum
merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman
dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Dengan demikian, pengertian
kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan
oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja.
Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan
sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya
disekolah, tapi juga diluar sekolah.
Dalam pengajaran biasanya hanya
terfokus pada ruang kelas saja, tapi dengan perkembangan yang terjadi saat ini
sumber pendidikan dapat diperoleh dari berbagai hal diluar kelas seperti
perpustakaan, museum, majalah, televisi, surat kabar, radio dan yang lebih
memudahkan lagi adalah internet yang segala sesuatunya ada informasi
didalamnya.
Jadi kurikulum juga harus
mempertimbangkan hal itu agar peserta didik bisa terus mengikuti perkembangan
dari suatu ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan dan lain sebagainya yang
ada diluar dari sekolah agar tidak dicap sebagai siswa yang gagal akan
perkembangan zaman.
Ciri-Ciri
Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum, kurikulum tersusun
dengan beberapa aspek utama yang menjadi cirrinya. Hasan Langgulung
mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu:
· Tujuan pendidikan yang ingin dicapai
oleh kurikulum itu.
· Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu
data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk
kurikulum itu.
· Metode dan cara-cara mengajar dan
bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang
dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
· Metode dan cara penilaian yang
digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang
dalam kurikulum.
Berangkat dari ke kempat hal yang
menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan filsafat pendidikan
yang dikembangkan pada pendidikan islam tentu semua akan menyatu dan terpadu
dengan ajaran islam itu sendiri. Pendidikan yang merupakan suatu proses
memanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan
kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha
mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting
untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu,
setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu
mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah
satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana
ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang
diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang
hendak dicapai.
Omar Mohammad al- Toumy al-
Syaibany menyebutkan lima ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut;
I.
Menonjolkan tujuan agama dan akhlak
pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan – kandungan, metode-metode,alat-alat,
dan tekniknya bercorak agama.
II.
Meluas cakupannya dan menyeluruh
kandungannya.
III.
Bersikap seimbang diantara berbagai
ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga
seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan
pengembangan social.
IV.
IV.Bersikap menyeluruh dalam menata
seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
V.
Kurikulum yang disusun selalu
disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.
Sedangkan
Al-Shaybani mengatakan bahwa kurikulum pendidikan islam haruslah mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
- Menonjolkan mata pelajaran dan akhlak .
Agama dan
akhlak seharusnya diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh-contoh dari
orang terdahulu yang sholeh.
-
Memperhatikan pengembangan yang
menyeluruh dari aspek pribadi siswa yaitu jasmani, akal dan rohani
-
Memperhatikan keseimbangan antara
pribadi dan masyarakat, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, keseimbangan itu
tentunya bersifat relative karena tidak dapat diukur secara objektif.
-
Memperhatikan juga seni
halus,seperti ukir, pahat, tulis indah, gambar dan sejenisnya.Selain itu juga
memperhatikan pendidikan jasmani seperti latihan militer, tehnik, keterampilan
dan bahasa asing sekalipun, semua ini diberikan kepada perorangan secara aktif
sesuai bakat, minat,dan kebutuhan.
-
Mempertimbangkan perbedaan-perbedaan
kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan
perbedaan zaman. Kurikulum dirancang sesuai kebudayaan.
Asas-Asas Kurikulum
Secara teoritis penyusunan sebuah
kurikulum harus berdasarkan asas-asas tertentu. Asas – asas tersebut antara
lain menurut S. Nasution yaitu :
1. Asas Filosofis
Berperan
sebagai penentuan tujuan umum pendidikan sehingga penyusunan kurikulum
mengandung kebenaran, dimana asas ini merupakan pandangan hidup mendidik anak
sesuai dengan tujuan pendidikan.
Asas filosofis
membawa rumusan kurikulum pendidikan islam kepada tiga dimensi:ontologi,
epistemologi, dan aksiologi.Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih
banyak memberi anak didik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan
fisik-fisik, obyek-obyek.Pada mulanya dimensi ini diterapkan Allah SWT.dalam
pengajaranNya kepada nabi Adam as dengan memberitahukan atau mengajarkan
nama-nama benda (QS.Al-Baqarah{2}:31) dan belum sampai pada tahap penalaran
atau pengembangan wawasan.Demensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang
sah,yang berdasarkan metode kontruksi pengetahuan yang disebut metode
ilmiah,yang sifatnya mengajak berfikir menyeluruh,reflektif dan kritis,
implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung
fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan tidak mutlak, tentatif dan dapat
berubah-ubah. (QS.Al-Baqarah {2}:26-27); dan dimensi aksiologi mengarahkan
pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar
memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari
nilai-nilai yang tidak diinginkan.Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya
guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup
menuju kesempurnaan, kenyamanan dan dijauhi dari segala sesuatu yang
menimbulkan kesengsaraan atau kerugian
Tugas ketiga
dimensi tersebut merupakan kerangkah dalam perumusan kurikulum pendidikan
islam. Dari berbagai macam filsafat pada dasarnya memberikan khasana
intelektual di bidang kurikulum pendidikan islam lainnya, semakin banyak pula
kontribusi teori dan konsep. Teori dan konsep yang ditimbulkan dari berbagai
macam aliran filsafat tidak dapat begitu saja diterima atau ditolak, namun
diseleksi terlebih dahulu kemudian hasilnya dimodifikasi pada khasana kurikulum
pendidikan islam
2. Asas Sosiologis
Memberikan
dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Asas Organisatoris
Asas ini
memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan itu disusun, dan bagaimana
penentuan luas dan urutan mata pelajaran.
4. Asas Psikologis
Asas ini
memberikan prinsip – prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai
aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dipahami oleh anak
didik sesuai dengan perkembangan.
Prinsip-Prinsip
Kurikulum Pendidikan Islam
Menurut
Al-Taumi sebagaimana yang di kutip oleh Muhammad Zein dalam bukunya ‘’ Materi
filsafat pendidilan islam “, prinsip dasar yang harus dipegengi dalam menyusun
kurikulum pendidikan islam adalah:
1. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan agama,termasuk ajaran dan nilainya.
2. Tujuan dan kandungan kurikulum pendidikan
islam harus menyeluruh (universal)
3. Tujuan dan kandungan kyrikulum pendidikan
islam harus adanya keseimbangan.
4. Kurikulum pendidikan islam harus
berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan anak didik serta alam
lingkungan di mana anak didik tersebut hidup.
5. Kurikulum pendidikan islam harus dapat
memelihara perbedaanindividu diantara anak didik dalam bakat, minat, kemampuan
dan kebutuhan mereka.
6. Kurikulum pendidikan islam harus mengikuti
perkembangan dan perubahan zaman, filsafah, prinsip, dasar, tujuan dan metode
pendidikan islam harus dapat memenuhi tuntutan zaman.
7. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan pengalaman dan aktifitas anak didik dalam masyarakat.
H.M. Arifin
dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan empat prinsip dalam
penyusunan kurikulum pendidikan islam yaitu:
1. Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan
idealitas islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu
pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup islami.
2. Untuk berfungsi alat yang efektif
mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus nengandung tata nlai islami yang
intrinsik dan ekstrinsik mampu merealisasikantujuan pendidikan islam.
3. Kurikulum yang bercirikan islami itu
diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam
tujuan pendidikan islam
4. Antara kurikulum, metode, dan tujuan
pendidikan islam harus saling menjiwai dalam proses mencapai produk bercita-citakan
menurut ajaran islam.
Isi Kurikulum
Pendidikan Islam
Cakupan bahan pengajaran yang ada
dalam suatu kurikulum kini terus semakin luas atau mengalami perkembangan
karena tuntutan dari kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, tekhnologi yang terjadi
di dalam masyarakat, dan beban yang diberikan pada sekolah.
Berdasarkan tuntutan perkembangan
itu maka para perancang menetapakan cakupan kurikulum meliputi 4 bagian
yaitunya :
a. Tujuan merupakan arah, sasaran, target
yang akan dicapai melalui proses belajar mengajar.
b. Isi merupakan bagian yang berisi
pengetahuan, informasi, data, aktifitas, dan pengalaman yang diajarkan kepada
peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
c. Metode merupakan cara yang digunakan
guru atau dosen kepada peserta didik untuk menyampaikan mata pelajaran agar
mudah dimengerti.
d. Evaluasi merupakan cara yang dilakukan
guru untuk melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran.
Untuk
menentukan kualifikasi isi kurikulum pendidikan islam dibutuhkan syarat yang
perlu diajukan dalam perumusan yaitu:
a) Materi yang disusun tidak menyalahi
fitrah manusia,
b) Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan
islam,
c) Disesuaikan dengan tingkat perkembangan
dan usia peserta didik,
d) Membawa peserta didik kepada objek empiris
dan praktik langsung,
e) Penyusunan bersifat integral,
terorganisasi,
f) Materi sesuai dengan masalah mutakhir
yang sedang dibicarakan,
g) Adanya metode yang sesuai,
h) Materi yang diajarkan berhubungan dengan
peserta didik nantinya.,
i) Memperhatikan aspek sosial,
j) Punya pengaruh positif,
k) Memperhitungkan waktu, tempat,
l) Adanya ilmu alat ayng mempelajari ilmu
lain.
Setelah syarat
itu dipenuhi disusunlah isi kurikulum pendidikan. Isi kurikulum menurut Ibnu
Khaldum terbagi jadi 2 tingkatan:
1) Tingkatan Pemula
Materi
kurikulum difokuskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah
2) Tingkatan Atas
Tingkatan ini
punya 2 klasifikasi:
Ilmu yang
berkaitan dengan zatnya
Ilmu yang
berkaitan dengan ilmu lain seperti ilmu bahasa, matematika, mantiq
Menurut
Al-Ghazali klasifikasi isi kurikulum pada 3 kelompok yaitu:
a. Kelompok menurut kuantitas yang mempelajari
Ilmu fardhu
‘ain yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah
Ilmu fardhu
kifayah yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim saja
misalnya kedokteran, pertanian dan lainnya
b. Kelompok menurut fungsinya
Ilmu tercela
adalah ilmu yang tidak berguna untuk
masalah dunia maupun akhirat serta mendatangkan kerusakan
Ilmu terpuji
adalah ilmu agama yang dapat mensucikan jiwa dan menghindari hal-hal yang
buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan diri pada allah
Ilmu terpuji
dalam batasan tertentu tidak bolaeh dipelajari secara mendalam karena akan
mendatangkan ateis.
c. Kelompok menurut sumbernya
Ilmu Syar’iyah
adalah ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu ilahi dan sabda nabi
Ilmu ‘Aqliyah
adalah ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen dan
akulturas.
Allah berfirman
dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 mengenai isi kurikulum yang artinya:“Kami akan
memeperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami disegenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran iu
adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia
menyaksikan segala sesuatu”
Ayat tersebut
terkandung 3 isi kurikulum pendidikan islam yaitunya:
1. Isi kurikulum berdasarkan pada ketuhanan
2. Isi kurikulum berorientasi pada manusia
3. Isi kurikulum berorientasi pada alam.
Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam
Al-Abrasyi
Biografi
Muhammad Athiyah al-Abrasyi adalah seorang tokoh pendidikan yang
hidup pada masa pemerintahan Abd. Nasser yang memerintah Mesir pada tahun
1954-1970. Beliau adalah satu dari sederetan nama penting para cendekiawan Arab
dan Muslimin. Beliau adalah penulis tentang pendidikan Keislaman. Beliau
dilahirkan pada awal April tahun 1897 dan wafat pada tanggal 17 Juli 1981.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi juga adalah seorang sarjana yang telah lama
berkecimpung dalam dunia pendidikan di Mesir yang merupakan pusat ilmu
pengetahuan Islam, sekaligus sebagai guru besar pada fakultas Darul Ulum Kairo
University, Kairo. Sebagai guru besar, beliau secara sistematis telah
menguraikan pendidikan Islam dari zaman ke zaman serta mengadakan komparasi di
bidang pendidikan mengenai prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan
modern di dunia Barat pada abad ke-20 ini. Pendapat Muhammad Athiyah al-Abrasyi
tentang pendidikan Islam banyak dipengaruhi dari rangkuman, pemahaman, dan
pemikiran tokoh-tokoh muslim sebelumnya, terutama pemahaman secara filosofis.
Beliau cenderung menjadikan Ibnu Sina, al-Ghazali dan ibnu Khaldun sebagai nara
sumbernya.
Konsep Pendidikan Islam Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi
Pendidikan secara umum pada dasarnya merupakan kebutuhan yang
primer manusia, baik secara individu maupun sebagai warga negara, yang menuju
kearah terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam Islam, istilah yang digunakan
untuk pendidikan adalah Tarbiyah, ta'lim, ta'dib Dan sekarang berkembang secara
umum di dunia Arab adalah tarbiyah ternyata masih merupakan masalah khilafiyah,
(kontroversial) Pendidikan Islam menurut 'Athiyah dalam kitab at-Tarbiyah
al-Islamiyah Wafalasifatuha adalah:
“Sesungguhnya pendidikan Islam terdiri dari prinsip-prinsip
(demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam
pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara yang kaya dan
yang miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban
dalam bentuk immateri, bukan untuk tujuan materi (kehendak), dan menerima ilmu
itu dengan sepenuh hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang
kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melakukan perjalanan panjang
dansulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama.”
Berdasarkan pernyataan Muhammad Athiyah Al-Abrasyi di atas, intinya
pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan
kehidupan yang sempurna dengan mengembangkan berfikir bebas dan mandiri serta
demokratis dengan cara memperhatikan kecenderungan peserta didik secara
individu yang menyangkut aspek kecerdasan akal, dan bakat dengan dititik
beratkan pada pengembangan ahlak. Pengertian pendidikan Islam tersebut berupaya
mengembangkan anak sesuai dengan akal dan bakat dengan bimbingan dan dengan
dorongan yang dititik beratkan pada pengembangan ahklak. Pendidikan Islam
disini telah banyak memberikan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan
tidak hanya terbatas pada pendidikan Islam saja, namun, menjadikan pendidikan
Islam ini berkembang di dunia pendidikan modern dewasa ini. Hal ini dikarenakan
pendidikan Islam menurut 'Athiyah memang merupakan disiplin ilmu yang memiliki
dasar dan tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Islam memang sangat ideal untuk dilaksanakan di dalam dunia
pendidikan. Lapangan dari pendidikan Islam telah menembus berbagai dimensi
kependidikan, baik bentuk, orientasi, sikap, maupun volume kurikulum yang
selalu dipengaruhi oleh pengaruh eksternal dan internal umat Islam, yang
dilancarkan untuk melakukan perubahan pandangan, pikiran dan tindakan umat
Islam dalam menghadapi kemajuan zaman dan tantangannya.
Pengaruh yang ditimbulkan dari pendidikan Islam ini sangat besar
sekali dalam kebangkitan di segala bidang pendidikan, yang sebelumnya dipetik
dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam agama dan budi pekerti dan diutamakan
pula segi kemanusiaan, sosial, dan kerjasama, seperti persaudaraan,
kemerdekaan, keadilan, dan kesempatan, yang sama, disamping kesatuan rohaniah
seluruh umat Islam. Pendidikan disini merupakan bimbingan dan pimpinan yang
secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Dalam ajaran Islam,
kepribadian yang utama adalah akhlak, dimana manusia memiliki akhlak yang utama
sebagai manusia yang sempurna (insan kamil) sesuai dengan al-Quran dan
al-Sunnah. Pendidikan ini merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkembang,
tidak statis karena berhubungan dengan kebutuhan manusia yang selalu mengikuti
perkembangan zaman. Ajaran Islam berisi ajaran tentang sikap dan tingkah laku
pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, sehingga
pendidikan Islam merupakan individu dan juga pendidikan masyarakat.
Metode pendidikan moral dalam Islam menurut Muhammad ‘Athiyah Al-
Abrasyi
Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Menurut Muhammad
‘Athiyah Al-Abrasyi metode merupakan jalan yang dilalui untuk memperoleh
pemahaman pada peserta didik, 'Athiyah mengatakan bahwasanya Metode pendidikan
Islam telah modern sejak semula. Hal ini terlihat dalam beberapa prinsip yang
mendasar seperti adanya unsur demokrasi, kebebasan, kemerdekaan, persamaan
dalam pendidikan, unsur pengamatan kepada bakat anak, kecenderungan, fitrah,
kecakapan, kemampuan, berkomunikasi dengan anak dengan penuh kasih sayang dan
pendidikan seumur hidup.
Mengenai kaidah-kaidah dasar dalam pendidikan Islam beliau
sependapat dengan alGhozali, di antaranya:
a. Tidak ada pembatasan usia anak mulai belajar.
b. Memberi kebebasan kepada peserta didik memilih disiplin ilmu
yang disukai sesuai bakatnya.
c. Cara mengajar anak yang belum baligh berbeda dengan metode
mengajar anak yang sudah baligh, pelajaran dimulai dari yang paling mudah.
d. Supaya pendidik tidak mengajarkan kepada anak didik dua disiplin
ilmu yang berbeda dalam satu waktu atau pada waktu yang sama, sebaiknya
masing-masing ilmu diajarkan secara khusus dalam waktu tertentu, diberikan oleh
pendidik yang menguasai ilmu itu sehingga peserta didik benar-benar
mamahaminya.
e. Ketika memperhatikan dan mengindahkan pada waktu menunjukkan
contoh dan alat peraga kepada anak sebaiknya dengan sesuatu yang mudah
ditangkap pancaindera dan perasaan mereka dan berangsur-angsur dapat dicerna
akal mereka.
Athiyah
mengklasifikasikan metode dalam pengajaran menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Metode Deduktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia remaja
2. Metode Induktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia anak-anak. Diapun
menyetujui lima langkah yang diterapkan para pendidik dalam memberikan
pelajaran dimulai dengan pendahuluan, berikut materi pelajaran, kemudian
hubungan pelajaran baru dengan pelajaran yang sudah diketahui, lalu hasil yang
didapat dan akhirnya latihan atau praktik.
Di dalam pendidikan Islam Al abrasy membaginya menjadi dua materi.
Diantaranya:
1. Materi untuk tingkat dasar (pendidikan dasar) meliputi; materi
Al-Qur`an, sendi-sendi agama, membaca, menulis, berhitung, bahasa, etika,
cerita, ketrampilan. sajak-sajak yang mengandung ajaran akhlak, menulis indah,
cerita-cerita dan latihan berenang serta berkuda
2. Untuk pendidikan lanjutan, pelajaran yang diberikan juga lebih
meningkat yaitu dengan memberikan perhatian secara khusus untuk mempersiapkan
mereka, dengan tugas-tugas yang kelak akan mereka pikul seperti pelajaran
muhadharah (berpidato), belajar sejarah (terutama sejarah peperangan), tata tertib
persidangan serta memperhatikan pula bahan pokok dasar seperti pada tingkat
pemula, Sedangkan untuk pendidikan tinggi pengajaran diarahkan kepada yang
lebih spesifik yaitu diberikan pelajaran eksakta dan sastra, namun tetap tidak
melupakan bahan pokok pada tingkat permulaan Dari sini Al abrasy memberikan
beberapa poin diantaranya:
a. Perhatian kaum muslimin terhadap studi keagamaan sangat besar
dibandingkan dengan bidang studi lainnya.
b. Menurut pendapat al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ihwanus Shafa, kesempurnaan
manusia (insan) ini tidak akan terwujud kecuali dengan penyerasian antara ilmu
agama dan ilmu- ilmu eksakta.
c. Kecenderungan kepada pelajaran-pelajaran sastra, ilmu keagamaan,
dan kemanusiaan, lebih besar terhadap ilmu- ilmu eksakta.
d. Kurikulum atau rencana pelajaran ilmu- ilmu eksakta dan sastra
pada tingkat tinggi, lebih bersifat penggalian terhadap ilmu eksakta dan
bersifat humanitas.
Sedangkan kaitannya
dengan pendidikan moral dan akhlaq,
didalam islam terdapat beberapa metode yang dilakukan, yaitu:
1 Pendidikan secara
langsung
Yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat,
menyebutkan manfaat dan bahaya-bahayanya sesuatu; di mana pada murid dijelaskan
hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak, menuntun kepada amal baik, mendorong
mereka berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela. Dan
kini Orang-orang Amerika di Amerika Serikat kini menggunakan cara-cara ini, dan
diantara kata-kata berhikmat, wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral
anak-anak, diantaranya sebagai berikut:
a. Sopan santun adalah warisan yang terbaik
b. Budi pekerti yang baik adalah teman yang sejati
c. Mencapai kata mufakat adalah pimpinan yang terbaik
d. Ijtihad adalah perdagangan yang menguntungkan
e. Akal adalah harta yang paling bermanfaat
f. Tidak ada bencana yang lebih besar dari kejahilan
g. Tidak ada kawan yang lebih buruk dari mengagungkan diri sendiri
2 Pendidikan akhlak secara
tidak langsung
Yaitu dengan jalan sugesti seperti mendiktekan sajak-sajak yang
mengandung hikmat kepada anak-anak, memberikan nasehat-nasehat dan
berita-berita berharga, mencegah mereka membaca sajak-sajak yang mengherankan
karena ahli-ahli pendidik dalam Islam yakin akan pengaruh kosong termasuk yang
menggugah soal-soal cinta dan pelaku-pelakunya. Tidaklah kata-kata berhikmat,
nasehat-nasehat dan kisah-kisah nyata itu dalam pendidikan akhlak anak-anak.
Karena kata-kata mutiara itu dapat dianggap sebagai sugesti dari luar. Di dalam
ilmu jiwa (psikologi) kita buktikan bahwa sajak-sajak itu sangat berpengaruh
dalam pendidikan anak-anak, mereka membenarkan apa yang didengarnya dan
mempercayai sekali apa yang mereka baca dalam buku-buku pelajarannya.
Sajak-sajak, kata-kata berhikmat dan wasiat-wasiat tentang budi pekerti itu
sangat berpengaruh terhadap mereka. Juga seorang guru dapat mensugestikan
kepada anak-anak beberapa contoh dari akhlak-akhlak yang mulia seperti berkata
benar, jujur dalam pekerjaan, adil dalam menimbang, begitu pula sifat
3. Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak
dalam rangka pendidikan akhlak.
Seperti contoh mereka memiliki kesenangan meniru ucapan-ucapan,
perbuatan-perbuatan, gerak-gerik orang-orang yang berhubungan erat dengan
mereka. Sifat meniru ini mempunyai pengaruh yang besar bukan saja dalam
pengajaran tetapi juga dalam pendidikan budi pekerti dan akal. Disamping itu,
ahli-ahli didik Islam mengetahui bahwa anak-anak mempunyai pembawaan suka
dipuji, suka menampang, maka mereka memuji perbuatan-perbuatannya atau
perkataan-perkataannya yang baik dan mendorong supaya hal itu diteruskan,
sehingga akhirnya si anak tadi mempertahankan kedudukannya tadi dan senantiasa
berusaha pula memperbaiki dirinya.
Melihat dari ketiga metode tersebut maka dapat di jelaskan secara
sederhana tahap- tahap yang harus ditempuh dalam proses pembelajaran pendidikan
akhlak (moral) kepada peserta didik yaitu:
1. Dengan keteladanan
2. Dengan memberikan tuntunan
3. Dengan kisah-kisah sejarah
4. Dengan memberikan dorongan dan menanamkan rasa takut (pada
Allah)
5. Dengan memupuk hati nurani
IQBAL
Biografi
Iqbal
dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab
Barat dan Kashmir) pada tanggal 22 Februari 1873/ 2 Dhulhijjah 1289 dan wafat
ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender Masehi, atau
63 tahun menurut kalender Hijri. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi
berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan
tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai
di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore.
Iqbal menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus
pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena
baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A
dalam bidang filsafat.
Ia lahir dari
kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah
mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad
Rafiq kakeknya. Dan Iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College di
Sialkot agar ia mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan teman ayahnya yang
ahli bahasa Persia dan Arab. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia
selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore
(salah satu kota di India yang menjadi pusat kebudayaan , pengetahuan, dan
seni) di tahun 1895 di Lahore inila dia bertemu dengan Sir Thomas Arnold, pada
tahun 1905 ia studi di Cambridge-Inggris, ia berguru pada R.A Nicholson, seorang
spesialis dalam sufisme, dan seorang Neo-Hegelian, yaitu John M.E. Mc Taggart,
dan terakhir di Munich-Jerman ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908 dengan
mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia
disertasi ini ia persembahkan kepada gurunya Sir Thomas Arnold. Sekembalinya
dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat
menjadi pengacara.
Pada tahun 1922
seorang wartawan Inggris mengusulkan kepada pemerintahnya untuk member gelar
Sir kepada Iqbal. Iqbal pun mendapat undangan penguasa Inggris untuk pertama
kalinya. Mula-mula ia menolak undangan itu, tetapi ata dorongan sahabatnya,
Mirza Jalaluddin, akhirnya ia memenuhi. Gelar Sir ia terima dengan syarat gurunya, Mir Hasan,
yang ahli tentang sastra Arab dan sastra Persia juga mendapat gelar Shams
al-Ulama. Sebetulnya gurunya gurunya itu tidak begitu terkenal dan patut diberi
gelar demikian, namun Iqbal tetap bersikeras dengan syarat yang ia ajukan.
Akhirnya syaratnya itu diterima oleh penguasa Inggris.
Saat-saat
Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada tahun 1935 istrinya meninggal
dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan membawa kesedihan yang
berlarut-larut kepada Iqbal. Dan berbagai penyakitpupun menimpa Iqbal sehingga
fisiknya semakin lemah. Sungguhpun demikian, pikiran dan semangat Iqbal tidak
pernah mengenal lelah. Ia tiada henti-hentinya mengubah sajak-sajak dan terus
menuliskan pemikiran-pemikirannya. Pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia
merasa ajalnya telah dekat, namun Iqbal masih menyempatkan diri berpesan kepada
sahabat-sahabatnya.
Kukatakan
kepadamu tanda seorang Mu’min
Bila maut
datang, akan merekah senyum di bibir.
Akhirnya
Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa
gagasan-gagasannya atau pemikirannya tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir
sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini
pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang
tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahla widan Sayyid Ahmad Khan. Keduanya
adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin
tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat
tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India
ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat
mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris dan bahkan pada tahun 1858
British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas
pemerintah imperium India.
Adapun
karya-karya Iqbal diantaranya adalah:
‘Ilm al-Iqtis
(1903), Devlopment of Metaphyiscs in Persia (1908), Islam as Moral and
Political Ideal (1909), Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri/ Rahasia Pribadi) ;
(1915), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri ) ; (1918),
Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur) ; (1923), Bang-i-dara (Genta Lonceng/ Seruan
dari Perjalanan) ; (1924), Self in the Light of Relativy Speeches and
Statements of Iqbal (1925), Zaboor-i-‘Ajam (Taman Rahasia Baru/ Kidung Persia)
; (1927), Khusal Khan Khattak (1928), A Plea Deeper Study of Muslim Scientist
(1929), Presidential Address to the All-India Muslim Leaque (1930), Javid
Nama(Kitab Keabadian) ; (1932), Lectures on the Reconstruction of Religius
Thought in Islam (1934), Letter of Iqbal to Jinnah (1934), Bal-i-Jibril (Sayap
Jibril) ;
(1935), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq
(Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?) ; (1936), Musafir Nama/
Mathnawi Musafir (1936), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa) ; (1936), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz) ;
(1938), dan A Contibution to the History of Muslim Philosopy.
Filsafat Iqbal
Menurut Dr.
Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbalyang ditulis oleh Dr.
Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu
intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India
bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa
mengkaji ide-idenya secara mendalam.
Namun dalam
tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh
masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas,
justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak
sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan
hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi,
diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India
pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik
sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut
sebagaiTokoh Multidimensional.
Dengan latar
belakang yang cukup unik di atas penulis dalam makalah ini akan memaparkan
gagasan-gagasan Iqbal yang berkaitan dengan pemikiran filsafatnya sub bahasan
eksistensialisme dalam tiga hal yaitu: Ego dan Khudi, Ketuhanan, Insan Kamil
Ego dan Khudi
Khudi dalam
bahasa Parsi berarti pribadi.[15] Yaitu pribadi-pribadi yang sempurna.
Sedangkan yang dimaksud Iqbal di sini adalah usaha menjadikan diri Individu
yang selalu di liputi sifat-sifat Tuhan yang sempurna. Ini terlihat ketika
Iqbal melukiskan kejayaan pribadi dan jalan hidup nabi Muhammad. Yang mana
dalam tafsir sajaknya bahwa untuk perkembangan sewajarnya dari setiap muslim
dirindukannya suatui masyarakat menurutr acuan Islam, dan setiap muslim yang
berusaha akan menjadikan dirinya Individu yang sempurna turut membina kerajaan
Islam dibumi ini.
Syarat-syarat
untuk masyarakat Islam itu dilukiskan Iqbal dalam kumpulan syairnya yang kedua,
yakni: Rumuz -i-bekhudi, yang diterbitkan sesudah Asrar –i-khudi. Dalam buku
kumpulan syair Rumuz –i-bekhudi itu Iqbal melukiskan bahwa orang yang dapat
menafikan dirinya sendiri dalam masyarakat, membayangkan yang silam dan yang
akan datang sebagai suatu satuan di dalam cermin, dapatlah dia mengatasi sang
ajal dan masuk kedalam hidup ke Islaman yang bersifat abadi dan tidak terbatas.
Diantara acara-acara terpenting yang abadi dan tak terbatas. Diantara
acara-acara terpenting yang didendangkan Iqbal ialah: asal-usul masyarakat,
pemimpinan Tuhan pada manusia dengan perantaraan para nabi. Pembentukan pusat
–pusat hidup kolektif dan nilai sejarah sebagai faktor penting untuk menetapkan
tanda tersendiri dalam sesuatu bangsa.
Khudi yakni ego
yang hendak menangkap Ego yang besar oleh kian membulatnya dirinya sendiri.
Pribadi bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi
dinamisme pribadi. Pribadi atau khudi itu ialah action ialah hidup dan hidup
ialah pribadi.
Tuhan
menjelmakan sifat-sifatnya bukanlah di alam ini dengan sempurna tetapi pada
para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan sifat-sifatNya dalam
diri, yang sebenarnya sesuai dengan hadist rasullah s.a.w: Takhallaqu bi
akhlaqi’llah, tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah. Jadi mencari Tuhan
bukanlah dengan jalan merendah-rendahkan diri atau meminta-minta, tetapi dengan
himmah tenaga yang berkobar-kobar mejelmakan sifat-sifat uluhiyyah (ketuhanan)
dalam diri kita dan kepada masyarakat ramai. Tegasnya mendekati Tuhan ialah
menyempurnakan diri pribadi insan, memperkuat iradah atau kemauannya.
Maka menurut
Iqbal pribadi sejati adalah bukan yang menguasai alam benda tetapi pribadi yang
dilingkupi Tuhan kedalam khuduinya sendiri. Maka sifat dan pikiran pribadi atau
khudi ialah:
Tidak terikat
oleh ruang sebagaimana halnya dengan tubuh.
Hanyalah
lanjutan masa mengenai kepribadian
Kepribadian
pada asasnya tersendiri dan Unik.
Sedangkan cita
tentang pribadi itu memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya,
diselesaikannya soal buruk dan baik. Hal-hal yang memperkuat pribadi bagi Iqbal
Ialah:
‘Isyq-o-muhabbat,
yakni cinta kasih.
Faqr yang
artinya sikap tak peduli terhadap apa yang disediakan oleh dunia ini, sebab
bercita-cita yang lebih agung lagi.
Keberanian
Sikap tenggang
rasa (tolerance)
Kasb-i-halal
yang sebaik-baiknya terjalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang sah.
Mengerjakan
kerja kreatif dan asli.
Ketuhanan
Filsafat Iqbal
tentang tuhan dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam
pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal
tersebut mengenai konsepsi Tuhan. Fase pertama berlangsung mulai dari tahun
1901M hingga kira-kira tahun 1908M, pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai
mistikus-panteistik. Hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik yang
berkembang di wilayah Persia, lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti Ibnu
‘arabi. Puncak kekagumannya itu tergambar dalam disertasi doktornya,
berjudulDevelopment of Metaphysics in Persia: a Constribution to the History of
Muslim Philosophy. Pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai suatu Keindahan
yang abadi, keberadaan-Nya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului segala
sesuatu bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Ia menyatakan dirinya di
langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, pada kerlap kerlip bintang
–bintang dan jatuhnya embun di tanah dan di laut, di api dan nyalanya, di
batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, di wewangian dan
nyanyian, di semua tempat dan keadaan.
Demikianlah,
Tuhan sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan
pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas dan
kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan
ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi dan ideal segala
sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan
individu adalah seperti halnya setetes air. Demikianlah, Tuhan adalah seperti
matahari dan individu adalah seperti lilin, dan nyala lilin hilang di tengah
cahaya. Seperti balon atau bunga api, kehidupan ini bersifat sementara tidak
hanya itu bahkan keseluruhan wujud atau eksistensi adalah suatu yang fana.
Secara umum
telah dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan pada fase pertama seperti
termuat diatas. Pemikiran seperti itu tidak sulit dicari sumbernya, pada
dasarnya pemikiran seperti itu bersifat platonis. Plato juga menganggap Tuhan
sebagai Keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang medahului segala
sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk. Plato juga
menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan cinta dari
pengertian seks dan memberinya makna universal, konsep platonis ini sebagaimana
yang diungkapkan oleh Platonis diambil alih oleh kaum skolastik Muslim awal dan
dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para mistiukus patheistis, menurut Iqbal suatu tradisi lama dalam puisi,
parsi dan urdu ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis Inggris.
Sehingga dapat dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini
tidak asli. Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima
sebagai warisan sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan
ini sebagai bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.
Masa kedua
perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun 1908-1920 M. kunci untuk
memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah perbedaan yang ia tarik
antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu, disatu pihak dan cinta
kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana telah dicatat bahwa Iqbal menyebut
keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan efisien serta kausalitas akhir dari
segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi pada masa kedua, sikap ini
mengalami perubahan.
Pertama, suatu
kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam pesimisme yang menyelinap ke
dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan dan efisiensinya serta
kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh konsep tentang
pribadi(self) yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat, upaya, aspirasi,
usaha ,keputusan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu,
melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi adalah aksi
yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan, halangan
dan rintangan. Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi karena
itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dengan pedang.
Yang disebut
dengan dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang menggairahkan termasuk
ruang dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia perasaan, ide-ide dan
ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti fichte dan ward, Iqbal
menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari dirinya sendiri sesuatu yang
bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri. Dunia yang terindera adalah ciptaan
pribadi. Karena itu segala keindahan alam merupakan bentukan hasrat-hasrat kita
sendiri. Hasrat menciptakan mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.
Tuhan sang
hahekat terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi. Ia tidak lagi dianggap
sebagai keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai kemauan abadi dan keindahan
disusutkan menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi sebutan yangs ekarang mencakup
nilai-nilai estetisdan nilai-nilai moral sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada
tahap ini keesaan tampak menunjukkan nilai pragmatis yang tinggi karena ia
memberi kesatuan tujuan dan kekuatan pada individu, bangsa-bangsa dan manusia
sebagai keseluruhan kekuatan yang mengikat, menciptakan hasrat yang tak kunjung
padam, harapan dan aspirasi dan menghilangkan semua rasa gentar dan takut
kepada yang bukan Tuhan.
Tuhan
menyatakan dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan dalam pribadi
terbatas, dan karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya akandimungkinkan
lewat pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat kondisional terhadap
pencarian diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa diperoleh dengan
meminta-minta dan memohon semata-mata karena hal seperti itu menunjukkan
kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus konsisten
dengan kekuatan dan kemauan sendiri. Ia harus menangkap Dia dengan cara sama
seperti seorang pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga menginginkan
diriNya tertangkap. Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia. Dengan menemukan
Tuhan seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan
menjadi tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya,
menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak terbatas.
Dengan menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh
menjadi super ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.[26]Singkat kata pada fase ini
Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari keindahan dan efisiensinya,
serta kausalitasnya akhirnya. Sebaliknya tumbuh keyakinan akan keabadian cinta,
hasrat, dan upaya atau gerak. Kondisi ini tergambar dalam karyanya, Haqiqat-i
Husna (Hakikat Keindahan). Pada tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang
dijadikannya sebagai pembimbing rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi
dianggap sebagai Keindahan Luar, tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara
keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di samping ke Esaan Tuhan. Karena itu,
Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan (the ultimate
spiritual basis of all life). Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang
terindera, tetapi dalam pribadi terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri
kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang
tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada.
Sebaliknya, manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak
mungkin sifat-sifatNya, dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap
Tuhan ke dalam diri, tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik
ke tingkat wakil Tuhan.
Masa ketiga
perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak tahun 1920 hingga tahun
1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap sebagai masa
kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan unsur-unsur dari
sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang menyeluruh.
Menurutnya Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan hakikat sebagai
suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian suatu Individu
dan suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia, Dia adalah suatu
prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain
yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan
konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita. Karena ujian yang
paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada
panggilan pribadi yang lain. Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi
segalanya, dan tidak ada sesuatu pun diluar Dia.
Ego mutlak
tidaklah statis seperti alam semesta sebagaimana dalam pandangan Aristoteles.
Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga hidup dan karena tidak ada
sesuatu pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka sepenuhnya Dia merupakan
jiwa kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas. Tetapi sifat tidak
terbatasNya bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak terbatasan ruang
tidak bersifat mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat intensif bukan ekstensif
dan mengandung kemungkinan aktivitas kreatif yang tidak terbatas. Tenaga hidup
yang bebas dengan kemungkinan tak terbatas mempunyai arti bahwa Dia Maha
Kuasa.Dengan demikian Ego terakhir adalah tenaga yang maha kuasa, gerak kedepan
yang merdeka,suatu gerak kreatif.
Insan Kamil
Manusia adalah
misteri terbesar yang diciptakan Tuhan di dunia, padanya Tuhan tidak hanya
membentuk sesuai dengan citra-Nya, akan tetapi sudah menjadi kehendak-Nya bahwa
manusia akan menjadi mitra kerja-Nya di dunia. Pengertian manusia adalah
pemahaman secara menyeluruh menyangkut aspek ruhani dan jasmani serta tidak
dapat dipisah-pisah antara satu dan lainnya, karena keduanya bersama-sama ada
dan merupakan suatu keutuhan dan keseluruhan baru, yang merupakan diri yang
selalu hidup, serba lain dari pada hidup raga saja atau jiwa saja dalam dirinya
sendiri, dan penyatuan antara keduanya merupakan kekuasaan Tuhan. Allah, dalam
al-Qur’an secara sederhana menggambarkan keunikan serta kelebihan manusia
daripada ciptaan Tuhan yang lain. Hubungan antara pikiran dan tindakan yang
membentuk kesatuan kesadaran manusia yang menjadi pusat kepribadiannya
merupakan ciri khas individualitas manusia. Hal inilah yang menjadi ukuran
kesempurnaan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.
Dalam sejarah
pemikiran, baik dalam kajian filsafat manusia maupun tasawuf manusia merupakan
kajian yang selalu menarik untuk di kaji, dari hal ini kajian manusia ideal
dalam pandangan Iqbal merupakan hal yang tidak dapat di hindari dalam memandang
manusia baik dari perspektif filsafat, tasawuf, dan agama. Manusia ideal dalam
pandangan Iqbal merupakan manusia yang mempunyai kesucian ruhani yang mampu
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya (ego kecil), sehingga dengan
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, di harapkan mampu mengantarkan
dirinya pada kualitas manusia sempurna (insan kamil). Disamping itu pula
manusia harus mampu mewujudkan dan mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam
kehidupannya. Di sinilah Iqbal memandang manusia ideal merupakan puncak dari
segala kehidupan yang di inginkan oleh Tuhan. Dengan mengemban sebuah amanah
sehingga pantas manusia mendapatkan gelar sebagai khalifah Allah di bumi.
Manusia sebagai
individualitas yang unik yang memungkinkan seseorang untuk memikul beban orang
lain, dan menamainya hanya berkenaan dengan apa yang telah diusahakan, karena
Qur’an diarahkan untuk menolak ide tentang penebusan. Apapun pandangan kita
tentang diri perasaan, identitas diri, jiwa, kemauan hanya dapat diuji dengan
peraturan-peraturan pikiran yang di dalam cirinya bersifat hubungan, dan “semua
hubungan melibatkan pertentangan”.
Dengan mudah
kita dapat mengakui bahwa ego, dalam keterbatasannya, tidak sempurna sebagai
kesatuan kehidupan. Ego mengungkap ego itu sendiri sebagai kesatuan dari apa
yang kita namakan keadan mental. Keadaan mental tidak berada dalam tempat yang
saling terpisah. Keadaan-keadaan mental saling berarti dan saling berkaitan,
atau katakanlah peristiwa-peristiwa merupakan jenis kesatuan yang khusus.
Secara mendasar hal ini berbeda dengan kesatuan material; karena kesatuan
material dapat berada pada tempat yang saling terpisah. Kesatuan mental
benar-benar unik. Kita tidak dapat mengatakan bahwa salah satu kepercayaan
diletakkan di sebelah kanan atau sebelah kiri kepercayaan saya yang lain. Oleh
karena itu ego tidak terbatas pada ruang, sedang tubuh terbatas oleh ruang.
Peristiwa fisik dan mental berada dalam waktu, tetapi waktu ego secara mendasar
berbeda dengan waktu peristiwa fisik. Durasi waktu fisik dibentangkan dalam
ruang sebagai fakta sekarang; durasi ego dikonsentrasikan di dalamnya dan
dicakup dengan masa sekarang dan masa depannya dengan cara yang unik.
Ciri penting
yang lain dari kesatuan ego merupakan privasinya yang mendasar yang mengungkap
keunikan setiap ego. Untuk mencapai kesimpulan yang pasti, semua premis
silogisme harus diyakini oleh seseorang dan akal yang sama. Jika saya percaya
kata-kata “ semua laki-laki adalah makhluk hidup” dan akal yang lain percaya
kata-kata “Socrates adalah seorang laki-laki”, tidak ada kesimpulan yang
mungkin. Hanya memungkinkan jika saya percaya kedua dalil tesebut. Lagi, hasrat
saya terhadap sesuatu yang pasti pada dasarnya milik saya.
Bentuk lain
pembuatan manusia sebelumnya “ mengembangkan dasar organisme fisik – kumpulan
sub ego yang lebih mendalam yang bertindak dalam diri saya, dan membiarkan saya
untuk membangun kesatuan pengalaman yang sistematis. Sesuatu yang lain di luar
saya dikira memiliki sifat-sifat tertentu yang dinamakan dasar, mengacu pada sensasi tertentu dalam
diri saya, dan saya membenarkan kepercayaan saya tentang sifat-sifat tersebut
dengan dasar penyebab harus memiliki kemiripan dengan pengaruhnya. Tetapi tidak
perlu ada kemiripan antara sebab dan pengaruhnya.
Manusia punya
aspek ruang tetapi ini bukan aspek manusia saja. Ada aspek alain selain aspek
manusia, yaitu penilaian, karakter kesatuan dari pengalaman yang bertujuan, dan
pencarian kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dari studinya, serta
pengertian yang memerlukan kategori-kategori lain yang disiratkan oleh ilmu
pengetahuan.
Manusia Asamu
hidupku! Seluruh kehidupanmu, seperti jam waktu, akan selalu baru, dan akan
terus berlalu. Di dalam lingkaran ini, engkau hanyalah sebutir pasir, akan
terus bersinar tanpa kesudahan!”
AL-‘ATTAS
BIOGRAFI
Nama lengkap Syed Muhammad Naquib
Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin
Muhammad al-Attas. Beliau lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september
1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan
pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama
Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan
Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya
berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf
yangterkenal dari kalangan sayid.
Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed
Muhammad Naquib Al-Attas, dimulai sejak ia masih berusia 5 tahun. Ketika ia
berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya
Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun
1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada
zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan
bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun
1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama
saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan
Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua
umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit
Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949.
Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang
berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun
1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan
mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program
pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph.
D
PEMIKIRANNYA
TENTANG PENDIDIKAN
1. Pengertian
Pendidikan Islam
Ada beberapa istilah yang dipakai
untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang pengistilahan itu
diambil dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an) maupun al-sunnah. Misalnya dijumpai
kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib bahkan ada yang disebut riyadlah. Namun dalam
pembahasan berikut ini akan disajikan konsep pendidikan Islam versi Naquib
al-Attas. Pemaparan konsep pendidikan Islam dalam pandangan al-Attas lebih
cenderung menggunakan istilah (lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya.
Pemilihan istilah ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas
dengan menganalisis dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan
pesan-pesan moralnya.
Sekalipun istilah tarbiyah dan
ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah
konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya
(Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas,
merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata “addaba“ yang berarti memberi
adab, atau mendidik.
Dari sini dapat dipahami bahwa yang
dimaksudkan dengan Ta'dib dalam terminologi al-Attas adalah peresapan dan
penanaman adab pada diri manusia(serdik) dalam proses pendidikan. Disamping itu
adab merupakan suatu muatan atau kandungan yang semestinya ditanamkan dalam
proses pendidikan Islam. Mengenai adab dalam konteks ini, al-Attas
mendefinisikan sebagai berikut:
“Adab berarti
pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat
teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat mereka dan
tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta
dengan kapasitas dan potensi jasmaniah,intelektual serta ruhaniah seseorang”.
Dalam pandangan al-Attas, dengan
menggunakan term di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses
internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial
yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan
adab. Seperti yang diungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses
mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai
pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ (Ismail SM, dalam
Abdul Kholiq, dkk., 1999: 275).
Al-Attas melihat bahwa adab
merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan
dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan
Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah
mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling
baik”. (HR. Ibn Hibban).
Sesuai dengan ungkapan hadits di
atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri
manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat
kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana
penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis
dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara
ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan
memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang
teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana
manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring Konsep
Pendidikan menurut Naquib al-Attas.
Al-Attas membantah istilah
tarbiyah, sebagaimana yang digunakan oleh beberapa pakar paedagogis dalam
konsep pendidikan Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan
pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu
masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun
ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur
pendidikan yang bersifat fisik dan material. Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan
bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna
substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang
(rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada
aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep
ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan,
pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi
al-Attas tidak perlu dipakai.
Dari sini dapat dipahami bahwa
menurut al-Attas, hakikat pendidikan Islam adalah Ta'dib, karena istilah
tersebut sudah termasuk tarbiyah atau ta'lim, karena menurutnya ta'dib sudah
mencakup unsur-unsur pengetahuan(llm), pengajaran(ta'lim), dan pengasuhan yang
baik (tarbiyah). Selanjutnya menurut al-Attas jika konsep ta'dib ini tidak
diterapkan maka akan muncul akibat-akibat yang serius diantaranya:
pertama,kebingungan
dan kesalahan dalam pengetahuan, yang pada gilirannya menciptakan kondisi:
kedua,
hilangnya adab di dalam umat. Kondisi yang timbul akibat 1 dan 2 adalah:
ketiga,
Bangkitnya pemimpim-pemimpin yaang tidak memenuhi syarat-syarat kepemimpinan
yang absah dalam umat Islam, yang tidak memiliki standar moral, intelektual dan
spiritual yang tinggi yang dibutuhkan bagi kepemimpinan.
Menurut al-Attas, pendidikan dalam arti
Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusa, lebih lanjut ia mengatakan:
“Mengingat makna pengetahuan dan pendidikan hanya berkenaan dengan manusia
saja, dan sebagai terusannya dengan masyarakat pula, maka pengenalan dan
pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan
penciptaan mesti paling utama diterapkan pada pengenalan dan pengakuan manusia
itu sendiri tentang tempatnya yang tepat, yaitu kedudukannya dan kondisinya
dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarganya, kelompoknya atau
komunitasnya dan masyarakatnya serta kepada disiplin pribadinya, di dalam
mengaktualisasikan dalam dirinya pengenalan dengan pengakuan”.
2. Tujuan
Pendidikan Islam
Menurut pemikiran Naquib al-Attas
yang beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan
dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir
pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan
materiil dan spiritualnya. Di samping
tujuan pendidikan Islam yang menitikberatkan pada pembentukan aspek pribadi
individu, juga mengharapkan pembentukan masyarakat yang ideal tidak terabaikan.
Seperti dalam ucapannya, “Karena masyarakat terdiri dari perseorangan maka
membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik
berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik” (Al-Attas, 1991:23).
Secara ideal, al-Attas menghendaki
pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan
al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai
Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka
bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan
dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang
menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.
Dari diskripsi diatas bisa dipahami
bahwa dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam
dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam
wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw.
Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas
dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan
masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian
masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat kumpulan dari
individu-individu.
3. Sistem
Pendidikan Islam
Sebagaimana yang tertuang dalam
tujuan pendidikan Islam di atas, bahwa al-Attas mendeskripsikan tujuan tersebut
adalah mewujudkan manusia sempurna, insan kamil. Dengan begitu, berarti sistem
pendidikan Islam harus memahami seperangkat bagian-bagian yang terkait satu
sama lain dalam sistem pendidikan. Maksudnya pendidikan Islam harus
mencerminkan aspek manusia itu sendiri, bukannya negara. Perwujudan paling
tinggi dan sempurna dari sistem pendidikan adalah Universitas. Menurut
al-Attas, Universitas Islam yang dirancang untuk mencerminkan yang universal,
harus pula merupakan pencerminan manusia itu sendiri.
Al-Attas berpandangan bahwa seperti
manusia yang terdiri dari dua unsur, jasmani dan ruhani, maka ilmu juga terbagi
dua katagori, yaitu ilmu pemberian Allah (melalui wahyu ilahi), dan ilmu
capaian (yang diperoleh melalui usaha pengamatan, pengalaman dan riset
manusia). Al-Attas membuat skema yang menjelaskan kedudukan manusia dan
sekaligus pengetahuan. Bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan menurut dia, adalah
berian Allah (God Given) dengan mengacu pada fakultas dan indra ruhaniayah
manusia. Sedangkan ilmu capaian mengacu pada tingkatan dan indra jasmaniyah.
Menurut al-Attas, bahwa akal
merupakan mata rantai yang menghubungkan antara yang jasmani dan yang ruhani,
karena akal pada hakikatnya adalah substansi ruhaniyah yang menjadikan manusia
bisa memahami hakikat dan kebenaran ruhaniyah. Dengan kata lain, dia mengatakan
bahwa ilmu-ilmu agama merupakan kewajiban individu yang menjadi pusat jantung
diri manusia.
Jadi, dalam sistem pendidikan Islam
ada tiga tahap atau tingkat (rendah, menengah, dan tinggi ) ilmu fardlu ain
harus diajarkan tidak hanya pada tingkat rendah, melainkan juga pada tingkat
menengah dan tingkat universitas. Karena universitas menurut al-Attas merupakan
cerminan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus di
dahulukan. Seperti yang dijelaskan al-Attas (1991: 41) ruang lingkup dan
kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan
ke dalam tahapan-tahapan yang lebih sedikit secara berurutan ketingkat yang
lebih rendah mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistematisasi
yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus didahulukan.
Merujuk hal tersebut bisa dipahami
bahwa pembenahan dan rekonstruksi terhadap Universitas merupakan sesuatu yang
pertama yang harus dilakukan sebab, ia akan menjadi model bagi level-level
dibawahnya. Bila tidak demikian, artinya jika usaha perumusan ruang lungkup dan
kandungan dimulai dari tingkat yang paling rendah dikhawatirkan tidak akan
berhasil lantaran tidak adanya model yang lengkap yang bertindak sebagai
kriteria bagi perumusan ruang lingkup dan kandungan tersebut.
Al-Attas mengklasifikaskan ilmu
menjadi dua macam, yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu rasional, intelektual
dan filosofis. Yang termasuk ilmu-ilmu agama misalnya: al-Qur’an; (pembacaan
dan penafsirannya). Al-Sunnah; (kehidupan Nabi, sejarah dan pesan para rasul
sebelumnya, hadits dan riwayat-riwayat otoritasnya). Al-Syari’ah;
(Undang-undang das hukum, prinsip-prinsip dan praktek-praktek Islam; Islam,
iman ihsan). Teologi (Tuhan, esensi-Nya, sifat-sifat dan nama-nama-Nya, serta
tindakan-tindakan-Nya). Tasawuf (Pikologi, kosmologi, dan antologi), dan ilmu
bahasa atau Linguistik (bahasa Arab, tata bahasa, leksikografi dan
kesusatraan).
Sedangkan yang termasuk ilmu
rasional dan sejenisnya adalah ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam, dan
ilmu-ilmu terapan. Menururt al-Attas, bagian yang termasuk ilmu kemanusian
seharusnya ditambah dengan pengetahuan Islam. Karena semua disiplin ilmu harus
bertolak kepada Islam. Karena itu ia menganjurkan agar pengetahuan tersebut
ditambahkan disiplin-disiplin baru yang berkaitan dengan hal berikut ini:
1. Perbandingan
agama dari sudut Islam
2. Kebudayaan
dan peradaban Barat, khususnya kebudayaan dan peradaban yang selama ini dan di
masa datang berbenturan dengan Islam.
3. Ilmu-ilmu
linguistik; bahasa-bahasa Islam, tata bahasa, dan literatur.
4.Sejarah
Islam; pemikiran kebudayaan dan peradaban Islam, perkembangan ilmu-ilmu sejarah
Islam, filsafat-filsafat sains Islam, Islam sebagai sejarah dunia (al-Attas,
1990:91).
Dari diskripsi
diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sesuai dengan pandangan al-Attas
tentang ilmu, ia melihat bahwa Universitas Islam tidak dapat mencontoh begitu
saja pada Universitas Barat yang senantiasa memisahkan ilmu pengetahuan dan
nilai dalam dua bidang yang dipisahkan oleh ruang hampa. Universitas Islam
mesti mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai demi terwujudnya manusia
ideal, yaitu manusia beradab.
AKTUALISASI
KONSEP AL-ATTAS DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER
1. Corak
Pemikiran Pendidikan
Apabila ditelaah dengan cermat,
format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas sebagaimana telah
dideskripsikan, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan
Islam sebagai suatu pendidikan terpadu.
Hal tersebut dapat secara jelas
dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni terwujudnya manusia
yang 'baik', yaitu manusia yang universal(Al-Insan Al-Kamil). Insan kamil yang
dimaksud adalah manusia yang bercirikan: Pertama; manusia yang seimbang,
memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian; a). dimensi isoterikvertikal yang
intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan b). dimensi eksoterik, dialektikal,
horizontal, yaitu membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya.
Kedua; manusia seimbang dalam kualitas pikir, dzikir dan amalnya (Achmadi,
1992: 130). Maka untuk menghasilkan manusia seimbang yang bercirikan tersebut
merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih
dahulu paradigma pendidikan yang terpadu.
Dari deskripsi di atas, dapat
ketahui bahwa orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan
yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan
keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib
(adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan
bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat
proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di
masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda
dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi
pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
Hal itu merupakan indikator bahwa
pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu
kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan
aspek kognitif (sensual–logis) dan psikomotorik (sensual-empiris). Hal ini
relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan
moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek
transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan
psikomotorik. Domain Iman diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran
Islam tidak hanya menyangkut hal-hal yang rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal
yang supra rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali
didasari dengan iman, yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Domain Iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai
hidup peserta didik, dan dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal
yang dilakukan.
2. Kondisi
obyektif pendidikan Islam dewasa ini
Untuk memotret bagaimana kondisi
dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan
penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan
bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun
statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi ia
sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan
Islam yang dicita-citakan.
Prof. Dr. Isma’il Raji Al-Faruqi
dalam karya monumentalnya islamization of knowlegde: general principles and
workplan mensinyalir bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan,
berada di bawah anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Al-Faruqi meyakini bahwa
kondisi umat islam yang memprihatinkan ini, disebabkan oleh sistem pendidikan
yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan Barat, baik materi maupun
metodologinya (AL-Faruqi, 1984:17).
Tidak bisa dipungkiri, bahwa
masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam arus perubahan yang
sangat dahsyat seiring datangnya era globalisasi dan informasi. Sebagai
masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah berusaha menghindari
pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya modernisasi yang diwujudkan
melalui pembangunan berbagai sektor termasuk pendidikan, intervensi dan
westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan dengan itu Fazlur Rahman
Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam
saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang
sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam.
Khursyid
Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang
ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu: Pertama,
pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan
pelajar. Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati
dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran,
tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat
terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu
dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan
manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar. (Achmad,
1992:22-23).
Sementara Al-Attas melihat bahwa
universitas modern (baca:Barat) tidak mangakui eksistensi jiwa atau semangat
yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada fungsi administratif pemeliharaan
pembangunan fisik.
Dari berbagai pemaparan di atas
Dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah
terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikna Barat. Dimana paradigma
pendidikan Barat tersebut secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan
pengejaran pengetahuan yang menitik beratkan pada segi teknik empiris,
sebaliknya tidak mengakui eksistensi jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas
serta jauh dari landasan spiritual.
3. Menuju
paradigma pendidikan Islam
Melihat kondisi pendidikan dewasa
ini sebagaimana telah dideskripsikan, maka peniruan terhadap konsepsi
pendidikan Barat harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan dengan cita-cita
pendidikan Islam. Sebaliknya merupakan suatu keniscayaan untuk mencari
paradigma pendidikan yang paling sesuai dengan cita-cita islam.
Dalam wacana ilmiah, setidaknya
dapat dikemukakakan beberapa alasan mendasar tentang pentingnya realisasi
paradigma pendidikan Islam. Pertama, Islam sebagai wahyu Allah yang meruapakan
pedoman hidup manusia untuk mencapia kesejahteraan di dunia dan akherat, baru
bisa dipahami, diyakini, dihayati dan diamalkan setelah melalui pendidikan.
Disamping itu secara fungsional Nabi Muhammad, sendiri di utus oleh Allah
sebagai pendidikan utama manusia. Kedua, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora
juga termasuk ilmu normatif, sebab ia terikat dengan norma-norma tertentu.
Disini nilai-nilai Islam sangat memadai untuk dijadikan sentral norma dalam
ilmu pendidikan itu.
Ketiga, dalam memecahkan dan
menganalisa berbagai masalah pendidikan selama ini cenderung mengambil sikap
seakan-akan semua permasalahn pendidikan, baik makro maupun mikro diyakini
dapat diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat, padahal
yang disebut terakhir tadi bersifat sekuler. Oleh karena itu, nilai-nilai ideal
Islam mestinya akan lebih sesuai untuk menganalisa secara kritis fenomena
kependidikan (Lihat Achmadi, 1992: viii-ix).
4. Aktualisasi
konsep Al-Attas dalam pendidikan Islam masa kini
Berdasarkan pada fenomena dan
kondisi obyektif dunia pendidikan masa kini pada umumnya dan pendidikan Islam
pada khususnya, maka pemikiran pendidikan Islam yang terformula dalam konsep
ta’dib yang ditawarkan Al-Attas, sungguh memilki relevansi dan signifikansi
yang tinggi serta layak dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk
diaktualisasikan dan di implementasikan dalam dunia pendidikan Islam. Karena
pada dasarnya ia merupakan konsep pendidikan yang hendak mengintegrasikan
dikhotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan-equilibrium, bercorak moral
dan religius. Secara ilmiah Al-Attas telah mengemukakan proposisi-proposisinya
sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang sangat jelas. Sehingga bukanlah
suatu hal yang naif bahwa statement Al-Attas ini merupakan sebuah jihad
intelektual dalam menemukan paradigma pendidikan Islam. Bila dicobakan untuk
berdialog dengan filsafat ilmu, apa yang diformulasikan oleh Al-Attas dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik dari dataran ontologis, epistemologis
maupun aksiologis.
Filsafat Pendidikan
Islam
Pengertian
Secara
harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata
Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta
cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani
mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap
hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan
menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa
filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab
dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu
terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab
falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta,
suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi,
Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau
lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara
itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami
perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal
sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa
kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau
semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian
filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau
kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari
segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau
pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya
bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim
digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai
rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa
pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Berdasarkan
rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan,
yaitu: (1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan
yang dilakukan secara sadar; (2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong; (3)
Ada yang di didik atau si terdidik; dan (4) Adanya dasar dan tujuan dalam
bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai
suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif
dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan
sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi
pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya
mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan
diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan
hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk
mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat
tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai
sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti
ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan
pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di
akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi
Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life
education ).
Dari
uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya
bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi
di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini
ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini
di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan
orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan,
serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar
pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman
Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah
kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami
menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami.
Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar
( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min
yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat
kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya,
serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh
kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari pengertian
di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
Bahwa
al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan
hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang
diridloi Allah SWT.
Menurut
Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk
mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam
bentuk pendidikan Islam.
Al
Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi
petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya
agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan
Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan
berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya
sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan
dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk
mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya
kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam
pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya
dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah
pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan
penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit,
dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern
dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para
ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan
memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu
pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan
hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang
sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang
melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung
unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi
itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa
hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan,
hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan
sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati
sebelumnya.
Sedangkan
para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang
tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya
gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada
satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau
dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat
dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka
terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan
menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai
ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan
Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan
dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka
sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan
islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan
kemajuan.Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber
ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia
:
Menyadarkan
secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta
tanggung jawab dalam kehidupannya.
Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya
dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya. Menyadarkan
manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Menyadarkan
manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami
hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada
manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah
mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam
itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat
dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai
sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai
sumber sekunder.
Dengan
demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah
filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang
dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas,
tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan
mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam
telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya
beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian
tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau
filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang
kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa
mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang
mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan,
ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan
menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini
memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah
yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan,
masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Prof. Mohammad
Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5
tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al
Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :
1.
Untuk membantu pembentukan akhlak
yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan
Islam.
2.
Persiapan untuk kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi
keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh
perhatian kepada keduanya sekaligus.
3.
Menumbuhkan ruh ilmiah pada
pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu
bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra,
kesenian, dalam berbagai jenisnya.
4.
Menyiapkan pelajar dari segi
profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu,
teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam
hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5.
Persiapan untuk mencari rezeki dan
pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat
agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada
segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak
lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagai suatu
metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal
sebagai berikut :
Pertama,
bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal
ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai
pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di
ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.
Kedua, metode
pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat
dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing
prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam
menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an
semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad
Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
Ketiga, metode
pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode
analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis
terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
Keempat,
pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula
dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan
ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori
keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula.
Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam
analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk
menjelaskan suatu fenomena.
Pandangan Islam Dalam
Masyarakat
Masyarakat secara sederhana didefinisikan sebagai kumpulan individu
atau kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama. Di
dalamnya termasuk segala jalinan hubungan yang timbal balik yang berangkat atas kepentingan bersama, adat
kebiasaan, pola-pola, teknik-teknik, sistem hidup, undang-undang, institusi dan
segala segi fenomena yang dirangkum oleh masyarakat dalam pengertian luas dan
baru.
Dari berbagai definisi tentang masyarakat dapat diambil beberapa
unsur yang ada dalam suatu masyarakat, yaitu: (1) Hidup bersama dua orang atau
lebih, (2) Hidup bergaul dan bercampur cukup lama, (3) Hidup dalam suatu
kesatuan yang utuh, (4) Mereka sadar bahwa sistem kehidupan bersama menimbulkan
sebuah kebudayaan tersendiri, sehingga mereka merasa adanya ketertarikan di
antara mereka, (5) Adanya aturan yang jelas dan disepakati bersama.
Adapun masyarakat menurut Islam mempunyai sikap dan ciri tertentu
yang dapat membedakannya dari masyarakat lain. Komunitas masyarakat tersebut
dapat dilihat pada komunitas yang ditampilkan pada zaman Rasul SAW, zaman
keemasan Islam dan pada masa sekarang, masyarakat Islam tersebut adalah
masyarakat yang teratur rapi, aman, makmur, adil dan bahagia yang meliputi
seluruh umat. Kehidupan komunitas masyarakat dalam Islam menerapkan ajaran
Islam dalam seluruh aspek kehidupan seperti bidang akidah, ibadah, akhlaq,
undang-undang dan sistem pemerintahan.
Dalam Islam,
anggota masyarakat mempunyai persamaan dalam hak dan kewajiban, Islam tidak
mengenal kasta dan pemberian hak-hak istimewa kepada seorang atau kelompok.
Kemuliaan seseorang dalam masyarakat Islam hanyalah karena ketaqwaannya kepada
Allah. Adanya perbedaan itu tidaklah
menyebabkan perbedaan dalam kedudukan sosial. Hal ini merupakan dasar yang
sangat kuat dan tidak dapat dimungkiri telah memberikan kontribusi pada
perkembangan hak-hak asasi manusia.
Menurut al-Syaebaniy, masyarakat Islam mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1.
Masyarakat Islam mempunyai tonggak
dasar pada keimanan. Ciri pertama ini membuahkan rasa aman dan damai di hati
setiap anggota masyarakat, sejak komunitas yang terkecil sampai pada komunitas
kolektif yang lebih luas. Dasar iman dapat mendidik manusia agar mau bekerja
keras, karena hanya amal yang saleh yang ikhlas karena Allah yang akan
diperhitungkan oleh Allah. Iman membuahkan rasa tanggung jawab terhadap segal
tindakan manusia. Iman membuahkan takwa kepada Allah semata, tak ada yang
ditakuti selain Allah saja.
2.
Agama diletakkan pada proporsi yang
tinggi. Segala urusan hidup dikembalikan kepada hukum-hukum Allah.
3.
Nilai manusia adalah akhlaknya.
Akhlak dikaitkan dengan agama sebagai realisasi praktis terhadap-Nya. Islam
mendorong agar masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia.Ilmu
mendapat perhatian yang sepenuhnya oleh masyarakat Islam. Masyarakat berkeyakinan bahwa dengan ilmu, manusia
memperoleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk aspek ekonomi yang
dapat meningkatkan
4.
income masyarakat. Dengan ilmu,
manusia akan dapat memperbaiki taraf hidup dan derajatnya.
5.
Islam menghormati dan menjaga
kehormatan insan. Penghormatan itu tidak membedakan warna kulit, bangsa atau
pun agama. Hak pribadi seseorang dihormati. Hak untuk mendapatkan keadilan di
junjung tinggi. Pribadi pada hakikatnya bukan hamba masyarakat dan begitu pula
sebaliknya.
6.
Keluarga mendapat perhatian penuh
dalam masyarakat Islam. Peranan keluarga sebagai dasar utama proses pembinaan
generasi perlu berangkat atas dasar kasih sayang, keadilan kebenaran dan budi
luhur.
7.
Masyarakat Islam adalah masyarakat
yang dinamis. Mereka bertekad untuk maju terus.
8.
Kerja seorang mendapat perhatian
dalam masyarakat Islam. Dalam hal ini, manusia diukur oleh kerjanya, bukan
posisinya.
9.
Harta diperhitungkan untuk menjaga
kehormatan insan. Harta harus didapat dari jalan halal, disalurkan harus sesuai
dengan perintah Allah, harta tidak boleh ditumpuk dan tidak dimanfaatkan dan
penunaian dari harta itu berdasarkan hak dan tuntutan dengan ketentuan: (1)
Untuk diri yang sesuai dengan kebutuhannya dan (2) untuk masyarakat dimulai
dari kerabat yang terdekat kemudian yang terjauh.
10. Nabi
menekankan agar masyarakat muslim itu kuat fisik dan mentalnya.
11. Masyarakat
muslim adalah masyarakat yang terbuka dan dapat menerima yang baik dari mana
pun datangnya, tanpa terkelupas dari ruh ilahiyah.
12. Dalam
hal bantu membantu, masyarakat Islam jadi tauladan terutama bukan hanya untuk
golongannya saja, tapi juga untuk semua golongan.
Filsafat Akhlak Dalam Islam
Klasifikasi Akhlak
Akhlak
merupakan bagian dari kehidupan manusia. Studi mengenai akhlak meliputi
deskriptif (meliputi akhlak yang timbul pada masyarakat), akhlak normatif
(perspektif akhlak), dan metaakhlak (analisis akhlak). Dalam esensi konsep
moral terbagi kepada pembagian konsep moral yaitu konsep esensial (konsep yang
di dapat melalui indra lalu diabstraksi melalui akal), konsep logis (mental),
dan konsep falsafi (pengamatan dari beberapa akal lalu dikomparasikan di antara
keduanya). Konsep esensial membicarakan mengenai batasan-batasan sedangkan
konsep logis dan falsafi membicarakan karakternya. Statemen moral bisa
dituangkan dalam bentuk afirmatif dan dalam bentuk normatif. Tetapi dalam
artian sesungguhnya penerapan konsep moral sebenarnya masuk kepada konsep
universal falsafi dimana statemen moral bersifat konvensional namun isinya
berdasarkan pertimbangan faktual dari masyarakat. Asal usul kemunculan konsep
moral adalah konsep moral sebagai realitas objektif (konsep moral hanya
dipersepsi oleh akal), konsep moral penetapan/konvensi (konsep moral ada
kaitannya dengan konsep objektif), dan konsep moral sebagai naluri (moral itu
bersifat naluriah dan ada dalam kodrat manusia).
Parameter Akhlak Yang Baik
Statemen-statemen
moral terbagi atas dua macam yaitu obligatif (harus/tidak boleh) dan evaluatif
(baik/buruk). Mengenai esensi konsep akhlak baik dan buruk masuk dalam statemen
moral evaluatif. Beberapa analisis kebaikan dan keburukan menurut beberapa filsuf
dimulai dari manusia memilih apakah itu baik untuk dirinya atau tidak. Beberapa
filsuf cenderung berpendapat bahwa mengenai baik dan buruk itu tergantung dari
fisiknya. Apabila ia cantik, maka ia baik. Begitupun sebaliknya. Namun pada
dasarnya semua itu bukanlah menjadi tolok ukur. Parameter kebaikan dan
keburukan adalah apakah itu bermanfaat untuk diri manusia secara khusus, dan
kemanusiaan secara universal. Pandangan-pandangan seputar kebaikan dan
keburukan moral adalah objektivitas (konsep objektivitas dari alam luar),
simbol emosionalitas (pandangan baik/buruk mengenai keindahan & kejelekan),
I’tibar (baik/buruk dalam arti penetapan), dan kehendak Tuhan. Latar belakang
permasalahan dalam pemikiran islam terpecah dalam dua kelompok besar yaitu Adliyah
(akal manusia yang dapat menentukan baik/buruknya sesuatu dan perintah Tuhan
merupakan petunjuk manusia dari luar) dan Hanafiyah (sama dengan objektivitas
baik/buruk dan lebih menekankan kepada perintah Tuhan). Arti-arti baik dan
buruk serta klaim asy’syariah dimana dimaksudkan menemukan titik-titik
persamaan antara pendapat kaum Asysyariah dan Adliyah yaitu kesempurnaan dan
kekurangan (baik itu sempurna dan buruk itu kurang), kesesuaian dengan tidaknya
tabiat manusia (kebaikan adalah keinginan manusia dan keburukan sebaliknya),
keseuaian dengan tidaknya tujuan, dan ketersanjugan dan hujatan. Analisis atas
pandangan Asysyariah tidak berbeda dengan Adliyah seperti perintah kepada Tuhan
namun Adliyah juga menekankan kepada akalnya. Maka dari itu manusia tidak hanya
cukup hidup dengan perintah-perintah Tuhan saja. Karena dalam kalangan
Asy-syariah saja sudah berbeda penafsiran maka dari itu membutuhkan ajaran
serta arahan Nabi pula. Objektivitas acuan-acuan abstraksi dimaksudkan seperti
standar kebaikan (kesesuaian antara tindakan dan tujuan manusia bertindak).
Akar perdebatan dalam studi moral di seluruh dunia ini yang seperti dibahas
sebelumnya bahwa di Negara ini tidak boleh dan di Negara lain tidak boleh
adalah karena ketidaktahuan seseorang mengenai kesempurnaan hakiki dan
ketidaktahuan dan pemahaman yang salah mengenai tindakan yang sengaja dan
kesempurnaan yang sesungguhnya.
Tanggung Jawab Moral (AKHLAK)
Pentingnya
studi nilai moral tidak hanya dalam bidang filsafat, melainkan sosiologi
politik, ekonomi, dan masih banyak lagi. Tanggung jawab moral sangat dibutuhkan
dan sudah lama menjadi perbincangan para filsuf. Tanggung jawab moral dapat
berupa suatu hak atau suatu kepatutan. Syarat-syarat tanggung jawab moral
berupa kemampuan (kemampuan melakukan/meninggalkan kewajiban), pengetahuan dan
kesadaran (manusia tahu apa yang dibebankan padanya), dan pilihan dan kehendak
yang bebas. Argumentasi determinisme berupa falsafi, natural, dan teologis.
Beragam tanggung jawab moral seperti kepada Tuhan, diri sendiri, orang lain,
dan alam.
Kurikulum Pendidikan Islam
Pengertian
Kurikulum
Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa
latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran. Ada yang mengatakan berasal
dari bahasa prancis courier yang berarti berlari.Ada pula yang mengatakan
kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang artinya pelari dan
“curere” yhang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dikaitkan
dengan pendidikan, kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa
kata bahasa Arab istilah kurikulum dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan
terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika
dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan
peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.
Sedangkan
secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para
ahli berikut ini:
a. Crow and Crow : Kurikulum adalah rancangan
pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis
sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.
b. Saylor Alexander (dikutip S. Nasution) :
Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga
didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di
lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
c. Hasan langgulung : Kurikulum adalah
sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik
yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
d. UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan
mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Dari beberapa
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan salah satu
komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum
merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman
dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Dengan demikian, pengertian
kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan
oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja.
Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan
sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya
disekolah, tapi juga diluar sekolah.
Dalam pengajaran biasanya hanya
terfokus pada ruang kelas saja, tapi dengan perkembangan yang terjadi saat ini
sumber pendidikan dapat diperoleh dari berbagai hal diluar kelas seperti
perpustakaan, museum, majalah, televisi, surat kabar, radio dan yang lebih
memudahkan lagi adalah internet yang segala sesuatunya ada informasi
didalamnya.
Jadi kurikulum juga harus
mempertimbangkan hal itu agar peserta didik bisa terus mengikuti perkembangan
dari suatu ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan dan lain sebagainya yang
ada diluar dari sekolah agar tidak dicap sebagai siswa yang gagal akan
perkembangan zaman.
Ciri-Ciri
Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum, kurikulum tersusun
dengan beberapa aspek utama yang menjadi cirrinya. Hasan Langgulung
mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu:
· Tujuan pendidikan yang ingin dicapai
oleh kurikulum itu.
· Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu
data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk
kurikulum itu.
· Metode dan cara-cara mengajar dan
bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang
dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
· Metode dan cara penilaian yang
digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang
dalam kurikulum.
Berangkat dari ke kempat hal yang
menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan filsafat pendidikan
yang dikembangkan pada pendidikan islam tentu semua akan menyatu dan terpadu
dengan ajaran islam itu sendiri. Pendidikan yang merupakan suatu proses
memanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan
kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha
mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting
untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu,
setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu
mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah
satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana
ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang
diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang
hendak dicapai.
Omar Mohammad al- Toumy al-
Syaibany menyebutkan lima ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut;
I.
Menonjolkan tujuan agama dan akhlak
pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan – kandungan, metode-metode,alat-alat,
dan tekniknya bercorak agama.
II.
Meluas cakupannya dan menyeluruh
kandungannya.
III.
Bersikap seimbang diantara berbagai
ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga
seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan
pengembangan social.
IV.
IV.Bersikap menyeluruh dalam menata
seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
V.
Kurikulum yang disusun selalu
disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.
Sedangkan
Al-Shaybani mengatakan bahwa kurikulum pendidikan islam haruslah mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
- Menonjolkan mata pelajaran dan akhlak .
Agama dan
akhlak seharusnya diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh-contoh dari
orang terdahulu yang sholeh.
-
Memperhatikan pengembangan yang
menyeluruh dari aspek pribadi siswa yaitu jasmani, akal dan rohani
-
Memperhatikan keseimbangan antara
pribadi dan masyarakat, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, keseimbangan itu
tentunya bersifat relative karena tidak dapat diukur secara objektif.
-
Memperhatikan juga seni
halus,seperti ukir, pahat, tulis indah, gambar dan sejenisnya.Selain itu juga
memperhatikan pendidikan jasmani seperti latihan militer, tehnik, keterampilan
dan bahasa asing sekalipun, semua ini diberikan kepada perorangan secara aktif
sesuai bakat, minat,dan kebutuhan.
-
Mempertimbangkan perbedaan-perbedaan
kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan
perbedaan zaman. Kurikulum dirancang sesuai kebudayaan.
Asas-Asas Kurikulum
Secara teoritis penyusunan sebuah
kurikulum harus berdasarkan asas-asas tertentu. Asas – asas tersebut antara
lain menurut S. Nasution yaitu :
1. Asas Filosofis
Berperan
sebagai penentuan tujuan umum pendidikan sehingga penyusunan kurikulum
mengandung kebenaran, dimana asas ini merupakan pandangan hidup mendidik anak
sesuai dengan tujuan pendidikan.
Asas filosofis
membawa rumusan kurikulum pendidikan islam kepada tiga dimensi:ontologi,
epistemologi, dan aksiologi.Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih
banyak memberi anak didik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan
fisik-fisik, obyek-obyek.Pada mulanya dimensi ini diterapkan Allah SWT.dalam
pengajaranNya kepada nabi Adam as dengan memberitahukan atau mengajarkan
nama-nama benda (QS.Al-Baqarah{2}:31) dan belum sampai pada tahap penalaran
atau pengembangan wawasan.Demensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang
sah,yang berdasarkan metode kontruksi pengetahuan yang disebut metode
ilmiah,yang sifatnya mengajak berfikir menyeluruh,reflektif dan kritis,
implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung
fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan tidak mutlak, tentatif dan dapat
berubah-ubah. (QS.Al-Baqarah {2}:26-27); dan dimensi aksiologi mengarahkan
pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar
memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari
nilai-nilai yang tidak diinginkan.Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya
guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup
menuju kesempurnaan, kenyamanan dan dijauhi dari segala sesuatu yang
menimbulkan kesengsaraan atau kerugian
Tugas ketiga
dimensi tersebut merupakan kerangkah dalam perumusan kurikulum pendidikan
islam. Dari berbagai macam filsafat pada dasarnya memberikan khasana
intelektual di bidang kurikulum pendidikan islam lainnya, semakin banyak pula
kontribusi teori dan konsep. Teori dan konsep yang ditimbulkan dari berbagai
macam aliran filsafat tidak dapat begitu saja diterima atau ditolak, namun
diseleksi terlebih dahulu kemudian hasilnya dimodifikasi pada khasana kurikulum
pendidikan islam
2. Asas Sosiologis
Memberikan
dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Asas Organisatoris
Asas ini
memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan itu disusun, dan bagaimana
penentuan luas dan urutan mata pelajaran.
4. Asas Psikologis
Asas ini
memberikan prinsip – prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai
aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dipahami oleh anak
didik sesuai dengan perkembangan.
Prinsip-Prinsip
Kurikulum Pendidikan Islam
Menurut
Al-Taumi sebagaimana yang di kutip oleh Muhammad Zein dalam bukunya ‘’ Materi
filsafat pendidilan islam “, prinsip dasar yang harus dipegengi dalam menyusun
kurikulum pendidikan islam adalah:
1. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan agama,termasuk ajaran dan nilainya.
2. Tujuan dan kandungan kurikulum pendidikan
islam harus menyeluruh (universal)
3. Tujuan dan kandungan kyrikulum pendidikan
islam harus adanya keseimbangan.
4. Kurikulum pendidikan islam harus
berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan anak didik serta alam
lingkungan di mana anak didik tersebut hidup.
5. Kurikulum pendidikan islam harus dapat
memelihara perbedaanindividu diantara anak didik dalam bakat, minat, kemampuan
dan kebutuhan mereka.
6. Kurikulum pendidikan islam harus mengikuti
perkembangan dan perubahan zaman, filsafah, prinsip, dasar, tujuan dan metode
pendidikan islam harus dapat memenuhi tuntutan zaman.
7. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan pengalaman dan aktifitas anak didik dalam masyarakat.
H.M. Arifin
dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan empat prinsip dalam
penyusunan kurikulum pendidikan islam yaitu:
1. Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan
idealitas islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu
pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup islami.
2. Untuk berfungsi alat yang efektif
mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus nengandung tata nlai islami yang
intrinsik dan ekstrinsik mampu merealisasikantujuan pendidikan islam.
3. Kurikulum yang bercirikan islami itu
diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam
tujuan pendidikan islam
4. Antara kurikulum, metode, dan tujuan
pendidikan islam harus saling menjiwai dalam proses mencapai produk bercita-citakan
menurut ajaran islam.
Isi Kurikulum
Pendidikan Islam
Cakupan bahan pengajaran yang ada
dalam suatu kurikulum kini terus semakin luas atau mengalami perkembangan
karena tuntutan dari kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, tekhnologi yang terjadi
di dalam masyarakat, dan beban yang diberikan pada sekolah.
Berdasarkan tuntutan perkembangan
itu maka para perancang menetapakan cakupan kurikulum meliputi 4 bagian
yaitunya :
a. Tujuan merupakan arah, sasaran, target
yang akan dicapai melalui proses belajar mengajar.
b. Isi merupakan bagian yang berisi
pengetahuan, informasi, data, aktifitas, dan pengalaman yang diajarkan kepada
peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
c. Metode merupakan cara yang digunakan
guru atau dosen kepada peserta didik untuk menyampaikan mata pelajaran agar
mudah dimengerti.
d. Evaluasi merupakan cara yang dilakukan
guru untuk melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran.
Untuk
menentukan kualifikasi isi kurikulum pendidikan islam dibutuhkan syarat yang
perlu diajukan dalam perumusan yaitu:
a) Materi yang disusun tidak menyalahi
fitrah manusia,
b) Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan
islam,
c) Disesuaikan dengan tingkat perkembangan
dan usia peserta didik,
d) Membawa peserta didik kepada objek empiris
dan praktik langsung,
e) Penyusunan bersifat integral,
terorganisasi,
f) Materi sesuai dengan masalah mutakhir
yang sedang dibicarakan,
g) Adanya metode yang sesuai,
h) Materi yang diajarkan berhubungan dengan
peserta didik nantinya.,
i) Memperhatikan aspek sosial,
j) Punya pengaruh positif,
k) Memperhitungkan waktu, tempat,
l) Adanya ilmu alat ayng mempelajari ilmu
lain.
Setelah syarat
itu dipenuhi disusunlah isi kurikulum pendidikan. Isi kurikulum menurut Ibnu
Khaldum terbagi jadi 2 tingkatan:
1) Tingkatan Pemula
Materi
kurikulum difokuskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah
2) Tingkatan Atas
Tingkatan ini
punya 2 klasifikasi:
Ilmu yang
berkaitan dengan zatnya
Ilmu yang
berkaitan dengan ilmu lain seperti ilmu bahasa, matematika, mantiq
Menurut
Al-Ghazali klasifikasi isi kurikulum pada 3 kelompok yaitu:
a. Kelompok menurut kuantitas yang mempelajari
Ilmu fardhu
‘ain yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah
Ilmu fardhu
kifayah yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim saja
misalnya kedokteran, pertanian dan lainnya
b. Kelompok menurut fungsinya
Ilmu tercela
adalah ilmu yang tidak berguna untuk
masalah dunia maupun akhirat serta mendatangkan kerusakan
Ilmu terpuji
adalah ilmu agama yang dapat mensucikan jiwa dan menghindari hal-hal yang
buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan diri pada allah
Ilmu terpuji
dalam batasan tertentu tidak bolaeh dipelajari secara mendalam karena akan
mendatangkan ateis.
c. Kelompok menurut sumbernya
Ilmu Syar’iyah
adalah ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu ilahi dan sabda nabi
Ilmu ‘Aqliyah
adalah ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen dan
akulturas.
Allah berfirman
dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 mengenai isi kurikulum yang artinya:“Kami akan
memeperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami disegenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran iu
adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia
menyaksikan segala sesuatu”
Ayat tersebut
terkandung 3 isi kurikulum pendidikan islam yaitunya:
1. Isi kurikulum berdasarkan pada ketuhanan
2. Isi kurikulum berorientasi pada manusia
3. Isi kurikulum berorientasi pada alam.
Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam
Al-Abrasyi
Biografi
Muhammad Athiyah al-Abrasyi adalah seorang tokoh pendidikan yang
hidup pada masa pemerintahan Abd. Nasser yang memerintah Mesir pada tahun
1954-1970. Beliau adalah satu dari sederetan nama penting para cendekiawan Arab
dan Muslimin. Beliau adalah penulis tentang pendidikan Keislaman. Beliau
dilahirkan pada awal April tahun 1897 dan wafat pada tanggal 17 Juli 1981.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi juga adalah seorang sarjana yang telah lama
berkecimpung dalam dunia pendidikan di Mesir yang merupakan pusat ilmu
pengetahuan Islam, sekaligus sebagai guru besar pada fakultas Darul Ulum Kairo
University, Kairo. Sebagai guru besar, beliau secara sistematis telah
menguraikan pendidikan Islam dari zaman ke zaman serta mengadakan komparasi di
bidang pendidikan mengenai prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan
modern di dunia Barat pada abad ke-20 ini. Pendapat Muhammad Athiyah al-Abrasyi
tentang pendidikan Islam banyak dipengaruhi dari rangkuman, pemahaman, dan
pemikiran tokoh-tokoh muslim sebelumnya, terutama pemahaman secara filosofis.
Beliau cenderung menjadikan Ibnu Sina, al-Ghazali dan ibnu Khaldun sebagai nara
sumbernya.
Konsep Pendidikan Islam Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi
Pendidikan secara umum pada dasarnya merupakan kebutuhan yang
primer manusia, baik secara individu maupun sebagai warga negara, yang menuju
kearah terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam Islam, istilah yang digunakan
untuk pendidikan adalah Tarbiyah, ta'lim, ta'dib Dan sekarang berkembang secara
umum di dunia Arab adalah tarbiyah ternyata masih merupakan masalah khilafiyah,
(kontroversial) Pendidikan Islam menurut 'Athiyah dalam kitab at-Tarbiyah
al-Islamiyah Wafalasifatuha adalah:
“Sesungguhnya pendidikan Islam terdiri dari prinsip-prinsip
(demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam
pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara yang kaya dan
yang miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban
dalam bentuk immateri, bukan untuk tujuan materi (kehendak), dan menerima ilmu
itu dengan sepenuh hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang
kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melakukan perjalanan panjang
dansulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama.”
Berdasarkan pernyataan Muhammad Athiyah Al-Abrasyi di atas, intinya
pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan
kehidupan yang sempurna dengan mengembangkan berfikir bebas dan mandiri serta
demokratis dengan cara memperhatikan kecenderungan peserta didik secara
individu yang menyangkut aspek kecerdasan akal, dan bakat dengan dititik
beratkan pada pengembangan ahlak. Pengertian pendidikan Islam tersebut berupaya
mengembangkan anak sesuai dengan akal dan bakat dengan bimbingan dan dengan
dorongan yang dititik beratkan pada pengembangan ahklak. Pendidikan Islam
disini telah banyak memberikan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan
tidak hanya terbatas pada pendidikan Islam saja, namun, menjadikan pendidikan
Islam ini berkembang di dunia pendidikan modern dewasa ini. Hal ini dikarenakan
pendidikan Islam menurut 'Athiyah memang merupakan disiplin ilmu yang memiliki
dasar dan tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Islam memang sangat ideal untuk dilaksanakan di dalam dunia
pendidikan. Lapangan dari pendidikan Islam telah menembus berbagai dimensi
kependidikan, baik bentuk, orientasi, sikap, maupun volume kurikulum yang
selalu dipengaruhi oleh pengaruh eksternal dan internal umat Islam, yang
dilancarkan untuk melakukan perubahan pandangan, pikiran dan tindakan umat
Islam dalam menghadapi kemajuan zaman dan tantangannya.
Pengaruh yang ditimbulkan dari pendidikan Islam ini sangat besar
sekali dalam kebangkitan di segala bidang pendidikan, yang sebelumnya dipetik
dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam agama dan budi pekerti dan diutamakan
pula segi kemanusiaan, sosial, dan kerjasama, seperti persaudaraan,
kemerdekaan, keadilan, dan kesempatan, yang sama, disamping kesatuan rohaniah
seluruh umat Islam. Pendidikan disini merupakan bimbingan dan pimpinan yang
secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Dalam ajaran Islam,
kepribadian yang utama adalah akhlak, dimana manusia memiliki akhlak yang utama
sebagai manusia yang sempurna (insan kamil) sesuai dengan al-Quran dan
al-Sunnah. Pendidikan ini merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkembang,
tidak statis karena berhubungan dengan kebutuhan manusia yang selalu mengikuti
perkembangan zaman. Ajaran Islam berisi ajaran tentang sikap dan tingkah laku
pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, sehingga
pendidikan Islam merupakan individu dan juga pendidikan masyarakat.
Metode pendidikan moral dalam Islam menurut Muhammad ‘Athiyah Al-
Abrasyi
Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Menurut Muhammad
‘Athiyah Al-Abrasyi metode merupakan jalan yang dilalui untuk memperoleh
pemahaman pada peserta didik, 'Athiyah mengatakan bahwasanya Metode pendidikan
Islam telah modern sejak semula. Hal ini terlihat dalam beberapa prinsip yang
mendasar seperti adanya unsur demokrasi, kebebasan, kemerdekaan, persamaan
dalam pendidikan, unsur pengamatan kepada bakat anak, kecenderungan, fitrah,
kecakapan, kemampuan, berkomunikasi dengan anak dengan penuh kasih sayang dan
pendidikan seumur hidup.
Mengenai kaidah-kaidah dasar dalam pendidikan Islam beliau
sependapat dengan alGhozali, di antaranya:
a. Tidak ada pembatasan usia anak mulai belajar.
b. Memberi kebebasan kepada peserta didik memilih disiplin ilmu
yang disukai sesuai bakatnya.
c. Cara mengajar anak yang belum baligh berbeda dengan metode
mengajar anak yang sudah baligh, pelajaran dimulai dari yang paling mudah.
d. Supaya pendidik tidak mengajarkan kepada anak didik dua disiplin
ilmu yang berbeda dalam satu waktu atau pada waktu yang sama, sebaiknya
masing-masing ilmu diajarkan secara khusus dalam waktu tertentu, diberikan oleh
pendidik yang menguasai ilmu itu sehingga peserta didik benar-benar
mamahaminya.
e. Ketika memperhatikan dan mengindahkan pada waktu menunjukkan
contoh dan alat peraga kepada anak sebaiknya dengan sesuatu yang mudah
ditangkap pancaindera dan perasaan mereka dan berangsur-angsur dapat dicerna
akal mereka.
Athiyah
mengklasifikasikan metode dalam pengajaran menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Metode Deduktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia remaja
2. Metode Induktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia anak-anak. Diapun
menyetujui lima langkah yang diterapkan para pendidik dalam memberikan
pelajaran dimulai dengan pendahuluan, berikut materi pelajaran, kemudian
hubungan pelajaran baru dengan pelajaran yang sudah diketahui, lalu hasil yang
didapat dan akhirnya latihan atau praktik.
Di dalam pendidikan Islam Al abrasy membaginya menjadi dua materi.
Diantaranya:
1. Materi untuk tingkat dasar (pendidikan dasar) meliputi; materi
Al-Qur`an, sendi-sendi agama, membaca, menulis, berhitung, bahasa, etika,
cerita, ketrampilan. sajak-sajak yang mengandung ajaran akhlak, menulis indah,
cerita-cerita dan latihan berenang serta berkuda
2. Untuk pendidikan lanjutan, pelajaran yang diberikan juga lebih
meningkat yaitu dengan memberikan perhatian secara khusus untuk mempersiapkan
mereka, dengan tugas-tugas yang kelak akan mereka pikul seperti pelajaran
muhadharah (berpidato), belajar sejarah (terutama sejarah peperangan), tata tertib
persidangan serta memperhatikan pula bahan pokok dasar seperti pada tingkat
pemula, Sedangkan untuk pendidikan tinggi pengajaran diarahkan kepada yang
lebih spesifik yaitu diberikan pelajaran eksakta dan sastra, namun tetap tidak
melupakan bahan pokok pada tingkat permulaan Dari sini Al abrasy memberikan
beberapa poin diantaranya:
a. Perhatian kaum muslimin terhadap studi keagamaan sangat besar
dibandingkan dengan bidang studi lainnya.
b. Menurut pendapat al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ihwanus Shafa, kesempurnaan
manusia (insan) ini tidak akan terwujud kecuali dengan penyerasian antara ilmu
agama dan ilmu- ilmu eksakta.
c. Kecenderungan kepada pelajaran-pelajaran sastra, ilmu keagamaan,
dan kemanusiaan, lebih besar terhadap ilmu- ilmu eksakta.
d. Kurikulum atau rencana pelajaran ilmu- ilmu eksakta dan sastra
pada tingkat tinggi, lebih bersifat penggalian terhadap ilmu eksakta dan
bersifat humanitas.
Sedangkan kaitannya
dengan pendidikan moral dan akhlaq,
didalam islam terdapat beberapa metode yang dilakukan, yaitu:
1 Pendidikan secara
langsung
Yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat,
menyebutkan manfaat dan bahaya-bahayanya sesuatu; di mana pada murid dijelaskan
hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak, menuntun kepada amal baik, mendorong
mereka berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela. Dan
kini Orang-orang Amerika di Amerika Serikat kini menggunakan cara-cara ini, dan
diantara kata-kata berhikmat, wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral
anak-anak, diantaranya sebagai berikut:
a. Sopan santun adalah warisan yang terbaik
b. Budi pekerti yang baik adalah teman yang sejati
c. Mencapai kata mufakat adalah pimpinan yang terbaik
d. Ijtihad adalah perdagangan yang menguntungkan
e. Akal adalah harta yang paling bermanfaat
f. Tidak ada bencana yang lebih besar dari kejahilan
g. Tidak ada kawan yang lebih buruk dari mengagungkan diri sendiri
2 Pendidikan akhlak secara
tidak langsung
Yaitu dengan jalan sugesti seperti mendiktekan sajak-sajak yang
mengandung hikmat kepada anak-anak, memberikan nasehat-nasehat dan
berita-berita berharga, mencegah mereka membaca sajak-sajak yang mengherankan
karena ahli-ahli pendidik dalam Islam yakin akan pengaruh kosong termasuk yang
menggugah soal-soal cinta dan pelaku-pelakunya. Tidaklah kata-kata berhikmat,
nasehat-nasehat dan kisah-kisah nyata itu dalam pendidikan akhlak anak-anak.
Karena kata-kata mutiara itu dapat dianggap sebagai sugesti dari luar. Di dalam
ilmu jiwa (psikologi) kita buktikan bahwa sajak-sajak itu sangat berpengaruh
dalam pendidikan anak-anak, mereka membenarkan apa yang didengarnya dan
mempercayai sekali apa yang mereka baca dalam buku-buku pelajarannya.
Sajak-sajak, kata-kata berhikmat dan wasiat-wasiat tentang budi pekerti itu
sangat berpengaruh terhadap mereka. Juga seorang guru dapat mensugestikan
kepada anak-anak beberapa contoh dari akhlak-akhlak yang mulia seperti berkata
benar, jujur dalam pekerjaan, adil dalam menimbang, begitu pula sifat
3. Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak
dalam rangka pendidikan akhlak.
Seperti contoh mereka memiliki kesenangan meniru ucapan-ucapan,
perbuatan-perbuatan, gerak-gerik orang-orang yang berhubungan erat dengan
mereka. Sifat meniru ini mempunyai pengaruh yang besar bukan saja dalam
pengajaran tetapi juga dalam pendidikan budi pekerti dan akal. Disamping itu,
ahli-ahli didik Islam mengetahui bahwa anak-anak mempunyai pembawaan suka
dipuji, suka menampang, maka mereka memuji perbuatan-perbuatannya atau
perkataan-perkataannya yang baik dan mendorong supaya hal itu diteruskan,
sehingga akhirnya si anak tadi mempertahankan kedudukannya tadi dan senantiasa
berusaha pula memperbaiki dirinya.
Melihat dari ketiga metode tersebut maka dapat di jelaskan secara
sederhana tahap- tahap yang harus ditempuh dalam proses pembelajaran pendidikan
akhlak (moral) kepada peserta didik yaitu:
1. Dengan keteladanan
2. Dengan memberikan tuntunan
3. Dengan kisah-kisah sejarah
4. Dengan memberikan dorongan dan menanamkan rasa takut (pada
Allah)
5. Dengan memupuk hati nurani
IQBAL
Biografi
Iqbal
dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab
Barat dan Kashmir) pada tanggal 22 Februari 1873/ 2 Dhulhijjah 1289 dan wafat
ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender Masehi, atau
63 tahun menurut kalender Hijri. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi
berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan
tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai
di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore.
Iqbal menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus
pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena
baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A
dalam bidang filsafat.
Ia lahir dari
kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah
mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad
Rafiq kakeknya. Dan Iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College di
Sialkot agar ia mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan teman ayahnya yang
ahli bahasa Persia dan Arab. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia
selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore
(salah satu kota di India yang menjadi pusat kebudayaan , pengetahuan, dan
seni) di tahun 1895 di Lahore inila dia bertemu dengan Sir Thomas Arnold, pada
tahun 1905 ia studi di Cambridge-Inggris, ia berguru pada R.A Nicholson, seorang
spesialis dalam sufisme, dan seorang Neo-Hegelian, yaitu John M.E. Mc Taggart,
dan terakhir di Munich-Jerman ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908 dengan
mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia
disertasi ini ia persembahkan kepada gurunya Sir Thomas Arnold. Sekembalinya
dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat
menjadi pengacara.
Pada tahun 1922
seorang wartawan Inggris mengusulkan kepada pemerintahnya untuk member gelar
Sir kepada Iqbal. Iqbal pun mendapat undangan penguasa Inggris untuk pertama
kalinya. Mula-mula ia menolak undangan itu, tetapi ata dorongan sahabatnya,
Mirza Jalaluddin, akhirnya ia memenuhi. Gelar Sir ia terima dengan syarat gurunya, Mir Hasan,
yang ahli tentang sastra Arab dan sastra Persia juga mendapat gelar Shams
al-Ulama. Sebetulnya gurunya gurunya itu tidak begitu terkenal dan patut diberi
gelar demikian, namun Iqbal tetap bersikeras dengan syarat yang ia ajukan.
Akhirnya syaratnya itu diterima oleh penguasa Inggris.
Saat-saat
Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada tahun 1935 istrinya meninggal
dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan membawa kesedihan yang
berlarut-larut kepada Iqbal. Dan berbagai penyakitpupun menimpa Iqbal sehingga
fisiknya semakin lemah. Sungguhpun demikian, pikiran dan semangat Iqbal tidak
pernah mengenal lelah. Ia tiada henti-hentinya mengubah sajak-sajak dan terus
menuliskan pemikiran-pemikirannya. Pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia
merasa ajalnya telah dekat, namun Iqbal masih menyempatkan diri berpesan kepada
sahabat-sahabatnya.
Kukatakan
kepadamu tanda seorang Mu’min
Bila maut
datang, akan merekah senyum di bibir.
Akhirnya
Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa
gagasan-gagasannya atau pemikirannya tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir
sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini
pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang
tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahla widan Sayyid Ahmad Khan. Keduanya
adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin
tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat
tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India
ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat
mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris dan bahkan pada tahun 1858
British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas
pemerintah imperium India.
Adapun
karya-karya Iqbal diantaranya adalah:
‘Ilm al-Iqtis
(1903), Devlopment of Metaphyiscs in Persia (1908), Islam as Moral and
Political Ideal (1909), Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri/ Rahasia Pribadi) ;
(1915), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri ) ; (1918),
Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur) ; (1923), Bang-i-dara (Genta Lonceng/ Seruan
dari Perjalanan) ; (1924), Self in the Light of Relativy Speeches and
Statements of Iqbal (1925), Zaboor-i-‘Ajam (Taman Rahasia Baru/ Kidung Persia)
; (1927), Khusal Khan Khattak (1928), A Plea Deeper Study of Muslim Scientist
(1929), Presidential Address to the All-India Muslim Leaque (1930), Javid
Nama(Kitab Keabadian) ; (1932), Lectures on the Reconstruction of Religius
Thought in Islam (1934), Letter of Iqbal to Jinnah (1934), Bal-i-Jibril (Sayap
Jibril) ;
(1935), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq
(Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?) ; (1936), Musafir Nama/
Mathnawi Musafir (1936), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa) ; (1936), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz) ;
(1938), dan A Contibution to the History of Muslim Philosopy.
Filsafat Iqbal
Menurut Dr.
Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbalyang ditulis oleh Dr.
Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu
intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India
bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa
mengkaji ide-idenya secara mendalam.
Namun dalam
tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh
masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas,
justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak
sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan
hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi,
diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India
pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik
sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut
sebagaiTokoh Multidimensional.
Dengan latar
belakang yang cukup unik di atas penulis dalam makalah ini akan memaparkan
gagasan-gagasan Iqbal yang berkaitan dengan pemikiran filsafatnya sub bahasan
eksistensialisme dalam tiga hal yaitu: Ego dan Khudi, Ketuhanan, Insan Kamil
Ego dan Khudi
Khudi dalam
bahasa Parsi berarti pribadi.[15] Yaitu pribadi-pribadi yang sempurna.
Sedangkan yang dimaksud Iqbal di sini adalah usaha menjadikan diri Individu
yang selalu di liputi sifat-sifat Tuhan yang sempurna. Ini terlihat ketika
Iqbal melukiskan kejayaan pribadi dan jalan hidup nabi Muhammad. Yang mana
dalam tafsir sajaknya bahwa untuk perkembangan sewajarnya dari setiap muslim
dirindukannya suatui masyarakat menurutr acuan Islam, dan setiap muslim yang
berusaha akan menjadikan dirinya Individu yang sempurna turut membina kerajaan
Islam dibumi ini.
Syarat-syarat
untuk masyarakat Islam itu dilukiskan Iqbal dalam kumpulan syairnya yang kedua,
yakni: Rumuz -i-bekhudi, yang diterbitkan sesudah Asrar –i-khudi. Dalam buku
kumpulan syair Rumuz –i-bekhudi itu Iqbal melukiskan bahwa orang yang dapat
menafikan dirinya sendiri dalam masyarakat, membayangkan yang silam dan yang
akan datang sebagai suatu satuan di dalam cermin, dapatlah dia mengatasi sang
ajal dan masuk kedalam hidup ke Islaman yang bersifat abadi dan tidak terbatas.
Diantara acara-acara terpenting yang abadi dan tak terbatas. Diantara
acara-acara terpenting yang didendangkan Iqbal ialah: asal-usul masyarakat,
pemimpinan Tuhan pada manusia dengan perantaraan para nabi. Pembentukan pusat
–pusat hidup kolektif dan nilai sejarah sebagai faktor penting untuk menetapkan
tanda tersendiri dalam sesuatu bangsa.
Khudi yakni ego
yang hendak menangkap Ego yang besar oleh kian membulatnya dirinya sendiri.
Pribadi bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi
dinamisme pribadi. Pribadi atau khudi itu ialah action ialah hidup dan hidup
ialah pribadi.
Tuhan
menjelmakan sifat-sifatnya bukanlah di alam ini dengan sempurna tetapi pada
para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan sifat-sifatNya dalam
diri, yang sebenarnya sesuai dengan hadist rasullah s.a.w: Takhallaqu bi
akhlaqi’llah, tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah. Jadi mencari Tuhan
bukanlah dengan jalan merendah-rendahkan diri atau meminta-minta, tetapi dengan
himmah tenaga yang berkobar-kobar mejelmakan sifat-sifat uluhiyyah (ketuhanan)
dalam diri kita dan kepada masyarakat ramai. Tegasnya mendekati Tuhan ialah
menyempurnakan diri pribadi insan, memperkuat iradah atau kemauannya.
Maka menurut
Iqbal pribadi sejati adalah bukan yang menguasai alam benda tetapi pribadi yang
dilingkupi Tuhan kedalam khuduinya sendiri. Maka sifat dan pikiran pribadi atau
khudi ialah:
Tidak terikat
oleh ruang sebagaimana halnya dengan tubuh.
Hanyalah
lanjutan masa mengenai kepribadian
Kepribadian
pada asasnya tersendiri dan Unik.
Sedangkan cita
tentang pribadi itu memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya,
diselesaikannya soal buruk dan baik. Hal-hal yang memperkuat pribadi bagi Iqbal
Ialah:
‘Isyq-o-muhabbat,
yakni cinta kasih.
Faqr yang
artinya sikap tak peduli terhadap apa yang disediakan oleh dunia ini, sebab
bercita-cita yang lebih agung lagi.
Keberanian
Sikap tenggang
rasa (tolerance)
Kasb-i-halal
yang sebaik-baiknya terjalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang sah.
Mengerjakan
kerja kreatif dan asli.
Ketuhanan
Filsafat Iqbal
tentang tuhan dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam
pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal
tersebut mengenai konsepsi Tuhan. Fase pertama berlangsung mulai dari tahun
1901M hingga kira-kira tahun 1908M, pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai
mistikus-panteistik. Hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik yang
berkembang di wilayah Persia, lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti Ibnu
‘arabi. Puncak kekagumannya itu tergambar dalam disertasi doktornya,
berjudulDevelopment of Metaphysics in Persia: a Constribution to the History of
Muslim Philosophy. Pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai suatu Keindahan
yang abadi, keberadaan-Nya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului segala
sesuatu bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Ia menyatakan dirinya di
langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, pada kerlap kerlip bintang
–bintang dan jatuhnya embun di tanah dan di laut, di api dan nyalanya, di
batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, di wewangian dan
nyanyian, di semua tempat dan keadaan.
Demikianlah,
Tuhan sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan
pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas dan
kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan
ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi dan ideal segala
sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan
individu adalah seperti halnya setetes air. Demikianlah, Tuhan adalah seperti
matahari dan individu adalah seperti lilin, dan nyala lilin hilang di tengah
cahaya. Seperti balon atau bunga api, kehidupan ini bersifat sementara tidak
hanya itu bahkan keseluruhan wujud atau eksistensi adalah suatu yang fana.
Secara umum
telah dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan pada fase pertama seperti
termuat diatas. Pemikiran seperti itu tidak sulit dicari sumbernya, pada
dasarnya pemikiran seperti itu bersifat platonis. Plato juga menganggap Tuhan
sebagai Keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang medahului segala
sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk. Plato juga
menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan cinta dari
pengertian seks dan memberinya makna universal, konsep platonis ini sebagaimana
yang diungkapkan oleh Platonis diambil alih oleh kaum skolastik Muslim awal dan
dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para mistiukus patheistis, menurut Iqbal suatu tradisi lama dalam puisi,
parsi dan urdu ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis Inggris.
Sehingga dapat dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini
tidak asli. Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima
sebagai warisan sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan
ini sebagai bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.
Masa kedua
perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun 1908-1920 M. kunci untuk
memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah perbedaan yang ia tarik
antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu, disatu pihak dan cinta
kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana telah dicatat bahwa Iqbal menyebut
keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan efisien serta kausalitas akhir dari
segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi pada masa kedua, sikap ini
mengalami perubahan.
Pertama, suatu
kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam pesimisme yang menyelinap ke
dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan dan efisiensinya serta
kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh konsep tentang
pribadi(self) yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat, upaya, aspirasi,
usaha ,keputusan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu,
melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi adalah aksi
yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan, halangan
dan rintangan. Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi karena
itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dengan pedang.
Yang disebut
dengan dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang menggairahkan termasuk
ruang dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia perasaan, ide-ide dan
ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti fichte dan ward, Iqbal
menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari dirinya sendiri sesuatu yang
bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri. Dunia yang terindera adalah ciptaan
pribadi. Karena itu segala keindahan alam merupakan bentukan hasrat-hasrat kita
sendiri. Hasrat menciptakan mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.
Tuhan sang
hahekat terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi. Ia tidak lagi dianggap
sebagai keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai kemauan abadi dan keindahan
disusutkan menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi sebutan yangs ekarang mencakup
nilai-nilai estetisdan nilai-nilai moral sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada
tahap ini keesaan tampak menunjukkan nilai pragmatis yang tinggi karena ia
memberi kesatuan tujuan dan kekuatan pada individu, bangsa-bangsa dan manusia
sebagai keseluruhan kekuatan yang mengikat, menciptakan hasrat yang tak kunjung
padam, harapan dan aspirasi dan menghilangkan semua rasa gentar dan takut
kepada yang bukan Tuhan.
Tuhan
menyatakan dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan dalam pribadi
terbatas, dan karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya akandimungkinkan
lewat pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat kondisional terhadap
pencarian diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa diperoleh dengan
meminta-minta dan memohon semata-mata karena hal seperti itu menunjukkan
kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus konsisten
dengan kekuatan dan kemauan sendiri. Ia harus menangkap Dia dengan cara sama
seperti seorang pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga menginginkan
diriNya tertangkap. Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia. Dengan menemukan
Tuhan seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan
menjadi tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya,
menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak terbatas.
Dengan menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh
menjadi super ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.[26]Singkat kata pada fase ini
Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari keindahan dan efisiensinya,
serta kausalitasnya akhirnya. Sebaliknya tumbuh keyakinan akan keabadian cinta,
hasrat, dan upaya atau gerak. Kondisi ini tergambar dalam karyanya, Haqiqat-i
Husna (Hakikat Keindahan). Pada tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang
dijadikannya sebagai pembimbing rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi
dianggap sebagai Keindahan Luar, tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara
keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di samping ke Esaan Tuhan. Karena itu,
Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan (the ultimate
spiritual basis of all life). Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang
terindera, tetapi dalam pribadi terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri
kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang
tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada.
Sebaliknya, manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak
mungkin sifat-sifatNya, dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap
Tuhan ke dalam diri, tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik
ke tingkat wakil Tuhan.
Masa ketiga
perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak tahun 1920 hingga tahun
1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap sebagai masa
kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan unsur-unsur dari
sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang menyeluruh.
Menurutnya Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan hakikat sebagai
suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian suatu Individu
dan suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia, Dia adalah suatu
prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain
yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan
konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita. Karena ujian yang
paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada
panggilan pribadi yang lain. Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi
segalanya, dan tidak ada sesuatu pun diluar Dia.
Ego mutlak
tidaklah statis seperti alam semesta sebagaimana dalam pandangan Aristoteles.
Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga hidup dan karena tidak ada
sesuatu pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka sepenuhnya Dia merupakan
jiwa kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas. Tetapi sifat tidak
terbatasNya bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak terbatasan ruang
tidak bersifat mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat intensif bukan ekstensif
dan mengandung kemungkinan aktivitas kreatif yang tidak terbatas. Tenaga hidup
yang bebas dengan kemungkinan tak terbatas mempunyai arti bahwa Dia Maha
Kuasa.Dengan demikian Ego terakhir adalah tenaga yang maha kuasa, gerak kedepan
yang merdeka,suatu gerak kreatif.
Insan Kamil
Manusia adalah
misteri terbesar yang diciptakan Tuhan di dunia, padanya Tuhan tidak hanya
membentuk sesuai dengan citra-Nya, akan tetapi sudah menjadi kehendak-Nya bahwa
manusia akan menjadi mitra kerja-Nya di dunia. Pengertian manusia adalah
pemahaman secara menyeluruh menyangkut aspek ruhani dan jasmani serta tidak
dapat dipisah-pisah antara satu dan lainnya, karena keduanya bersama-sama ada
dan merupakan suatu keutuhan dan keseluruhan baru, yang merupakan diri yang
selalu hidup, serba lain dari pada hidup raga saja atau jiwa saja dalam dirinya
sendiri, dan penyatuan antara keduanya merupakan kekuasaan Tuhan. Allah, dalam
al-Qur’an secara sederhana menggambarkan keunikan serta kelebihan manusia
daripada ciptaan Tuhan yang lain. Hubungan antara pikiran dan tindakan yang
membentuk kesatuan kesadaran manusia yang menjadi pusat kepribadiannya
merupakan ciri khas individualitas manusia. Hal inilah yang menjadi ukuran
kesempurnaan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.
Dalam sejarah
pemikiran, baik dalam kajian filsafat manusia maupun tasawuf manusia merupakan
kajian yang selalu menarik untuk di kaji, dari hal ini kajian manusia ideal
dalam pandangan Iqbal merupakan hal yang tidak dapat di hindari dalam memandang
manusia baik dari perspektif filsafat, tasawuf, dan agama. Manusia ideal dalam
pandangan Iqbal merupakan manusia yang mempunyai kesucian ruhani yang mampu
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya (ego kecil), sehingga dengan
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, di harapkan mampu mengantarkan
dirinya pada kualitas manusia sempurna (insan kamil). Disamping itu pula
manusia harus mampu mewujudkan dan mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam
kehidupannya. Di sinilah Iqbal memandang manusia ideal merupakan puncak dari
segala kehidupan yang di inginkan oleh Tuhan. Dengan mengemban sebuah amanah
sehingga pantas manusia mendapatkan gelar sebagai khalifah Allah di bumi.
Manusia sebagai
individualitas yang unik yang memungkinkan seseorang untuk memikul beban orang
lain, dan menamainya hanya berkenaan dengan apa yang telah diusahakan, karena
Qur’an diarahkan untuk menolak ide tentang penebusan. Apapun pandangan kita
tentang diri perasaan, identitas diri, jiwa, kemauan hanya dapat diuji dengan
peraturan-peraturan pikiran yang di dalam cirinya bersifat hubungan, dan “semua
hubungan melibatkan pertentangan”.
Dengan mudah
kita dapat mengakui bahwa ego, dalam keterbatasannya, tidak sempurna sebagai
kesatuan kehidupan. Ego mengungkap ego itu sendiri sebagai kesatuan dari apa
yang kita namakan keadan mental. Keadaan mental tidak berada dalam tempat yang
saling terpisah. Keadaan-keadaan mental saling berarti dan saling berkaitan,
atau katakanlah peristiwa-peristiwa merupakan jenis kesatuan yang khusus.
Secara mendasar hal ini berbeda dengan kesatuan material; karena kesatuan
material dapat berada pada tempat yang saling terpisah. Kesatuan mental
benar-benar unik. Kita tidak dapat mengatakan bahwa salah satu kepercayaan
diletakkan di sebelah kanan atau sebelah kiri kepercayaan saya yang lain. Oleh
karena itu ego tidak terbatas pada ruang, sedang tubuh terbatas oleh ruang.
Peristiwa fisik dan mental berada dalam waktu, tetapi waktu ego secara mendasar
berbeda dengan waktu peristiwa fisik. Durasi waktu fisik dibentangkan dalam
ruang sebagai fakta sekarang; durasi ego dikonsentrasikan di dalamnya dan
dicakup dengan masa sekarang dan masa depannya dengan cara yang unik.
Ciri penting
yang lain dari kesatuan ego merupakan privasinya yang mendasar yang mengungkap
keunikan setiap ego. Untuk mencapai kesimpulan yang pasti, semua premis
silogisme harus diyakini oleh seseorang dan akal yang sama. Jika saya percaya
kata-kata “ semua laki-laki adalah makhluk hidup” dan akal yang lain percaya
kata-kata “Socrates adalah seorang laki-laki”, tidak ada kesimpulan yang
mungkin. Hanya memungkinkan jika saya percaya kedua dalil tesebut. Lagi, hasrat
saya terhadap sesuatu yang pasti pada dasarnya milik saya.
Bentuk lain
pembuatan manusia sebelumnya “ mengembangkan dasar organisme fisik – kumpulan
sub ego yang lebih mendalam yang bertindak dalam diri saya, dan membiarkan saya
untuk membangun kesatuan pengalaman yang sistematis. Sesuatu yang lain di luar
saya dikira memiliki sifat-sifat tertentu yang dinamakan dasar, mengacu pada sensasi tertentu dalam
diri saya, dan saya membenarkan kepercayaan saya tentang sifat-sifat tersebut
dengan dasar penyebab harus memiliki kemiripan dengan pengaruhnya. Tetapi tidak
perlu ada kemiripan antara sebab dan pengaruhnya.
Manusia punya
aspek ruang tetapi ini bukan aspek manusia saja. Ada aspek alain selain aspek
manusia, yaitu penilaian, karakter kesatuan dari pengalaman yang bertujuan, dan
pencarian kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dari studinya, serta
pengertian yang memerlukan kategori-kategori lain yang disiratkan oleh ilmu
pengetahuan.
Manusia Asamu
hidupku! Seluruh kehidupanmu, seperti jam waktu, akan selalu baru, dan akan
terus berlalu. Di dalam lingkaran ini, engkau hanyalah sebutir pasir, akan
terus bersinar tanpa kesudahan!”
AL-‘ATTAS
BIOGRAFI
Nama lengkap Syed Muhammad Naquib
Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin
Muhammad al-Attas. Beliau lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september
1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan
pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama
Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan
Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya
berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf
yangterkenal dari kalangan sayid.
Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed
Muhammad Naquib Al-Attas, dimulai sejak ia masih berusia 5 tahun. Ketika ia
berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya
Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun
1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada
zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan
bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun
1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama
saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan
Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua
umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit
Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949.
Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang
berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun
1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan
mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program
pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph.
D
PEMIKIRANNYA
TENTANG PENDIDIKAN
1. Pengertian
Pendidikan Islam
Ada beberapa istilah yang dipakai
untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang pengistilahan itu
diambil dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an) maupun al-sunnah. Misalnya dijumpai
kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib bahkan ada yang disebut riyadlah. Namun dalam
pembahasan berikut ini akan disajikan konsep pendidikan Islam versi Naquib
al-Attas. Pemaparan konsep pendidikan Islam dalam pandangan al-Attas lebih
cenderung menggunakan istilah (lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya.
Pemilihan istilah ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas
dengan menganalisis dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan
pesan-pesan moralnya.
Sekalipun istilah tarbiyah dan
ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah
konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya
(Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas,
merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata “addaba“ yang berarti memberi
adab, atau mendidik.
Dari sini dapat dipahami bahwa yang
dimaksudkan dengan Ta'dib dalam terminologi al-Attas adalah peresapan dan
penanaman adab pada diri manusia(serdik) dalam proses pendidikan. Disamping itu
adab merupakan suatu muatan atau kandungan yang semestinya ditanamkan dalam
proses pendidikan Islam. Mengenai adab dalam konteks ini, al-Attas
mendefinisikan sebagai berikut:
“Adab berarti
pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat
teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat mereka dan
tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta
dengan kapasitas dan potensi jasmaniah,intelektual serta ruhaniah seseorang”.
Dalam pandangan al-Attas, dengan
menggunakan term di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses
internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial
yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan
adab. Seperti yang diungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses
mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai
pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ (Ismail SM, dalam
Abdul Kholiq, dkk., 1999: 275).
Al-Attas melihat bahwa adab
merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan
dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan
Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah
mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling
baik”. (HR. Ibn Hibban).
Sesuai dengan ungkapan hadits di
atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri
manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat
kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana
penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis
dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara
ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan
memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang
teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana
manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring Konsep
Pendidikan menurut Naquib al-Attas.
Al-Attas membantah istilah
tarbiyah, sebagaimana yang digunakan oleh beberapa pakar paedagogis dalam
konsep pendidikan Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan
pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu
masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun
ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur
pendidikan yang bersifat fisik dan material. Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan
bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna
substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang
(rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada
aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep
ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan,
pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi
al-Attas tidak perlu dipakai.
Dari sini dapat dipahami bahwa
menurut al-Attas, hakikat pendidikan Islam adalah Ta'dib, karena istilah
tersebut sudah termasuk tarbiyah atau ta'lim, karena menurutnya ta'dib sudah
mencakup unsur-unsur pengetahuan(llm), pengajaran(ta'lim), dan pengasuhan yang
baik (tarbiyah). Selanjutnya menurut al-Attas jika konsep ta'dib ini tidak
diterapkan maka akan muncul akibat-akibat yang serius diantaranya:
pertama,kebingungan
dan kesalahan dalam pengetahuan, yang pada gilirannya menciptakan kondisi:
kedua,
hilangnya adab di dalam umat. Kondisi yang timbul akibat 1 dan 2 adalah:
ketiga,
Bangkitnya pemimpim-pemimpin yaang tidak memenuhi syarat-syarat kepemimpinan
yang absah dalam umat Islam, yang tidak memiliki standar moral, intelektual dan
spiritual yang tinggi yang dibutuhkan bagi kepemimpinan.
Menurut al-Attas, pendidikan dalam arti
Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusa, lebih lanjut ia mengatakan:
“Mengingat makna pengetahuan dan pendidikan hanya berkenaan dengan manusia
saja, dan sebagai terusannya dengan masyarakat pula, maka pengenalan dan
pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan
penciptaan mesti paling utama diterapkan pada pengenalan dan pengakuan manusia
itu sendiri tentang tempatnya yang tepat, yaitu kedudukannya dan kondisinya
dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarganya, kelompoknya atau
komunitasnya dan masyarakatnya serta kepada disiplin pribadinya, di dalam
mengaktualisasikan dalam dirinya pengenalan dengan pengakuan”.
2. Tujuan
Pendidikan Islam
Menurut pemikiran Naquib al-Attas
yang beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan
dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir
pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan
materiil dan spiritualnya. Di samping
tujuan pendidikan Islam yang menitikberatkan pada pembentukan aspek pribadi
individu, juga mengharapkan pembentukan masyarakat yang ideal tidak terabaikan.
Seperti dalam ucapannya, “Karena masyarakat terdiri dari perseorangan maka
membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik
berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik” (Al-Attas, 1991:23).
Secara ideal, al-Attas menghendaki
pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan
al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai
Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka
bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan
dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang
menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.
Dari diskripsi diatas bisa dipahami
bahwa dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam
dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam
wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw.
Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas
dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan
masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian
masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat kumpulan dari
individu-individu.
3. Sistem
Pendidikan Islam
Sebagaimana yang tertuang dalam
tujuan pendidikan Islam di atas, bahwa al-Attas mendeskripsikan tujuan tersebut
adalah mewujudkan manusia sempurna, insan kamil. Dengan begitu, berarti sistem
pendidikan Islam harus memahami seperangkat bagian-bagian yang terkait satu
sama lain dalam sistem pendidikan. Maksudnya pendidikan Islam harus
mencerminkan aspek manusia itu sendiri, bukannya negara. Perwujudan paling
tinggi dan sempurna dari sistem pendidikan adalah Universitas. Menurut
al-Attas, Universitas Islam yang dirancang untuk mencerminkan yang universal,
harus pula merupakan pencerminan manusia itu sendiri.
Al-Attas berpandangan bahwa seperti
manusia yang terdiri dari dua unsur, jasmani dan ruhani, maka ilmu juga terbagi
dua katagori, yaitu ilmu pemberian Allah (melalui wahyu ilahi), dan ilmu
capaian (yang diperoleh melalui usaha pengamatan, pengalaman dan riset
manusia). Al-Attas membuat skema yang menjelaskan kedudukan manusia dan
sekaligus pengetahuan. Bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan menurut dia, adalah
berian Allah (God Given) dengan mengacu pada fakultas dan indra ruhaniayah
manusia. Sedangkan ilmu capaian mengacu pada tingkatan dan indra jasmaniyah.
Menurut al-Attas, bahwa akal
merupakan mata rantai yang menghubungkan antara yang jasmani dan yang ruhani,
karena akal pada hakikatnya adalah substansi ruhaniyah yang menjadikan manusia
bisa memahami hakikat dan kebenaran ruhaniyah. Dengan kata lain, dia mengatakan
bahwa ilmu-ilmu agama merupakan kewajiban individu yang menjadi pusat jantung
diri manusia.
Jadi, dalam sistem pendidikan Islam
ada tiga tahap atau tingkat (rendah, menengah, dan tinggi ) ilmu fardlu ain
harus diajarkan tidak hanya pada tingkat rendah, melainkan juga pada tingkat
menengah dan tingkat universitas. Karena universitas menurut al-Attas merupakan
cerminan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus di
dahulukan. Seperti yang dijelaskan al-Attas (1991: 41) ruang lingkup dan
kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan
ke dalam tahapan-tahapan yang lebih sedikit secara berurutan ketingkat yang
lebih rendah mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistematisasi
yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus didahulukan.
Merujuk hal tersebut bisa dipahami
bahwa pembenahan dan rekonstruksi terhadap Universitas merupakan sesuatu yang
pertama yang harus dilakukan sebab, ia akan menjadi model bagi level-level
dibawahnya. Bila tidak demikian, artinya jika usaha perumusan ruang lungkup dan
kandungan dimulai dari tingkat yang paling rendah dikhawatirkan tidak akan
berhasil lantaran tidak adanya model yang lengkap yang bertindak sebagai
kriteria bagi perumusan ruang lingkup dan kandungan tersebut.
Al-Attas mengklasifikaskan ilmu
menjadi dua macam, yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu rasional, intelektual
dan filosofis. Yang termasuk ilmu-ilmu agama misalnya: al-Qur’an; (pembacaan
dan penafsirannya). Al-Sunnah; (kehidupan Nabi, sejarah dan pesan para rasul
sebelumnya, hadits dan riwayat-riwayat otoritasnya). Al-Syari’ah;
(Undang-undang das hukum, prinsip-prinsip dan praktek-praktek Islam; Islam,
iman ihsan). Teologi (Tuhan, esensi-Nya, sifat-sifat dan nama-nama-Nya, serta
tindakan-tindakan-Nya). Tasawuf (Pikologi, kosmologi, dan antologi), dan ilmu
bahasa atau Linguistik (bahasa Arab, tata bahasa, leksikografi dan
kesusatraan).
Sedangkan yang termasuk ilmu
rasional dan sejenisnya adalah ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam, dan
ilmu-ilmu terapan. Menururt al-Attas, bagian yang termasuk ilmu kemanusian
seharusnya ditambah dengan pengetahuan Islam. Karena semua disiplin ilmu harus
bertolak kepada Islam. Karena itu ia menganjurkan agar pengetahuan tersebut
ditambahkan disiplin-disiplin baru yang berkaitan dengan hal berikut ini:
1. Perbandingan
agama dari sudut Islam
2. Kebudayaan
dan peradaban Barat, khususnya kebudayaan dan peradaban yang selama ini dan di
masa datang berbenturan dengan Islam.
3. Ilmu-ilmu
linguistik; bahasa-bahasa Islam, tata bahasa, dan literatur.
4.Sejarah
Islam; pemikiran kebudayaan dan peradaban Islam, perkembangan ilmu-ilmu sejarah
Islam, filsafat-filsafat sains Islam, Islam sebagai sejarah dunia (al-Attas,
1990:91).
Dari diskripsi
diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sesuai dengan pandangan al-Attas
tentang ilmu, ia melihat bahwa Universitas Islam tidak dapat mencontoh begitu
saja pada Universitas Barat yang senantiasa memisahkan ilmu pengetahuan dan
nilai dalam dua bidang yang dipisahkan oleh ruang hampa. Universitas Islam
mesti mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai demi terwujudnya manusia
ideal, yaitu manusia beradab.
AKTUALISASI
KONSEP AL-ATTAS DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER
1. Corak
Pemikiran Pendidikan
Apabila ditelaah dengan cermat,
format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas sebagaimana telah
dideskripsikan, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan
Islam sebagai suatu pendidikan terpadu.
Hal tersebut dapat secara jelas
dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni terwujudnya manusia
yang 'baik', yaitu manusia yang universal(Al-Insan Al-Kamil). Insan kamil yang
dimaksud adalah manusia yang bercirikan: Pertama; manusia yang seimbang,
memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian; a). dimensi isoterikvertikal yang
intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan b). dimensi eksoterik, dialektikal,
horizontal, yaitu membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya.
Kedua; manusia seimbang dalam kualitas pikir, dzikir dan amalnya (Achmadi,
1992: 130). Maka untuk menghasilkan manusia seimbang yang bercirikan tersebut
merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih
dahulu paradigma pendidikan yang terpadu.
Dari deskripsi di atas, dapat
ketahui bahwa orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan
yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan
keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib
(adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan
bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat
proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di
masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda
dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi
pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
Hal itu merupakan indikator bahwa
pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu
kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan
aspek kognitif (sensual–logis) dan psikomotorik (sensual-empiris). Hal ini
relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan
moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek
transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan
psikomotorik. Domain Iman diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran
Islam tidak hanya menyangkut hal-hal yang rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal
yang supra rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali
didasari dengan iman, yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Domain Iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai
hidup peserta didik, dan dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal
yang dilakukan.
2. Kondisi
obyektif pendidikan Islam dewasa ini
Untuk memotret bagaimana kondisi
dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan
penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan
bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun
statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi ia
sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan
Islam yang dicita-citakan.
Prof. Dr. Isma’il Raji Al-Faruqi
dalam karya monumentalnya islamization of knowlegde: general principles and
workplan mensinyalir bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan,
berada di bawah anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Al-Faruqi meyakini bahwa
kondisi umat islam yang memprihatinkan ini, disebabkan oleh sistem pendidikan
yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan Barat, baik materi maupun
metodologinya (AL-Faruqi, 1984:17).
Tidak bisa dipungkiri, bahwa
masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam arus perubahan yang
sangat dahsyat seiring datangnya era globalisasi dan informasi. Sebagai
masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah berusaha menghindari
pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya modernisasi yang diwujudkan
melalui pembangunan berbagai sektor termasuk pendidikan, intervensi dan
westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan dengan itu Fazlur Rahman
Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam
saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang
sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam.
Khursyid
Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang
ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu: Pertama,
pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan
pelajar. Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati
dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran,
tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat
terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu
dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan
manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar. (Achmad,
1992:22-23).
Sementara Al-Attas melihat bahwa
universitas modern (baca:Barat) tidak mangakui eksistensi jiwa atau semangat
yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada fungsi administratif pemeliharaan
pembangunan fisik.
Dari berbagai pemaparan di atas
Dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah
terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikna Barat. Dimana paradigma
pendidikan Barat tersebut secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan
pengejaran pengetahuan yang menitik beratkan pada segi teknik empiris,
sebaliknya tidak mengakui eksistensi jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas
serta jauh dari landasan spiritual.
3. Menuju
paradigma pendidikan Islam
Melihat kondisi pendidikan dewasa
ini sebagaimana telah dideskripsikan, maka peniruan terhadap konsepsi
pendidikan Barat harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan dengan cita-cita
pendidikan Islam. Sebaliknya merupakan suatu keniscayaan untuk mencari
paradigma pendidikan yang paling sesuai dengan cita-cita islam.
Dalam wacana ilmiah, setidaknya
dapat dikemukakakan beberapa alasan mendasar tentang pentingnya realisasi
paradigma pendidikan Islam. Pertama, Islam sebagai wahyu Allah yang meruapakan
pedoman hidup manusia untuk mencapia kesejahteraan di dunia dan akherat, baru
bisa dipahami, diyakini, dihayati dan diamalkan setelah melalui pendidikan.
Disamping itu secara fungsional Nabi Muhammad, sendiri di utus oleh Allah
sebagai pendidikan utama manusia. Kedua, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora
juga termasuk ilmu normatif, sebab ia terikat dengan norma-norma tertentu.
Disini nilai-nilai Islam sangat memadai untuk dijadikan sentral norma dalam
ilmu pendidikan itu.
Ketiga, dalam memecahkan dan
menganalisa berbagai masalah pendidikan selama ini cenderung mengambil sikap
seakan-akan semua permasalahn pendidikan, baik makro maupun mikro diyakini
dapat diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat, padahal
yang disebut terakhir tadi bersifat sekuler. Oleh karena itu, nilai-nilai ideal
Islam mestinya akan lebih sesuai untuk menganalisa secara kritis fenomena
kependidikan (Lihat Achmadi, 1992: viii-ix).
4. Aktualisasi
konsep Al-Attas dalam pendidikan Islam masa kini
Berdasarkan pada fenomena dan
kondisi obyektif dunia pendidikan masa kini pada umumnya dan pendidikan Islam
pada khususnya, maka pemikiran pendidikan Islam yang terformula dalam konsep
ta’dib yang ditawarkan Al-Attas, sungguh memilki relevansi dan signifikansi
yang tinggi serta layak dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk
diaktualisasikan dan di implementasikan dalam dunia pendidikan Islam. Karena
pada dasarnya ia merupakan konsep pendidikan yang hendak mengintegrasikan
dikhotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan-equilibrium, bercorak moral
dan religius. Secara ilmiah Al-Attas telah mengemukakan proposisi-proposisinya
sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang sangat jelas. Sehingga bukanlah
suatu hal yang naif bahwa statement Al-Attas ini merupakan sebuah jihad
intelektual dalam menemukan paradigma pendidikan Islam. Bila dicobakan untuk
berdialog dengan filsafat ilmu, apa yang diformulasikan oleh Al-Attas dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik dari dataran ontologis, epistemologis
maupun aksiologis.
Filsafat Pendidikan
Islam
Pengertian
Secara
harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata
Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta
cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani
mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap
hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan
menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa
filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab
dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu
terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab
falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta,
suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi,
Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau
lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara
itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami
perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal
sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa
kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau
semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian
filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau
kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari
segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau
pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya
bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim
digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai
rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa
pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Berdasarkan
rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan,
yaitu: (1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan
yang dilakukan secara sadar; (2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong; (3)
Ada yang di didik atau si terdidik; dan (4) Adanya dasar dan tujuan dalam
bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai
suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif
dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan
sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi
pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya
mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan
diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan
hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk
mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat
tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai
sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti
ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan
pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di
akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi
Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life
education ).
Dari
uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya
bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi
di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini
ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini
di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan
orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan,
serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar
pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman
Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah
kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami
menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami.
Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar
( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min
yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat
kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya,
serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh
kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari pengertian
di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
Bahwa
al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan
hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang
diridloi Allah SWT.
Menurut
Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk
mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam
bentuk pendidikan Islam.
Al
Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi
petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya
agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan
Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan
berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya
sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan
dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk
mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya
kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam
pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya
dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah
pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan
penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit,
dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern
dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para
ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan
memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu
pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan
hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang
sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang
melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung
unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi
itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa
hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan,
hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan
sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati
sebelumnya.
Sedangkan
para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang
tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya
gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada
satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau
dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat
dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka
terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan
menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai
ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan
Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan
dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka
sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan
islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan
kemajuan.Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber
ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia
:
Menyadarkan
secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta
tanggung jawab dalam kehidupannya.
Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya
dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya. Menyadarkan
manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Menyadarkan
manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami
hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada
manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah
mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam
itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat
dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai
sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai
sumber sekunder.
Dengan
demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah
filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang
dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas,
tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan
mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam
telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya
beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian
tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau
filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang
kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa
mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang
mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan,
ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan
menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini
memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah
yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan,
masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Prof. Mohammad
Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5
tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al
Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :
1.
Untuk membantu pembentukan akhlak
yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan
Islam.
2.
Persiapan untuk kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi
keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh
perhatian kepada keduanya sekaligus.
3.
Menumbuhkan ruh ilmiah pada
pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu
bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra,
kesenian, dalam berbagai jenisnya.
4.
Menyiapkan pelajar dari segi
profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu,
teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam
hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5.
Persiapan untuk mencari rezeki dan
pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat
agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada
segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak
lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagai suatu
metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal
sebagai berikut :
Pertama,
bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal
ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai
pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di
ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.
Kedua, metode
pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat
dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing
prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam
menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an
semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad
Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
Ketiga, metode
pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode
analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis
terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
Keempat,
pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula
dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan
ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori
keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula.
Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam
analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk
menjelaskan suatu fenomena.
Pandangan Islam Dalam
Masyarakat
Masyarakat secara sederhana didefinisikan sebagai kumpulan individu
atau kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama. Di
dalamnya termasuk segala jalinan hubungan yang timbal balik yang berangkat atas kepentingan bersama, adat
kebiasaan, pola-pola, teknik-teknik, sistem hidup, undang-undang, institusi dan
segala segi fenomena yang dirangkum oleh masyarakat dalam pengertian luas dan
baru.
Dari berbagai definisi tentang masyarakat dapat diambil beberapa
unsur yang ada dalam suatu masyarakat, yaitu: (1) Hidup bersama dua orang atau
lebih, (2) Hidup bergaul dan bercampur cukup lama, (3) Hidup dalam suatu
kesatuan yang utuh, (4) Mereka sadar bahwa sistem kehidupan bersama menimbulkan
sebuah kebudayaan tersendiri, sehingga mereka merasa adanya ketertarikan di
antara mereka, (5) Adanya aturan yang jelas dan disepakati bersama.
Adapun masyarakat menurut Islam mempunyai sikap dan ciri tertentu
yang dapat membedakannya dari masyarakat lain. Komunitas masyarakat tersebut
dapat dilihat pada komunitas yang ditampilkan pada zaman Rasul SAW, zaman
keemasan Islam dan pada masa sekarang, masyarakat Islam tersebut adalah
masyarakat yang teratur rapi, aman, makmur, adil dan bahagia yang meliputi
seluruh umat. Kehidupan komunitas masyarakat dalam Islam menerapkan ajaran
Islam dalam seluruh aspek kehidupan seperti bidang akidah, ibadah, akhlaq,
undang-undang dan sistem pemerintahan.
Dalam Islam,
anggota masyarakat mempunyai persamaan dalam hak dan kewajiban, Islam tidak
mengenal kasta dan pemberian hak-hak istimewa kepada seorang atau kelompok.
Kemuliaan seseorang dalam masyarakat Islam hanyalah karena ketaqwaannya kepada
Allah. Adanya perbedaan itu tidaklah
menyebabkan perbedaan dalam kedudukan sosial. Hal ini merupakan dasar yang
sangat kuat dan tidak dapat dimungkiri telah memberikan kontribusi pada
perkembangan hak-hak asasi manusia.
Menurut al-Syaebaniy, masyarakat Islam mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1.
Masyarakat Islam mempunyai tonggak
dasar pada keimanan. Ciri pertama ini membuahkan rasa aman dan damai di hati
setiap anggota masyarakat, sejak komunitas yang terkecil sampai pada komunitas
kolektif yang lebih luas. Dasar iman dapat mendidik manusia agar mau bekerja
keras, karena hanya amal yang saleh yang ikhlas karena Allah yang akan
diperhitungkan oleh Allah. Iman membuahkan rasa tanggung jawab terhadap segal
tindakan manusia. Iman membuahkan takwa kepada Allah semata, tak ada yang
ditakuti selain Allah saja.
2.
Agama diletakkan pada proporsi yang
tinggi. Segala urusan hidup dikembalikan kepada hukum-hukum Allah.
3.
Nilai manusia adalah akhlaknya.
Akhlak dikaitkan dengan agama sebagai realisasi praktis terhadap-Nya. Islam
mendorong agar masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia.Ilmu
mendapat perhatian yang sepenuhnya oleh masyarakat Islam. Masyarakat berkeyakinan bahwa dengan ilmu, manusia
memperoleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk aspek ekonomi yang
dapat meningkatkan
4.
income masyarakat. Dengan ilmu,
manusia akan dapat memperbaiki taraf hidup dan derajatnya.
5.
Islam menghormati dan menjaga
kehormatan insan. Penghormatan itu tidak membedakan warna kulit, bangsa atau
pun agama. Hak pribadi seseorang dihormati. Hak untuk mendapatkan keadilan di
junjung tinggi. Pribadi pada hakikatnya bukan hamba masyarakat dan begitu pula
sebaliknya.
6.
Keluarga mendapat perhatian penuh
dalam masyarakat Islam. Peranan keluarga sebagai dasar utama proses pembinaan
generasi perlu berangkat atas dasar kasih sayang, keadilan kebenaran dan budi
luhur.
7.
Masyarakat Islam adalah masyarakat
yang dinamis. Mereka bertekad untuk maju terus.
8.
Kerja seorang mendapat perhatian
dalam masyarakat Islam. Dalam hal ini, manusia diukur oleh kerjanya, bukan
posisinya.
9.
Harta diperhitungkan untuk menjaga
kehormatan insan. Harta harus didapat dari jalan halal, disalurkan harus sesuai
dengan perintah Allah, harta tidak boleh ditumpuk dan tidak dimanfaatkan dan
penunaian dari harta itu berdasarkan hak dan tuntutan dengan ketentuan: (1)
Untuk diri yang sesuai dengan kebutuhannya dan (2) untuk masyarakat dimulai
dari kerabat yang terdekat kemudian yang terjauh.
10. Nabi
menekankan agar masyarakat muslim itu kuat fisik dan mentalnya.
11. Masyarakat
muslim adalah masyarakat yang terbuka dan dapat menerima yang baik dari mana
pun datangnya, tanpa terkelupas dari ruh ilahiyah.
12. Dalam
hal bantu membantu, masyarakat Islam jadi tauladan terutama bukan hanya untuk
golongannya saja, tapi juga untuk semua golongan.
Filsafat Akhlak Dalam Islam
Klasifikasi Akhlak
Akhlak
merupakan bagian dari kehidupan manusia. Studi mengenai akhlak meliputi
deskriptif (meliputi akhlak yang timbul pada masyarakat), akhlak normatif
(perspektif akhlak), dan metaakhlak (analisis akhlak). Dalam esensi konsep
moral terbagi kepada pembagian konsep moral yaitu konsep esensial (konsep yang
di dapat melalui indra lalu diabstraksi melalui akal), konsep logis (mental),
dan konsep falsafi (pengamatan dari beberapa akal lalu dikomparasikan di antara
keduanya). Konsep esensial membicarakan mengenai batasan-batasan sedangkan
konsep logis dan falsafi membicarakan karakternya. Statemen moral bisa
dituangkan dalam bentuk afirmatif dan dalam bentuk normatif. Tetapi dalam
artian sesungguhnya penerapan konsep moral sebenarnya masuk kepada konsep
universal falsafi dimana statemen moral bersifat konvensional namun isinya
berdasarkan pertimbangan faktual dari masyarakat. Asal usul kemunculan konsep
moral adalah konsep moral sebagai realitas objektif (konsep moral hanya
dipersepsi oleh akal), konsep moral penetapan/konvensi (konsep moral ada
kaitannya dengan konsep objektif), dan konsep moral sebagai naluri (moral itu
bersifat naluriah dan ada dalam kodrat manusia).
Parameter Akhlak Yang Baik
Statemen-statemen
moral terbagi atas dua macam yaitu obligatif (harus/tidak boleh) dan evaluatif
(baik/buruk). Mengenai esensi konsep akhlak baik dan buruk masuk dalam statemen
moral evaluatif. Beberapa analisis kebaikan dan keburukan menurut beberapa filsuf
dimulai dari manusia memilih apakah itu baik untuk dirinya atau tidak. Beberapa
filsuf cenderung berpendapat bahwa mengenai baik dan buruk itu tergantung dari
fisiknya. Apabila ia cantik, maka ia baik. Begitupun sebaliknya. Namun pada
dasarnya semua itu bukanlah menjadi tolok ukur. Parameter kebaikan dan
keburukan adalah apakah itu bermanfaat untuk diri manusia secara khusus, dan
kemanusiaan secara universal. Pandangan-pandangan seputar kebaikan dan
keburukan moral adalah objektivitas (konsep objektivitas dari alam luar),
simbol emosionalitas (pandangan baik/buruk mengenai keindahan & kejelekan),
I’tibar (baik/buruk dalam arti penetapan), dan kehendak Tuhan. Latar belakang
permasalahan dalam pemikiran islam terpecah dalam dua kelompok besar yaitu Adliyah
(akal manusia yang dapat menentukan baik/buruknya sesuatu dan perintah Tuhan
merupakan petunjuk manusia dari luar) dan Hanafiyah (sama dengan objektivitas
baik/buruk dan lebih menekankan kepada perintah Tuhan). Arti-arti baik dan
buruk serta klaim asy’syariah dimana dimaksudkan menemukan titik-titik
persamaan antara pendapat kaum Asysyariah dan Adliyah yaitu kesempurnaan dan
kekurangan (baik itu sempurna dan buruk itu kurang), kesesuaian dengan tidaknya
tabiat manusia (kebaikan adalah keinginan manusia dan keburukan sebaliknya),
keseuaian dengan tidaknya tujuan, dan ketersanjugan dan hujatan. Analisis atas
pandangan Asysyariah tidak berbeda dengan Adliyah seperti perintah kepada Tuhan
namun Adliyah juga menekankan kepada akalnya. Maka dari itu manusia tidak hanya
cukup hidup dengan perintah-perintah Tuhan saja. Karena dalam kalangan
Asy-syariah saja sudah berbeda penafsiran maka dari itu membutuhkan ajaran
serta arahan Nabi pula. Objektivitas acuan-acuan abstraksi dimaksudkan seperti
standar kebaikan (kesesuaian antara tindakan dan tujuan manusia bertindak).
Akar perdebatan dalam studi moral di seluruh dunia ini yang seperti dibahas
sebelumnya bahwa di Negara ini tidak boleh dan di Negara lain tidak boleh
adalah karena ketidaktahuan seseorang mengenai kesempurnaan hakiki dan
ketidaktahuan dan pemahaman yang salah mengenai tindakan yang sengaja dan
kesempurnaan yang sesungguhnya.
Tanggung Jawab Moral (AKHLAK)
Pentingnya
studi nilai moral tidak hanya dalam bidang filsafat, melainkan sosiologi
politik, ekonomi, dan masih banyak lagi. Tanggung jawab moral sangat dibutuhkan
dan sudah lama menjadi perbincangan para filsuf. Tanggung jawab moral dapat
berupa suatu hak atau suatu kepatutan. Syarat-syarat tanggung jawab moral
berupa kemampuan (kemampuan melakukan/meninggalkan kewajiban), pengetahuan dan
kesadaran (manusia tahu apa yang dibebankan padanya), dan pilihan dan kehendak
yang bebas. Argumentasi determinisme berupa falsafi, natural, dan teologis.
Beragam tanggung jawab moral seperti kepada Tuhan, diri sendiri, orang lain,
dan alam.
Kurikulum Pendidikan Islam
Pengertian
Kurikulum
Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa
latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran. Ada yang mengatakan berasal
dari bahasa prancis courier yang berarti berlari.Ada pula yang mengatakan
kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang artinya pelari dan
“curere” yhang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dikaitkan
dengan pendidikan, kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa
kata bahasa Arab istilah kurikulum dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan
terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika
dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan
peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.
Sedangkan
secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para
ahli berikut ini:
a. Crow and Crow : Kurikulum adalah rancangan
pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis
sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.
b. Saylor Alexander (dikutip S. Nasution) :
Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga
didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di
lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
c. Hasan langgulung : Kurikulum adalah
sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik
yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
d. UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan
mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Dari beberapa
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan salah satu
komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum
merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman
dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Dengan demikian, pengertian
kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan
oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja.
Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan
sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya
disekolah, tapi juga diluar sekolah.
Dalam pengajaran biasanya hanya
terfokus pada ruang kelas saja, tapi dengan perkembangan yang terjadi saat ini
sumber pendidikan dapat diperoleh dari berbagai hal diluar kelas seperti
perpustakaan, museum, majalah, televisi, surat kabar, radio dan yang lebih
memudahkan lagi adalah internet yang segala sesuatunya ada informasi
didalamnya.
Jadi kurikulum juga harus
mempertimbangkan hal itu agar peserta didik bisa terus mengikuti perkembangan
dari suatu ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan dan lain sebagainya yang
ada diluar dari sekolah agar tidak dicap sebagai siswa yang gagal akan
perkembangan zaman.
Ciri-Ciri
Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum, kurikulum tersusun
dengan beberapa aspek utama yang menjadi cirrinya. Hasan Langgulung
mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu:
· Tujuan pendidikan yang ingin dicapai
oleh kurikulum itu.
· Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu
data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk
kurikulum itu.
· Metode dan cara-cara mengajar dan
bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang
dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
· Metode dan cara penilaian yang
digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang
dalam kurikulum.
Berangkat dari ke kempat hal yang
menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan filsafat pendidikan
yang dikembangkan pada pendidikan islam tentu semua akan menyatu dan terpadu
dengan ajaran islam itu sendiri. Pendidikan yang merupakan suatu proses
memanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan
kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha
mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting
untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu,
setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu
mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah
satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana
ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang
diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang
hendak dicapai.
Omar Mohammad al- Toumy al-
Syaibany menyebutkan lima ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut;
I.
Menonjolkan tujuan agama dan akhlak
pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan – kandungan, metode-metode,alat-alat,
dan tekniknya bercorak agama.
II.
Meluas cakupannya dan menyeluruh
kandungannya.
III.
Bersikap seimbang diantara berbagai
ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga
seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan
pengembangan social.
IV.
IV.Bersikap menyeluruh dalam menata
seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
V.
Kurikulum yang disusun selalu
disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.
Sedangkan
Al-Shaybani mengatakan bahwa kurikulum pendidikan islam haruslah mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
- Menonjolkan mata pelajaran dan akhlak .
Agama dan
akhlak seharusnya diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh-contoh dari
orang terdahulu yang sholeh.
-
Memperhatikan pengembangan yang
menyeluruh dari aspek pribadi siswa yaitu jasmani, akal dan rohani
-
Memperhatikan keseimbangan antara
pribadi dan masyarakat, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, keseimbangan itu
tentunya bersifat relative karena tidak dapat diukur secara objektif.
-
Memperhatikan juga seni
halus,seperti ukir, pahat, tulis indah, gambar dan sejenisnya.Selain itu juga
memperhatikan pendidikan jasmani seperti latihan militer, tehnik, keterampilan
dan bahasa asing sekalipun, semua ini diberikan kepada perorangan secara aktif
sesuai bakat, minat,dan kebutuhan.
-
Mempertimbangkan perbedaan-perbedaan
kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan
perbedaan zaman. Kurikulum dirancang sesuai kebudayaan.
Asas-Asas Kurikulum
Secara teoritis penyusunan sebuah
kurikulum harus berdasarkan asas-asas tertentu. Asas – asas tersebut antara
lain menurut S. Nasution yaitu :
1. Asas Filosofis
Berperan
sebagai penentuan tujuan umum pendidikan sehingga penyusunan kurikulum
mengandung kebenaran, dimana asas ini merupakan pandangan hidup mendidik anak
sesuai dengan tujuan pendidikan.
Asas filosofis
membawa rumusan kurikulum pendidikan islam kepada tiga dimensi:ontologi,
epistemologi, dan aksiologi.Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih
banyak memberi anak didik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan
fisik-fisik, obyek-obyek.Pada mulanya dimensi ini diterapkan Allah SWT.dalam
pengajaranNya kepada nabi Adam as dengan memberitahukan atau mengajarkan
nama-nama benda (QS.Al-Baqarah{2}:31) dan belum sampai pada tahap penalaran
atau pengembangan wawasan.Demensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang
sah,yang berdasarkan metode kontruksi pengetahuan yang disebut metode
ilmiah,yang sifatnya mengajak berfikir menyeluruh,reflektif dan kritis,
implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung
fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan tidak mutlak, tentatif dan dapat
berubah-ubah. (QS.Al-Baqarah {2}:26-27); dan dimensi aksiologi mengarahkan
pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar
memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari
nilai-nilai yang tidak diinginkan.Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya
guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup
menuju kesempurnaan, kenyamanan dan dijauhi dari segala sesuatu yang
menimbulkan kesengsaraan atau kerugian
Tugas ketiga
dimensi tersebut merupakan kerangkah dalam perumusan kurikulum pendidikan
islam. Dari berbagai macam filsafat pada dasarnya memberikan khasana
intelektual di bidang kurikulum pendidikan islam lainnya, semakin banyak pula
kontribusi teori dan konsep. Teori dan konsep yang ditimbulkan dari berbagai
macam aliran filsafat tidak dapat begitu saja diterima atau ditolak, namun
diseleksi terlebih dahulu kemudian hasilnya dimodifikasi pada khasana kurikulum
pendidikan islam
2. Asas Sosiologis
Memberikan
dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Asas Organisatoris
Asas ini
memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan itu disusun, dan bagaimana
penentuan luas dan urutan mata pelajaran.
4. Asas Psikologis
Asas ini
memberikan prinsip – prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai
aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dipahami oleh anak
didik sesuai dengan perkembangan.
Prinsip-Prinsip
Kurikulum Pendidikan Islam
Menurut
Al-Taumi sebagaimana yang di kutip oleh Muhammad Zein dalam bukunya ‘’ Materi
filsafat pendidilan islam “, prinsip dasar yang harus dipegengi dalam menyusun
kurikulum pendidikan islam adalah:
1. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan agama,termasuk ajaran dan nilainya.
2. Tujuan dan kandungan kurikulum pendidikan
islam harus menyeluruh (universal)
3. Tujuan dan kandungan kyrikulum pendidikan
islam harus adanya keseimbangan.
4. Kurikulum pendidikan islam harus
berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan anak didik serta alam
lingkungan di mana anak didik tersebut hidup.
5. Kurikulum pendidikan islam harus dapat
memelihara perbedaanindividu diantara anak didik dalam bakat, minat, kemampuan
dan kebutuhan mereka.
6. Kurikulum pendidikan islam harus mengikuti
perkembangan dan perubahan zaman, filsafah, prinsip, dasar, tujuan dan metode
pendidikan islam harus dapat memenuhi tuntutan zaman.
7. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan pengalaman dan aktifitas anak didik dalam masyarakat.
H.M. Arifin
dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan empat prinsip dalam
penyusunan kurikulum pendidikan islam yaitu:
1. Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan
idealitas islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu
pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup islami.
2. Untuk berfungsi alat yang efektif
mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus nengandung tata nlai islami yang
intrinsik dan ekstrinsik mampu merealisasikantujuan pendidikan islam.
3. Kurikulum yang bercirikan islami itu
diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam
tujuan pendidikan islam
4. Antara kurikulum, metode, dan tujuan
pendidikan islam harus saling menjiwai dalam proses mencapai produk bercita-citakan
menurut ajaran islam.
Isi Kurikulum
Pendidikan Islam
Cakupan bahan pengajaran yang ada
dalam suatu kurikulum kini terus semakin luas atau mengalami perkembangan
karena tuntutan dari kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, tekhnologi yang terjadi
di dalam masyarakat, dan beban yang diberikan pada sekolah.
Berdasarkan tuntutan perkembangan
itu maka para perancang menetapakan cakupan kurikulum meliputi 4 bagian
yaitunya :
a. Tujuan merupakan arah, sasaran, target
yang akan dicapai melalui proses belajar mengajar.
b. Isi merupakan bagian yang berisi
pengetahuan, informasi, data, aktifitas, dan pengalaman yang diajarkan kepada
peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
c. Metode merupakan cara yang digunakan
guru atau dosen kepada peserta didik untuk menyampaikan mata pelajaran agar
mudah dimengerti.
d. Evaluasi merupakan cara yang dilakukan
guru untuk melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran.
Untuk
menentukan kualifikasi isi kurikulum pendidikan islam dibutuhkan syarat yang
perlu diajukan dalam perumusan yaitu:
a) Materi yang disusun tidak menyalahi
fitrah manusia,
b) Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan
islam,
c) Disesuaikan dengan tingkat perkembangan
dan usia peserta didik,
d) Membawa peserta didik kepada objek empiris
dan praktik langsung,
e) Penyusunan bersifat integral,
terorganisasi,
f) Materi sesuai dengan masalah mutakhir
yang sedang dibicarakan,
g) Adanya metode yang sesuai,
h) Materi yang diajarkan berhubungan dengan
peserta didik nantinya.,
i) Memperhatikan aspek sosial,
j) Punya pengaruh positif,
k) Memperhitungkan waktu, tempat,
l) Adanya ilmu alat ayng mempelajari ilmu
lain.
Setelah syarat
itu dipenuhi disusunlah isi kurikulum pendidikan. Isi kurikulum menurut Ibnu
Khaldum terbagi jadi 2 tingkatan:
1) Tingkatan Pemula
Materi
kurikulum difokuskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah
2) Tingkatan Atas
Tingkatan ini
punya 2 klasifikasi:
Ilmu yang
berkaitan dengan zatnya
Ilmu yang
berkaitan dengan ilmu lain seperti ilmu bahasa, matematika, mantiq
Menurut
Al-Ghazali klasifikasi isi kurikulum pada 3 kelompok yaitu:
a. Kelompok menurut kuantitas yang mempelajari
Ilmu fardhu
‘ain yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah
Ilmu fardhu
kifayah yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim saja
misalnya kedokteran, pertanian dan lainnya
b. Kelompok menurut fungsinya
Ilmu tercela
adalah ilmu yang tidak berguna untuk
masalah dunia maupun akhirat serta mendatangkan kerusakan
Ilmu terpuji
adalah ilmu agama yang dapat mensucikan jiwa dan menghindari hal-hal yang
buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan diri pada allah
Ilmu terpuji
dalam batasan tertentu tidak bolaeh dipelajari secara mendalam karena akan
mendatangkan ateis.
c. Kelompok menurut sumbernya
Ilmu Syar’iyah
adalah ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu ilahi dan sabda nabi
Ilmu ‘Aqliyah
adalah ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen dan
akulturas.
Allah berfirman
dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 mengenai isi kurikulum yang artinya:“Kami akan
memeperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami disegenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran iu
adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia
menyaksikan segala sesuatu”
Ayat tersebut
terkandung 3 isi kurikulum pendidikan islam yaitunya:
1. Isi kurikulum berdasarkan pada ketuhanan
2. Isi kurikulum berorientasi pada manusia
3. Isi kurikulum berorientasi pada alam.
Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam
Al-Abrasyi
Biografi
Muhammad Athiyah al-Abrasyi adalah seorang tokoh pendidikan yang
hidup pada masa pemerintahan Abd. Nasser yang memerintah Mesir pada tahun
1954-1970. Beliau adalah satu dari sederetan nama penting para cendekiawan Arab
dan Muslimin. Beliau adalah penulis tentang pendidikan Keislaman. Beliau
dilahirkan pada awal April tahun 1897 dan wafat pada tanggal 17 Juli 1981.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi juga adalah seorang sarjana yang telah lama
berkecimpung dalam dunia pendidikan di Mesir yang merupakan pusat ilmu
pengetahuan Islam, sekaligus sebagai guru besar pada fakultas Darul Ulum Kairo
University, Kairo. Sebagai guru besar, beliau secara sistematis telah
menguraikan pendidikan Islam dari zaman ke zaman serta mengadakan komparasi di
bidang pendidikan mengenai prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan
modern di dunia Barat pada abad ke-20 ini. Pendapat Muhammad Athiyah al-Abrasyi
tentang pendidikan Islam banyak dipengaruhi dari rangkuman, pemahaman, dan
pemikiran tokoh-tokoh muslim sebelumnya, terutama pemahaman secara filosofis.
Beliau cenderung menjadikan Ibnu Sina, al-Ghazali dan ibnu Khaldun sebagai nara
sumbernya.
Konsep Pendidikan Islam Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi
Pendidikan secara umum pada dasarnya merupakan kebutuhan yang
primer manusia, baik secara individu maupun sebagai warga negara, yang menuju
kearah terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam Islam, istilah yang digunakan
untuk pendidikan adalah Tarbiyah, ta'lim, ta'dib Dan sekarang berkembang secara
umum di dunia Arab adalah tarbiyah ternyata masih merupakan masalah khilafiyah,
(kontroversial) Pendidikan Islam menurut 'Athiyah dalam kitab at-Tarbiyah
al-Islamiyah Wafalasifatuha adalah:
“Sesungguhnya pendidikan Islam terdiri dari prinsip-prinsip
(demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam
pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara yang kaya dan
yang miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban
dalam bentuk immateri, bukan untuk tujuan materi (kehendak), dan menerima ilmu
itu dengan sepenuh hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang
kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melakukan perjalanan panjang
dansulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama.”
Berdasarkan pernyataan Muhammad Athiyah Al-Abrasyi di atas, intinya
pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan
kehidupan yang sempurna dengan mengembangkan berfikir bebas dan mandiri serta
demokratis dengan cara memperhatikan kecenderungan peserta didik secara
individu yang menyangkut aspek kecerdasan akal, dan bakat dengan dititik
beratkan pada pengembangan ahlak. Pengertian pendidikan Islam tersebut berupaya
mengembangkan anak sesuai dengan akal dan bakat dengan bimbingan dan dengan
dorongan yang dititik beratkan pada pengembangan ahklak. Pendidikan Islam
disini telah banyak memberikan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan
tidak hanya terbatas pada pendidikan Islam saja, namun, menjadikan pendidikan
Islam ini berkembang di dunia pendidikan modern dewasa ini. Hal ini dikarenakan
pendidikan Islam menurut 'Athiyah memang merupakan disiplin ilmu yang memiliki
dasar dan tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Islam memang sangat ideal untuk dilaksanakan di dalam dunia
pendidikan. Lapangan dari pendidikan Islam telah menembus berbagai dimensi
kependidikan, baik bentuk, orientasi, sikap, maupun volume kurikulum yang
selalu dipengaruhi oleh pengaruh eksternal dan internal umat Islam, yang
dilancarkan untuk melakukan perubahan pandangan, pikiran dan tindakan umat
Islam dalam menghadapi kemajuan zaman dan tantangannya.
Pengaruh yang ditimbulkan dari pendidikan Islam ini sangat besar
sekali dalam kebangkitan di segala bidang pendidikan, yang sebelumnya dipetik
dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam agama dan budi pekerti dan diutamakan
pula segi kemanusiaan, sosial, dan kerjasama, seperti persaudaraan,
kemerdekaan, keadilan, dan kesempatan, yang sama, disamping kesatuan rohaniah
seluruh umat Islam. Pendidikan disini merupakan bimbingan dan pimpinan yang
secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Dalam ajaran Islam,
kepribadian yang utama adalah akhlak, dimana manusia memiliki akhlak yang utama
sebagai manusia yang sempurna (insan kamil) sesuai dengan al-Quran dan
al-Sunnah. Pendidikan ini merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkembang,
tidak statis karena berhubungan dengan kebutuhan manusia yang selalu mengikuti
perkembangan zaman. Ajaran Islam berisi ajaran tentang sikap dan tingkah laku
pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, sehingga
pendidikan Islam merupakan individu dan juga pendidikan masyarakat.
Metode pendidikan moral dalam Islam menurut Muhammad ‘Athiyah Al-
Abrasyi
Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Menurut Muhammad
‘Athiyah Al-Abrasyi metode merupakan jalan yang dilalui untuk memperoleh
pemahaman pada peserta didik, 'Athiyah mengatakan bahwasanya Metode pendidikan
Islam telah modern sejak semula. Hal ini terlihat dalam beberapa prinsip yang
mendasar seperti adanya unsur demokrasi, kebebasan, kemerdekaan, persamaan
dalam pendidikan, unsur pengamatan kepada bakat anak, kecenderungan, fitrah,
kecakapan, kemampuan, berkomunikasi dengan anak dengan penuh kasih sayang dan
pendidikan seumur hidup.
Mengenai kaidah-kaidah dasar dalam pendidikan Islam beliau
sependapat dengan alGhozali, di antaranya:
a. Tidak ada pembatasan usia anak mulai belajar.
b. Memberi kebebasan kepada peserta didik memilih disiplin ilmu
yang disukai sesuai bakatnya.
c. Cara mengajar anak yang belum baligh berbeda dengan metode
mengajar anak yang sudah baligh, pelajaran dimulai dari yang paling mudah.
d. Supaya pendidik tidak mengajarkan kepada anak didik dua disiplin
ilmu yang berbeda dalam satu waktu atau pada waktu yang sama, sebaiknya
masing-masing ilmu diajarkan secara khusus dalam waktu tertentu, diberikan oleh
pendidik yang menguasai ilmu itu sehingga peserta didik benar-benar
mamahaminya.
e. Ketika memperhatikan dan mengindahkan pada waktu menunjukkan
contoh dan alat peraga kepada anak sebaiknya dengan sesuatu yang mudah
ditangkap pancaindera dan perasaan mereka dan berangsur-angsur dapat dicerna
akal mereka.
Athiyah
mengklasifikasikan metode dalam pengajaran menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Metode Deduktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia remaja
2. Metode Induktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia anak-anak. Diapun
menyetujui lima langkah yang diterapkan para pendidik dalam memberikan
pelajaran dimulai dengan pendahuluan, berikut materi pelajaran, kemudian
hubungan pelajaran baru dengan pelajaran yang sudah diketahui, lalu hasil yang
didapat dan akhirnya latihan atau praktik.
Di dalam pendidikan Islam Al abrasy membaginya menjadi dua materi.
Diantaranya:
1. Materi untuk tingkat dasar (pendidikan dasar) meliputi; materi
Al-Qur`an, sendi-sendi agama, membaca, menulis, berhitung, bahasa, etika,
cerita, ketrampilan. sajak-sajak yang mengandung ajaran akhlak, menulis indah,
cerita-cerita dan latihan berenang serta berkuda
2. Untuk pendidikan lanjutan, pelajaran yang diberikan juga lebih
meningkat yaitu dengan memberikan perhatian secara khusus untuk mempersiapkan
mereka, dengan tugas-tugas yang kelak akan mereka pikul seperti pelajaran
muhadharah (berpidato), belajar sejarah (terutama sejarah peperangan), tata tertib
persidangan serta memperhatikan pula bahan pokok dasar seperti pada tingkat
pemula, Sedangkan untuk pendidikan tinggi pengajaran diarahkan kepada yang
lebih spesifik yaitu diberikan pelajaran eksakta dan sastra, namun tetap tidak
melupakan bahan pokok pada tingkat permulaan Dari sini Al abrasy memberikan
beberapa poin diantaranya:
a. Perhatian kaum muslimin terhadap studi keagamaan sangat besar
dibandingkan dengan bidang studi lainnya.
b. Menurut pendapat al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ihwanus Shafa, kesempurnaan
manusia (insan) ini tidak akan terwujud kecuali dengan penyerasian antara ilmu
agama dan ilmu- ilmu eksakta.
c. Kecenderungan kepada pelajaran-pelajaran sastra, ilmu keagamaan,
dan kemanusiaan, lebih besar terhadap ilmu- ilmu eksakta.
d. Kurikulum atau rencana pelajaran ilmu- ilmu eksakta dan sastra
pada tingkat tinggi, lebih bersifat penggalian terhadap ilmu eksakta dan
bersifat humanitas.
Sedangkan kaitannya
dengan pendidikan moral dan akhlaq,
didalam islam terdapat beberapa metode yang dilakukan, yaitu:
1 Pendidikan secara
langsung
Yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat,
menyebutkan manfaat dan bahaya-bahayanya sesuatu; di mana pada murid dijelaskan
hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak, menuntun kepada amal baik, mendorong
mereka berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela. Dan
kini Orang-orang Amerika di Amerika Serikat kini menggunakan cara-cara ini, dan
diantara kata-kata berhikmat, wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral
anak-anak, diantaranya sebagai berikut:
a. Sopan santun adalah warisan yang terbaik
b. Budi pekerti yang baik adalah teman yang sejati
c. Mencapai kata mufakat adalah pimpinan yang terbaik
d. Ijtihad adalah perdagangan yang menguntungkan
e. Akal adalah harta yang paling bermanfaat
f. Tidak ada bencana yang lebih besar dari kejahilan
g. Tidak ada kawan yang lebih buruk dari mengagungkan diri sendiri
2 Pendidikan akhlak secara
tidak langsung
Yaitu dengan jalan sugesti seperti mendiktekan sajak-sajak yang
mengandung hikmat kepada anak-anak, memberikan nasehat-nasehat dan
berita-berita berharga, mencegah mereka membaca sajak-sajak yang mengherankan
karena ahli-ahli pendidik dalam Islam yakin akan pengaruh kosong termasuk yang
menggugah soal-soal cinta dan pelaku-pelakunya. Tidaklah kata-kata berhikmat,
nasehat-nasehat dan kisah-kisah nyata itu dalam pendidikan akhlak anak-anak.
Karena kata-kata mutiara itu dapat dianggap sebagai sugesti dari luar. Di dalam
ilmu jiwa (psikologi) kita buktikan bahwa sajak-sajak itu sangat berpengaruh
dalam pendidikan anak-anak, mereka membenarkan apa yang didengarnya dan
mempercayai sekali apa yang mereka baca dalam buku-buku pelajarannya.
Sajak-sajak, kata-kata berhikmat dan wasiat-wasiat tentang budi pekerti itu
sangat berpengaruh terhadap mereka. Juga seorang guru dapat mensugestikan
kepada anak-anak beberapa contoh dari akhlak-akhlak yang mulia seperti berkata
benar, jujur dalam pekerjaan, adil dalam menimbang, begitu pula sifat
3. Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak
dalam rangka pendidikan akhlak.
Seperti contoh mereka memiliki kesenangan meniru ucapan-ucapan,
perbuatan-perbuatan, gerak-gerik orang-orang yang berhubungan erat dengan
mereka. Sifat meniru ini mempunyai pengaruh yang besar bukan saja dalam
pengajaran tetapi juga dalam pendidikan budi pekerti dan akal. Disamping itu,
ahli-ahli didik Islam mengetahui bahwa anak-anak mempunyai pembawaan suka
dipuji, suka menampang, maka mereka memuji perbuatan-perbuatannya atau
perkataan-perkataannya yang baik dan mendorong supaya hal itu diteruskan,
sehingga akhirnya si anak tadi mempertahankan kedudukannya tadi dan senantiasa
berusaha pula memperbaiki dirinya.
Melihat dari ketiga metode tersebut maka dapat di jelaskan secara
sederhana tahap- tahap yang harus ditempuh dalam proses pembelajaran pendidikan
akhlak (moral) kepada peserta didik yaitu:
1. Dengan keteladanan
2. Dengan memberikan tuntunan
3. Dengan kisah-kisah sejarah
4. Dengan memberikan dorongan dan menanamkan rasa takut (pada
Allah)
5. Dengan memupuk hati nurani
IQBAL
Biografi
Iqbal
dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab
Barat dan Kashmir) pada tanggal 22 Februari 1873/ 2 Dhulhijjah 1289 dan wafat
ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender Masehi, atau
63 tahun menurut kalender Hijri. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi
berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan
tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai
di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore.
Iqbal menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus
pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena
baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A
dalam bidang filsafat.
Ia lahir dari
kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah
mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad
Rafiq kakeknya. Dan Iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College di
Sialkot agar ia mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan teman ayahnya yang
ahli bahasa Persia dan Arab. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia
selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore
(salah satu kota di India yang menjadi pusat kebudayaan , pengetahuan, dan
seni) di tahun 1895 di Lahore inila dia bertemu dengan Sir Thomas Arnold, pada
tahun 1905 ia studi di Cambridge-Inggris, ia berguru pada R.A Nicholson, seorang
spesialis dalam sufisme, dan seorang Neo-Hegelian, yaitu John M.E. Mc Taggart,
dan terakhir di Munich-Jerman ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908 dengan
mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia
disertasi ini ia persembahkan kepada gurunya Sir Thomas Arnold. Sekembalinya
dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat
menjadi pengacara.
Pada tahun 1922
seorang wartawan Inggris mengusulkan kepada pemerintahnya untuk member gelar
Sir kepada Iqbal. Iqbal pun mendapat undangan penguasa Inggris untuk pertama
kalinya. Mula-mula ia menolak undangan itu, tetapi ata dorongan sahabatnya,
Mirza Jalaluddin, akhirnya ia memenuhi. Gelar Sir ia terima dengan syarat gurunya, Mir Hasan,
yang ahli tentang sastra Arab dan sastra Persia juga mendapat gelar Shams
al-Ulama. Sebetulnya gurunya gurunya itu tidak begitu terkenal dan patut diberi
gelar demikian, namun Iqbal tetap bersikeras dengan syarat yang ia ajukan.
Akhirnya syaratnya itu diterima oleh penguasa Inggris.
Saat-saat
Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada tahun 1935 istrinya meninggal
dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan membawa kesedihan yang
berlarut-larut kepada Iqbal. Dan berbagai penyakitpupun menimpa Iqbal sehingga
fisiknya semakin lemah. Sungguhpun demikian, pikiran dan semangat Iqbal tidak
pernah mengenal lelah. Ia tiada henti-hentinya mengubah sajak-sajak dan terus
menuliskan pemikiran-pemikirannya. Pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia
merasa ajalnya telah dekat, namun Iqbal masih menyempatkan diri berpesan kepada
sahabat-sahabatnya.
Kukatakan
kepadamu tanda seorang Mu’min
Bila maut
datang, akan merekah senyum di bibir.
Akhirnya
Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa
gagasan-gagasannya atau pemikirannya tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir
sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini
pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang
tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahla widan Sayyid Ahmad Khan. Keduanya
adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin
tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat
tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India
ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat
mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris dan bahkan pada tahun 1858
British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas
pemerintah imperium India.
Adapun
karya-karya Iqbal diantaranya adalah:
‘Ilm al-Iqtis
(1903), Devlopment of Metaphyiscs in Persia (1908), Islam as Moral and
Political Ideal (1909), Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri/ Rahasia Pribadi) ;
(1915), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri ) ; (1918),
Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur) ; (1923), Bang-i-dara (Genta Lonceng/ Seruan
dari Perjalanan) ; (1924), Self in the Light of Relativy Speeches and
Statements of Iqbal (1925), Zaboor-i-‘Ajam (Taman Rahasia Baru/ Kidung Persia)
; (1927), Khusal Khan Khattak (1928), A Plea Deeper Study of Muslim Scientist
(1929), Presidential Address to the All-India Muslim Leaque (1930), Javid
Nama(Kitab Keabadian) ; (1932), Lectures on the Reconstruction of Religius
Thought in Islam (1934), Letter of Iqbal to Jinnah (1934), Bal-i-Jibril (Sayap
Jibril) ;
(1935), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq
(Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?) ; (1936), Musafir Nama/
Mathnawi Musafir (1936), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa) ; (1936), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz) ;
(1938), dan A Contibution to the History of Muslim Philosopy.
Filsafat Iqbal
Menurut Dr.
Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbalyang ditulis oleh Dr.
Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu
intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India
bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa
mengkaji ide-idenya secara mendalam.
Namun dalam
tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh
masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas,
justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak
sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan
hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi,
diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India
pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik
sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut
sebagaiTokoh Multidimensional.
Dengan latar
belakang yang cukup unik di atas penulis dalam makalah ini akan memaparkan
gagasan-gagasan Iqbal yang berkaitan dengan pemikiran filsafatnya sub bahasan
eksistensialisme dalam tiga hal yaitu: Ego dan Khudi, Ketuhanan, Insan Kamil
Ego dan Khudi
Khudi dalam
bahasa Parsi berarti pribadi.[15] Yaitu pribadi-pribadi yang sempurna.
Sedangkan yang dimaksud Iqbal di sini adalah usaha menjadikan diri Individu
yang selalu di liputi sifat-sifat Tuhan yang sempurna. Ini terlihat ketika
Iqbal melukiskan kejayaan pribadi dan jalan hidup nabi Muhammad. Yang mana
dalam tafsir sajaknya bahwa untuk perkembangan sewajarnya dari setiap muslim
dirindukannya suatui masyarakat menurutr acuan Islam, dan setiap muslim yang
berusaha akan menjadikan dirinya Individu yang sempurna turut membina kerajaan
Islam dibumi ini.
Syarat-syarat
untuk masyarakat Islam itu dilukiskan Iqbal dalam kumpulan syairnya yang kedua,
yakni: Rumuz -i-bekhudi, yang diterbitkan sesudah Asrar –i-khudi. Dalam buku
kumpulan syair Rumuz –i-bekhudi itu Iqbal melukiskan bahwa orang yang dapat
menafikan dirinya sendiri dalam masyarakat, membayangkan yang silam dan yang
akan datang sebagai suatu satuan di dalam cermin, dapatlah dia mengatasi sang
ajal dan masuk kedalam hidup ke Islaman yang bersifat abadi dan tidak terbatas.
Diantara acara-acara terpenting yang abadi dan tak terbatas. Diantara
acara-acara terpenting yang didendangkan Iqbal ialah: asal-usul masyarakat,
pemimpinan Tuhan pada manusia dengan perantaraan para nabi. Pembentukan pusat
–pusat hidup kolektif dan nilai sejarah sebagai faktor penting untuk menetapkan
tanda tersendiri dalam sesuatu bangsa.
Khudi yakni ego
yang hendak menangkap Ego yang besar oleh kian membulatnya dirinya sendiri.
Pribadi bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi
dinamisme pribadi. Pribadi atau khudi itu ialah action ialah hidup dan hidup
ialah pribadi.
Tuhan
menjelmakan sifat-sifatnya bukanlah di alam ini dengan sempurna tetapi pada
para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan sifat-sifatNya dalam
diri, yang sebenarnya sesuai dengan hadist rasullah s.a.w: Takhallaqu bi
akhlaqi’llah, tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah. Jadi mencari Tuhan
bukanlah dengan jalan merendah-rendahkan diri atau meminta-minta, tetapi dengan
himmah tenaga yang berkobar-kobar mejelmakan sifat-sifat uluhiyyah (ketuhanan)
dalam diri kita dan kepada masyarakat ramai. Tegasnya mendekati Tuhan ialah
menyempurnakan diri pribadi insan, memperkuat iradah atau kemauannya.
Maka menurut
Iqbal pribadi sejati adalah bukan yang menguasai alam benda tetapi pribadi yang
dilingkupi Tuhan kedalam khuduinya sendiri. Maka sifat dan pikiran pribadi atau
khudi ialah:
Tidak terikat
oleh ruang sebagaimana halnya dengan tubuh.
Hanyalah
lanjutan masa mengenai kepribadian
Kepribadian
pada asasnya tersendiri dan Unik.
Sedangkan cita
tentang pribadi itu memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya,
diselesaikannya soal buruk dan baik. Hal-hal yang memperkuat pribadi bagi Iqbal
Ialah:
‘Isyq-o-muhabbat,
yakni cinta kasih.
Faqr yang
artinya sikap tak peduli terhadap apa yang disediakan oleh dunia ini, sebab
bercita-cita yang lebih agung lagi.
Keberanian
Sikap tenggang
rasa (tolerance)
Kasb-i-halal
yang sebaik-baiknya terjalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang sah.
Mengerjakan
kerja kreatif dan asli.
Ketuhanan
Filsafat Iqbal
tentang tuhan dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam
pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal
tersebut mengenai konsepsi Tuhan. Fase pertama berlangsung mulai dari tahun
1901M hingga kira-kira tahun 1908M, pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai
mistikus-panteistik. Hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik yang
berkembang di wilayah Persia, lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti Ibnu
‘arabi. Puncak kekagumannya itu tergambar dalam disertasi doktornya,
berjudulDevelopment of Metaphysics in Persia: a Constribution to the History of
Muslim Philosophy. Pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai suatu Keindahan
yang abadi, keberadaan-Nya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului segala
sesuatu bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Ia menyatakan dirinya di
langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, pada kerlap kerlip bintang
–bintang dan jatuhnya embun di tanah dan di laut, di api dan nyalanya, di
batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, di wewangian dan
nyanyian, di semua tempat dan keadaan.
Demikianlah,
Tuhan sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan
pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas dan
kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan
ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi dan ideal segala
sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan
individu adalah seperti halnya setetes air. Demikianlah, Tuhan adalah seperti
matahari dan individu adalah seperti lilin, dan nyala lilin hilang di tengah
cahaya. Seperti balon atau bunga api, kehidupan ini bersifat sementara tidak
hanya itu bahkan keseluruhan wujud atau eksistensi adalah suatu yang fana.
Secara umum
telah dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan pada fase pertama seperti
termuat diatas. Pemikiran seperti itu tidak sulit dicari sumbernya, pada
dasarnya pemikiran seperti itu bersifat platonis. Plato juga menganggap Tuhan
sebagai Keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang medahului segala
sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk. Plato juga
menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan cinta dari
pengertian seks dan memberinya makna universal, konsep platonis ini sebagaimana
yang diungkapkan oleh Platonis diambil alih oleh kaum skolastik Muslim awal dan
dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para mistiukus patheistis, menurut Iqbal suatu tradisi lama dalam puisi,
parsi dan urdu ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis Inggris.
Sehingga dapat dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini
tidak asli. Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima
sebagai warisan sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan
ini sebagai bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.
Masa kedua
perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun 1908-1920 M. kunci untuk
memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah perbedaan yang ia tarik
antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu, disatu pihak dan cinta
kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana telah dicatat bahwa Iqbal menyebut
keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan efisien serta kausalitas akhir dari
segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi pada masa kedua, sikap ini
mengalami perubahan.
Pertama, suatu
kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam pesimisme yang menyelinap ke
dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan dan efisiensinya serta
kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh konsep tentang
pribadi(self) yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat, upaya, aspirasi,
usaha ,keputusan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu,
melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi adalah aksi
yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan, halangan
dan rintangan. Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi karena
itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dengan pedang.
Yang disebut
dengan dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang menggairahkan termasuk
ruang dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia perasaan, ide-ide dan
ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti fichte dan ward, Iqbal
menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari dirinya sendiri sesuatu yang
bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri. Dunia yang terindera adalah ciptaan
pribadi. Karena itu segala keindahan alam merupakan bentukan hasrat-hasrat kita
sendiri. Hasrat menciptakan mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.
Tuhan sang
hahekat terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi. Ia tidak lagi dianggap
sebagai keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai kemauan abadi dan keindahan
disusutkan menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi sebutan yangs ekarang mencakup
nilai-nilai estetisdan nilai-nilai moral sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada
tahap ini keesaan tampak menunjukkan nilai pragmatis yang tinggi karena ia
memberi kesatuan tujuan dan kekuatan pada individu, bangsa-bangsa dan manusia
sebagai keseluruhan kekuatan yang mengikat, menciptakan hasrat yang tak kunjung
padam, harapan dan aspirasi dan menghilangkan semua rasa gentar dan takut
kepada yang bukan Tuhan.
Tuhan
menyatakan dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan dalam pribadi
terbatas, dan karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya akandimungkinkan
lewat pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat kondisional terhadap
pencarian diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa diperoleh dengan
meminta-minta dan memohon semata-mata karena hal seperti itu menunjukkan
kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus konsisten
dengan kekuatan dan kemauan sendiri. Ia harus menangkap Dia dengan cara sama
seperti seorang pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga menginginkan
diriNya tertangkap. Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia. Dengan menemukan
Tuhan seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan
menjadi tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya,
menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak terbatas.
Dengan menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh
menjadi super ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.[26]Singkat kata pada fase ini
Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari keindahan dan efisiensinya,
serta kausalitasnya akhirnya. Sebaliknya tumbuh keyakinan akan keabadian cinta,
hasrat, dan upaya atau gerak. Kondisi ini tergambar dalam karyanya, Haqiqat-i
Husna (Hakikat Keindahan). Pada tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang
dijadikannya sebagai pembimbing rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi
dianggap sebagai Keindahan Luar, tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara
keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di samping ke Esaan Tuhan. Karena itu,
Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan (the ultimate
spiritual basis of all life). Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang
terindera, tetapi dalam pribadi terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri
kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang
tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada.
Sebaliknya, manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak
mungkin sifat-sifatNya, dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap
Tuhan ke dalam diri, tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik
ke tingkat wakil Tuhan.
Masa ketiga
perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak tahun 1920 hingga tahun
1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap sebagai masa
kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan unsur-unsur dari
sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang menyeluruh.
Menurutnya Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan hakikat sebagai
suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian suatu Individu
dan suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia, Dia adalah suatu
prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain
yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan
konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita. Karena ujian yang
paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada
panggilan pribadi yang lain. Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi
segalanya, dan tidak ada sesuatu pun diluar Dia.
Ego mutlak
tidaklah statis seperti alam semesta sebagaimana dalam pandangan Aristoteles.
Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga hidup dan karena tidak ada
sesuatu pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka sepenuhnya Dia merupakan
jiwa kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas. Tetapi sifat tidak
terbatasNya bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak terbatasan ruang
tidak bersifat mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat intensif bukan ekstensif
dan mengandung kemungkinan aktivitas kreatif yang tidak terbatas. Tenaga hidup
yang bebas dengan kemungkinan tak terbatas mempunyai arti bahwa Dia Maha
Kuasa.Dengan demikian Ego terakhir adalah tenaga yang maha kuasa, gerak kedepan
yang merdeka,suatu gerak kreatif.
Insan Kamil
Manusia adalah
misteri terbesar yang diciptakan Tuhan di dunia, padanya Tuhan tidak hanya
membentuk sesuai dengan citra-Nya, akan tetapi sudah menjadi kehendak-Nya bahwa
manusia akan menjadi mitra kerja-Nya di dunia. Pengertian manusia adalah
pemahaman secara menyeluruh menyangkut aspek ruhani dan jasmani serta tidak
dapat dipisah-pisah antara satu dan lainnya, karena keduanya bersama-sama ada
dan merupakan suatu keutuhan dan keseluruhan baru, yang merupakan diri yang
selalu hidup, serba lain dari pada hidup raga saja atau jiwa saja dalam dirinya
sendiri, dan penyatuan antara keduanya merupakan kekuasaan Tuhan. Allah, dalam
al-Qur’an secara sederhana menggambarkan keunikan serta kelebihan manusia
daripada ciptaan Tuhan yang lain. Hubungan antara pikiran dan tindakan yang
membentuk kesatuan kesadaran manusia yang menjadi pusat kepribadiannya
merupakan ciri khas individualitas manusia. Hal inilah yang menjadi ukuran
kesempurnaan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.
Dalam sejarah
pemikiran, baik dalam kajian filsafat manusia maupun tasawuf manusia merupakan
kajian yang selalu menarik untuk di kaji, dari hal ini kajian manusia ideal
dalam pandangan Iqbal merupakan hal yang tidak dapat di hindari dalam memandang
manusia baik dari perspektif filsafat, tasawuf, dan agama. Manusia ideal dalam
pandangan Iqbal merupakan manusia yang mempunyai kesucian ruhani yang mampu
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya (ego kecil), sehingga dengan
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, di harapkan mampu mengantarkan
dirinya pada kualitas manusia sempurna (insan kamil). Disamping itu pula
manusia harus mampu mewujudkan dan mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam
kehidupannya. Di sinilah Iqbal memandang manusia ideal merupakan puncak dari
segala kehidupan yang di inginkan oleh Tuhan. Dengan mengemban sebuah amanah
sehingga pantas manusia mendapatkan gelar sebagai khalifah Allah di bumi.
Manusia sebagai
individualitas yang unik yang memungkinkan seseorang untuk memikul beban orang
lain, dan menamainya hanya berkenaan dengan apa yang telah diusahakan, karena
Qur’an diarahkan untuk menolak ide tentang penebusan. Apapun pandangan kita
tentang diri perasaan, identitas diri, jiwa, kemauan hanya dapat diuji dengan
peraturan-peraturan pikiran yang di dalam cirinya bersifat hubungan, dan “semua
hubungan melibatkan pertentangan”.
Dengan mudah
kita dapat mengakui bahwa ego, dalam keterbatasannya, tidak sempurna sebagai
kesatuan kehidupan. Ego mengungkap ego itu sendiri sebagai kesatuan dari apa
yang kita namakan keadan mental. Keadaan mental tidak berada dalam tempat yang
saling terpisah. Keadaan-keadaan mental saling berarti dan saling berkaitan,
atau katakanlah peristiwa-peristiwa merupakan jenis kesatuan yang khusus.
Secara mendasar hal ini berbeda dengan kesatuan material; karena kesatuan
material dapat berada pada tempat yang saling terpisah. Kesatuan mental
benar-benar unik. Kita tidak dapat mengatakan bahwa salah satu kepercayaan
diletakkan di sebelah kanan atau sebelah kiri kepercayaan saya yang lain. Oleh
karena itu ego tidak terbatas pada ruang, sedang tubuh terbatas oleh ruang.
Peristiwa fisik dan mental berada dalam waktu, tetapi waktu ego secara mendasar
berbeda dengan waktu peristiwa fisik. Durasi waktu fisik dibentangkan dalam
ruang sebagai fakta sekarang; durasi ego dikonsentrasikan di dalamnya dan
dicakup dengan masa sekarang dan masa depannya dengan cara yang unik.
Ciri penting
yang lain dari kesatuan ego merupakan privasinya yang mendasar yang mengungkap
keunikan setiap ego. Untuk mencapai kesimpulan yang pasti, semua premis
silogisme harus diyakini oleh seseorang dan akal yang sama. Jika saya percaya
kata-kata “ semua laki-laki adalah makhluk hidup” dan akal yang lain percaya
kata-kata “Socrates adalah seorang laki-laki”, tidak ada kesimpulan yang
mungkin. Hanya memungkinkan jika saya percaya kedua dalil tesebut. Lagi, hasrat
saya terhadap sesuatu yang pasti pada dasarnya milik saya.
Bentuk lain
pembuatan manusia sebelumnya “ mengembangkan dasar organisme fisik – kumpulan
sub ego yang lebih mendalam yang bertindak dalam diri saya, dan membiarkan saya
untuk membangun kesatuan pengalaman yang sistematis. Sesuatu yang lain di luar
saya dikira memiliki sifat-sifat tertentu yang dinamakan dasar, mengacu pada sensasi tertentu dalam
diri saya, dan saya membenarkan kepercayaan saya tentang sifat-sifat tersebut
dengan dasar penyebab harus memiliki kemiripan dengan pengaruhnya. Tetapi tidak
perlu ada kemiripan antara sebab dan pengaruhnya.
Manusia punya
aspek ruang tetapi ini bukan aspek manusia saja. Ada aspek alain selain aspek
manusia, yaitu penilaian, karakter kesatuan dari pengalaman yang bertujuan, dan
pencarian kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dari studinya, serta
pengertian yang memerlukan kategori-kategori lain yang disiratkan oleh ilmu
pengetahuan.
Manusia Asamu
hidupku! Seluruh kehidupanmu, seperti jam waktu, akan selalu baru, dan akan
terus berlalu. Di dalam lingkaran ini, engkau hanyalah sebutir pasir, akan
terus bersinar tanpa kesudahan!”
AL-‘ATTAS
BIOGRAFI
Nama lengkap Syed Muhammad Naquib
Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin
Muhammad al-Attas. Beliau lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september
1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan
pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama
Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan
Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya
berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf
yangterkenal dari kalangan sayid.
Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed
Muhammad Naquib Al-Attas, dimulai sejak ia masih berusia 5 tahun. Ketika ia
berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya
Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun
1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada
zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan
bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun
1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama
saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan
Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua
umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit
Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949.
Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang
berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun
1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan
mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program
pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph.
D
PEMIKIRANNYA
TENTANG PENDIDIKAN
1. Pengertian
Pendidikan Islam
Ada beberapa istilah yang dipakai
untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang pengistilahan itu
diambil dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an) maupun al-sunnah. Misalnya dijumpai
kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib bahkan ada yang disebut riyadlah. Namun dalam
pembahasan berikut ini akan disajikan konsep pendidikan Islam versi Naquib
al-Attas. Pemaparan konsep pendidikan Islam dalam pandangan al-Attas lebih
cenderung menggunakan istilah (lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya.
Pemilihan istilah ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas
dengan menganalisis dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan
pesan-pesan moralnya.
Sekalipun istilah tarbiyah dan
ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah
konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya
(Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas,
merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata “addaba“ yang berarti memberi
adab, atau mendidik.
Dari sini dapat dipahami bahwa yang
dimaksudkan dengan Ta'dib dalam terminologi al-Attas adalah peresapan dan
penanaman adab pada diri manusia(serdik) dalam proses pendidikan. Disamping itu
adab merupakan suatu muatan atau kandungan yang semestinya ditanamkan dalam
proses pendidikan Islam. Mengenai adab dalam konteks ini, al-Attas
mendefinisikan sebagai berikut:
“Adab berarti
pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat
teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat mereka dan
tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta
dengan kapasitas dan potensi jasmaniah,intelektual serta ruhaniah seseorang”.
Dalam pandangan al-Attas, dengan
menggunakan term di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses
internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial
yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan
adab. Seperti yang diungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses
mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai
pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ (Ismail SM, dalam
Abdul Kholiq, dkk., 1999: 275).
Al-Attas melihat bahwa adab
merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan
dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan
Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah
mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling
baik”. (HR. Ibn Hibban).
Sesuai dengan ungkapan hadits di
atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri
manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat
kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana
penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis
dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara
ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan
memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang
teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana
manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring Konsep
Pendidikan menurut Naquib al-Attas.
Al-Attas membantah istilah
tarbiyah, sebagaimana yang digunakan oleh beberapa pakar paedagogis dalam
konsep pendidikan Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan
pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu
masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun
ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur
pendidikan yang bersifat fisik dan material. Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan
bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna
substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang
(rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada
aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep
ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan,
pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi
al-Attas tidak perlu dipakai.
Dari sini dapat dipahami bahwa
menurut al-Attas, hakikat pendidikan Islam adalah Ta'dib, karena istilah
tersebut sudah termasuk tarbiyah atau ta'lim, karena menurutnya ta'dib sudah
mencakup unsur-unsur pengetahuan(llm), pengajaran(ta'lim), dan pengasuhan yang
baik (tarbiyah). Selanjutnya menurut al-Attas jika konsep ta'dib ini tidak
diterapkan maka akan muncul akibat-akibat yang serius diantaranya:
pertama,kebingungan
dan kesalahan dalam pengetahuan, yang pada gilirannya menciptakan kondisi:
kedua,
hilangnya adab di dalam umat. Kondisi yang timbul akibat 1 dan 2 adalah:
ketiga,
Bangkitnya pemimpim-pemimpin yaang tidak memenuhi syarat-syarat kepemimpinan
yang absah dalam umat Islam, yang tidak memiliki standar moral, intelektual dan
spiritual yang tinggi yang dibutuhkan bagi kepemimpinan.
Menurut al-Attas, pendidikan dalam arti
Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusa, lebih lanjut ia mengatakan:
“Mengingat makna pengetahuan dan pendidikan hanya berkenaan dengan manusia
saja, dan sebagai terusannya dengan masyarakat pula, maka pengenalan dan
pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan
penciptaan mesti paling utama diterapkan pada pengenalan dan pengakuan manusia
itu sendiri tentang tempatnya yang tepat, yaitu kedudukannya dan kondisinya
dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarganya, kelompoknya atau
komunitasnya dan masyarakatnya serta kepada disiplin pribadinya, di dalam
mengaktualisasikan dalam dirinya pengenalan dengan pengakuan”.
2. Tujuan
Pendidikan Islam
Menurut pemikiran Naquib al-Attas
yang beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan
dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir
pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan
materiil dan spiritualnya. Di samping
tujuan pendidikan Islam yang menitikberatkan pada pembentukan aspek pribadi
individu, juga mengharapkan pembentukan masyarakat yang ideal tidak terabaikan.
Seperti dalam ucapannya, “Karena masyarakat terdiri dari perseorangan maka
membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik
berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik” (Al-Attas, 1991:23).
Secara ideal, al-Attas menghendaki
pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan
al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai
Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka
bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan
dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang
menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.
Dari diskripsi diatas bisa dipahami
bahwa dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam
dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam
wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw.
Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas
dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan
masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian
masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat kumpulan dari
individu-individu.
3. Sistem
Pendidikan Islam
Sebagaimana yang tertuang dalam
tujuan pendidikan Islam di atas, bahwa al-Attas mendeskripsikan tujuan tersebut
adalah mewujudkan manusia sempurna, insan kamil. Dengan begitu, berarti sistem
pendidikan Islam harus memahami seperangkat bagian-bagian yang terkait satu
sama lain dalam sistem pendidikan. Maksudnya pendidikan Islam harus
mencerminkan aspek manusia itu sendiri, bukannya negara. Perwujudan paling
tinggi dan sempurna dari sistem pendidikan adalah Universitas. Menurut
al-Attas, Universitas Islam yang dirancang untuk mencerminkan yang universal,
harus pula merupakan pencerminan manusia itu sendiri.
Al-Attas berpandangan bahwa seperti
manusia yang terdiri dari dua unsur, jasmani dan ruhani, maka ilmu juga terbagi
dua katagori, yaitu ilmu pemberian Allah (melalui wahyu ilahi), dan ilmu
capaian (yang diperoleh melalui usaha pengamatan, pengalaman dan riset
manusia). Al-Attas membuat skema yang menjelaskan kedudukan manusia dan
sekaligus pengetahuan. Bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan menurut dia, adalah
berian Allah (God Given) dengan mengacu pada fakultas dan indra ruhaniayah
manusia. Sedangkan ilmu capaian mengacu pada tingkatan dan indra jasmaniyah.
Menurut al-Attas, bahwa akal
merupakan mata rantai yang menghubungkan antara yang jasmani dan yang ruhani,
karena akal pada hakikatnya adalah substansi ruhaniyah yang menjadikan manusia
bisa memahami hakikat dan kebenaran ruhaniyah. Dengan kata lain, dia mengatakan
bahwa ilmu-ilmu agama merupakan kewajiban individu yang menjadi pusat jantung
diri manusia.
Jadi, dalam sistem pendidikan Islam
ada tiga tahap atau tingkat (rendah, menengah, dan tinggi ) ilmu fardlu ain
harus diajarkan tidak hanya pada tingkat rendah, melainkan juga pada tingkat
menengah dan tingkat universitas. Karena universitas menurut al-Attas merupakan
cerminan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus di
dahulukan. Seperti yang dijelaskan al-Attas (1991: 41) ruang lingkup dan
kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan
ke dalam tahapan-tahapan yang lebih sedikit secara berurutan ketingkat yang
lebih rendah mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistematisasi
yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus didahulukan.
Merujuk hal tersebut bisa dipahami
bahwa pembenahan dan rekonstruksi terhadap Universitas merupakan sesuatu yang
pertama yang harus dilakukan sebab, ia akan menjadi model bagi level-level
dibawahnya. Bila tidak demikian, artinya jika usaha perumusan ruang lungkup dan
kandungan dimulai dari tingkat yang paling rendah dikhawatirkan tidak akan
berhasil lantaran tidak adanya model yang lengkap yang bertindak sebagai
kriteria bagi perumusan ruang lingkup dan kandungan tersebut.
Al-Attas mengklasifikaskan ilmu
menjadi dua macam, yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu rasional, intelektual
dan filosofis. Yang termasuk ilmu-ilmu agama misalnya: al-Qur’an; (pembacaan
dan penafsirannya). Al-Sunnah; (kehidupan Nabi, sejarah dan pesan para rasul
sebelumnya, hadits dan riwayat-riwayat otoritasnya). Al-Syari’ah;
(Undang-undang das hukum, prinsip-prinsip dan praktek-praktek Islam; Islam,
iman ihsan). Teologi (Tuhan, esensi-Nya, sifat-sifat dan nama-nama-Nya, serta
tindakan-tindakan-Nya). Tasawuf (Pikologi, kosmologi, dan antologi), dan ilmu
bahasa atau Linguistik (bahasa Arab, tata bahasa, leksikografi dan
kesusatraan).
Sedangkan yang termasuk ilmu
rasional dan sejenisnya adalah ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam, dan
ilmu-ilmu terapan. Menururt al-Attas, bagian yang termasuk ilmu kemanusian
seharusnya ditambah dengan pengetahuan Islam. Karena semua disiplin ilmu harus
bertolak kepada Islam. Karena itu ia menganjurkan agar pengetahuan tersebut
ditambahkan disiplin-disiplin baru yang berkaitan dengan hal berikut ini:
1. Perbandingan
agama dari sudut Islam
2. Kebudayaan
dan peradaban Barat, khususnya kebudayaan dan peradaban yang selama ini dan di
masa datang berbenturan dengan Islam.
3. Ilmu-ilmu
linguistik; bahasa-bahasa Islam, tata bahasa, dan literatur.
4.Sejarah
Islam; pemikiran kebudayaan dan peradaban Islam, perkembangan ilmu-ilmu sejarah
Islam, filsafat-filsafat sains Islam, Islam sebagai sejarah dunia (al-Attas,
1990:91).
Dari diskripsi
diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sesuai dengan pandangan al-Attas
tentang ilmu, ia melihat bahwa Universitas Islam tidak dapat mencontoh begitu
saja pada Universitas Barat yang senantiasa memisahkan ilmu pengetahuan dan
nilai dalam dua bidang yang dipisahkan oleh ruang hampa. Universitas Islam
mesti mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai demi terwujudnya manusia
ideal, yaitu manusia beradab.
AKTUALISASI
KONSEP AL-ATTAS DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER
1. Corak
Pemikiran Pendidikan
Apabila ditelaah dengan cermat,
format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas sebagaimana telah
dideskripsikan, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan
Islam sebagai suatu pendidikan terpadu.
Hal tersebut dapat secara jelas
dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni terwujudnya manusia
yang 'baik', yaitu manusia yang universal(Al-Insan Al-Kamil). Insan kamil yang
dimaksud adalah manusia yang bercirikan: Pertama; manusia yang seimbang,
memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian; a). dimensi isoterikvertikal yang
intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan b). dimensi eksoterik, dialektikal,
horizontal, yaitu membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya.
Kedua; manusia seimbang dalam kualitas pikir, dzikir dan amalnya (Achmadi,
1992: 130). Maka untuk menghasilkan manusia seimbang yang bercirikan tersebut
merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih
dahulu paradigma pendidikan yang terpadu.
Dari deskripsi di atas, dapat
ketahui bahwa orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan
yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan
keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib
(adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan
bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat
proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di
masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda
dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi
pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
Hal itu merupakan indikator bahwa
pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu
kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan
aspek kognitif (sensual–logis) dan psikomotorik (sensual-empiris). Hal ini
relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan
moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek
transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan
psikomotorik. Domain Iman diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran
Islam tidak hanya menyangkut hal-hal yang rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal
yang supra rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali
didasari dengan iman, yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Domain Iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai
hidup peserta didik, dan dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal
yang dilakukan.
2. Kondisi
obyektif pendidikan Islam dewasa ini
Untuk memotret bagaimana kondisi
dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan
penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan
bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun
statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi ia
sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan
Islam yang dicita-citakan.
Prof. Dr. Isma’il Raji Al-Faruqi
dalam karya monumentalnya islamization of knowlegde: general principles and
workplan mensinyalir bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan,
berada di bawah anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Al-Faruqi meyakini bahwa
kondisi umat islam yang memprihatinkan ini, disebabkan oleh sistem pendidikan
yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan Barat, baik materi maupun
metodologinya (AL-Faruqi, 1984:17).
Tidak bisa dipungkiri, bahwa
masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam arus perubahan yang
sangat dahsyat seiring datangnya era globalisasi dan informasi. Sebagai
masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah berusaha menghindari
pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya modernisasi yang diwujudkan
melalui pembangunan berbagai sektor termasuk pendidikan, intervensi dan
westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan dengan itu Fazlur Rahman
Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam
saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang
sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam.
Khursyid
Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang
ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu: Pertama,
pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan
pelajar. Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati
dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran,
tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat
terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu
dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan
manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar. (Achmad,
1992:22-23).
Sementara Al-Attas melihat bahwa
universitas modern (baca:Barat) tidak mangakui eksistensi jiwa atau semangat
yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada fungsi administratif pemeliharaan
pembangunan fisik.
Dari berbagai pemaparan di atas
Dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah
terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikna Barat. Dimana paradigma
pendidikan Barat tersebut secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan
pengejaran pengetahuan yang menitik beratkan pada segi teknik empiris,
sebaliknya tidak mengakui eksistensi jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas
serta jauh dari landasan spiritual.
3. Menuju
paradigma pendidikan Islam
Melihat kondisi pendidikan dewasa
ini sebagaimana telah dideskripsikan, maka peniruan terhadap konsepsi
pendidikan Barat harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan dengan cita-cita
pendidikan Islam. Sebaliknya merupakan suatu keniscayaan untuk mencari
paradigma pendidikan yang paling sesuai dengan cita-cita islam.
Dalam wacana ilmiah, setidaknya
dapat dikemukakakan beberapa alasan mendasar tentang pentingnya realisasi
paradigma pendidikan Islam. Pertama, Islam sebagai wahyu Allah yang meruapakan
pedoman hidup manusia untuk mencapia kesejahteraan di dunia dan akherat, baru
bisa dipahami, diyakini, dihayati dan diamalkan setelah melalui pendidikan.
Disamping itu secara fungsional Nabi Muhammad, sendiri di utus oleh Allah
sebagai pendidikan utama manusia. Kedua, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora
juga termasuk ilmu normatif, sebab ia terikat dengan norma-norma tertentu.
Disini nilai-nilai Islam sangat memadai untuk dijadikan sentral norma dalam
ilmu pendidikan itu.
Ketiga, dalam memecahkan dan
menganalisa berbagai masalah pendidikan selama ini cenderung mengambil sikap
seakan-akan semua permasalahn pendidikan, baik makro maupun mikro diyakini
dapat diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat, padahal
yang disebut terakhir tadi bersifat sekuler. Oleh karena itu, nilai-nilai ideal
Islam mestinya akan lebih sesuai untuk menganalisa secara kritis fenomena
kependidikan (Lihat Achmadi, 1992: viii-ix).
4. Aktualisasi
konsep Al-Attas dalam pendidikan Islam masa kini
Berdasarkan pada fenomena dan
kondisi obyektif dunia pendidikan masa kini pada umumnya dan pendidikan Islam
pada khususnya, maka pemikiran pendidikan Islam yang terformula dalam konsep
ta’dib yang ditawarkan Al-Attas, sungguh memilki relevansi dan signifikansi
yang tinggi serta layak dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk
diaktualisasikan dan di implementasikan dalam dunia pendidikan Islam. Karena
pada dasarnya ia merupakan konsep pendidikan yang hendak mengintegrasikan
dikhotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan-equilibrium, bercorak moral
dan religius. Secara ilmiah Al-Attas telah mengemukakan proposisi-proposisinya
sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang sangat jelas. Sehingga bukanlah
suatu hal yang naif bahwa statement Al-Attas ini merupakan sebuah jihad
intelektual dalam menemukan paradigma pendidikan Islam. Bila dicobakan untuk
berdialog dengan filsafat ilmu, apa yang diformulasikan oleh Al-Attas dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik dari dataran ontologis, epistemologis
maupun aksiologis.
Filsafat Pendidikan
Islam
Pengertian
Secara
harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata
Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta
cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani
mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap
hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan
menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa
filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab
dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu
terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab
falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta,
suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi,
Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau
lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara
itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami
perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal
sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa
kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau
semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian
filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau
kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari
segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau
pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya
bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim
digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai
rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa
pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Berdasarkan
rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan,
yaitu: (1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan
yang dilakukan secara sadar; (2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong; (3)
Ada yang di didik atau si terdidik; dan (4) Adanya dasar dan tujuan dalam
bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai
suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif
dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan
sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi
pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya
mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan
diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan
hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk
mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat
tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai
sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti
ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan
pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di
akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi
Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life
education ).
Dari
uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya
bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi
di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini
ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini
di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan
orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan,
serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar
pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman
Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah
kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami
menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami.
Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar
( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min
yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat
kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya,
serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh
kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari pengertian
di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
Bahwa
al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan
hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang
diridloi Allah SWT.
Menurut
Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk
mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam
bentuk pendidikan Islam.
Al
Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi
petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya
agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan
Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan
berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya
sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan
dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk
mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya
kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam
pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya
dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah
pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan
penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit,
dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern
dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para
ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan
memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu
pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan
hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang
sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang
melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung
unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi
itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa
hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan,
hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan
sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati
sebelumnya.
Sedangkan
para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang
tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya
gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada
satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau
dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat
dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka
terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan
menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai
ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan
Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan
dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka
sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan
islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan
kemajuan.Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber
ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia
:
Menyadarkan
secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta
tanggung jawab dalam kehidupannya.
Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya
dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya. Menyadarkan
manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Menyadarkan
manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami
hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada
manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah
mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam
itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat
dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai
sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai
sumber sekunder.
Dengan
demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah
filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang
dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas,
tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan
mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam
telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya
beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian
tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau
filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang
kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa
mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang
mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan,
ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan
menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini
memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah
yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan,
masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Prof. Mohammad
Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5
tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al
Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :
1.
Untuk membantu pembentukan akhlak
yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan
Islam.
2.
Persiapan untuk kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi
keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh
perhatian kepada keduanya sekaligus.
3.
Menumbuhkan ruh ilmiah pada
pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu
bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra,
kesenian, dalam berbagai jenisnya.
4.
Menyiapkan pelajar dari segi
profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu,
teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam
hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5.
Persiapan untuk mencari rezeki dan
pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat
agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada
segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak
lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagai suatu
metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal
sebagai berikut :
Pertama,
bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal
ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai
pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di
ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.
Kedua, metode
pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat
dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing
prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam
menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an
semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad
Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
Ketiga, metode
pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode
analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis
terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
Keempat,
pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula
dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan
ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori
keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula.
Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam
analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk
menjelaskan suatu fenomena.
Pandangan Islam Dalam
Masyarakat
Masyarakat secara sederhana didefinisikan sebagai kumpulan individu
atau kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama. Di
dalamnya termasuk segala jalinan hubungan yang timbal balik yang berangkat atas kepentingan bersama, adat
kebiasaan, pola-pola, teknik-teknik, sistem hidup, undang-undang, institusi dan
segala segi fenomena yang dirangkum oleh masyarakat dalam pengertian luas dan
baru.
Dari berbagai definisi tentang masyarakat dapat diambil beberapa
unsur yang ada dalam suatu masyarakat, yaitu: (1) Hidup bersama dua orang atau
lebih, (2) Hidup bergaul dan bercampur cukup lama, (3) Hidup dalam suatu
kesatuan yang utuh, (4) Mereka sadar bahwa sistem kehidupan bersama menimbulkan
sebuah kebudayaan tersendiri, sehingga mereka merasa adanya ketertarikan di
antara mereka, (5) Adanya aturan yang jelas dan disepakati bersama.
Adapun masyarakat menurut Islam mempunyai sikap dan ciri tertentu
yang dapat membedakannya dari masyarakat lain. Komunitas masyarakat tersebut
dapat dilihat pada komunitas yang ditampilkan pada zaman Rasul SAW, zaman
keemasan Islam dan pada masa sekarang, masyarakat Islam tersebut adalah
masyarakat yang teratur rapi, aman, makmur, adil dan bahagia yang meliputi
seluruh umat. Kehidupan komunitas masyarakat dalam Islam menerapkan ajaran
Islam dalam seluruh aspek kehidupan seperti bidang akidah, ibadah, akhlaq,
undang-undang dan sistem pemerintahan.
Dalam Islam,
anggota masyarakat mempunyai persamaan dalam hak dan kewajiban, Islam tidak
mengenal kasta dan pemberian hak-hak istimewa kepada seorang atau kelompok.
Kemuliaan seseorang dalam masyarakat Islam hanyalah karena ketaqwaannya kepada
Allah. Adanya perbedaan itu tidaklah
menyebabkan perbedaan dalam kedudukan sosial. Hal ini merupakan dasar yang
sangat kuat dan tidak dapat dimungkiri telah memberikan kontribusi pada
perkembangan hak-hak asasi manusia.
Menurut al-Syaebaniy, masyarakat Islam mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1.
Masyarakat Islam mempunyai tonggak
dasar pada keimanan. Ciri pertama ini membuahkan rasa aman dan damai di hati
setiap anggota masyarakat, sejak komunitas yang terkecil sampai pada komunitas
kolektif yang lebih luas. Dasar iman dapat mendidik manusia agar mau bekerja
keras, karena hanya amal yang saleh yang ikhlas karena Allah yang akan
diperhitungkan oleh Allah. Iman membuahkan rasa tanggung jawab terhadap segal
tindakan manusia. Iman membuahkan takwa kepada Allah semata, tak ada yang
ditakuti selain Allah saja.
2.
Agama diletakkan pada proporsi yang
tinggi. Segala urusan hidup dikembalikan kepada hukum-hukum Allah.
3.
Nilai manusia adalah akhlaknya.
Akhlak dikaitkan dengan agama sebagai realisasi praktis terhadap-Nya. Islam
mendorong agar masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia.Ilmu
mendapat perhatian yang sepenuhnya oleh masyarakat Islam. Masyarakat berkeyakinan bahwa dengan ilmu, manusia
memperoleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk aspek ekonomi yang
dapat meningkatkan
4.
income masyarakat. Dengan ilmu,
manusia akan dapat memperbaiki taraf hidup dan derajatnya.
5.
Islam menghormati dan menjaga
kehormatan insan. Penghormatan itu tidak membedakan warna kulit, bangsa atau
pun agama. Hak pribadi seseorang dihormati. Hak untuk mendapatkan keadilan di
junjung tinggi. Pribadi pada hakikatnya bukan hamba masyarakat dan begitu pula
sebaliknya.
6.
Keluarga mendapat perhatian penuh
dalam masyarakat Islam. Peranan keluarga sebagai dasar utama proses pembinaan
generasi perlu berangkat atas dasar kasih sayang, keadilan kebenaran dan budi
luhur.
7.
Masyarakat Islam adalah masyarakat
yang dinamis. Mereka bertekad untuk maju terus.
8.
Kerja seorang mendapat perhatian
dalam masyarakat Islam. Dalam hal ini, manusia diukur oleh kerjanya, bukan
posisinya.
9.
Harta diperhitungkan untuk menjaga
kehormatan insan. Harta harus didapat dari jalan halal, disalurkan harus sesuai
dengan perintah Allah, harta tidak boleh ditumpuk dan tidak dimanfaatkan dan
penunaian dari harta itu berdasarkan hak dan tuntutan dengan ketentuan: (1)
Untuk diri yang sesuai dengan kebutuhannya dan (2) untuk masyarakat dimulai
dari kerabat yang terdekat kemudian yang terjauh.
10. Nabi
menekankan agar masyarakat muslim itu kuat fisik dan mentalnya.
11. Masyarakat
muslim adalah masyarakat yang terbuka dan dapat menerima yang baik dari mana
pun datangnya, tanpa terkelupas dari ruh ilahiyah.
12. Dalam
hal bantu membantu, masyarakat Islam jadi tauladan terutama bukan hanya untuk
golongannya saja, tapi juga untuk semua golongan.
Filsafat Akhlak Dalam Islam
Klasifikasi Akhlak
Akhlak
merupakan bagian dari kehidupan manusia. Studi mengenai akhlak meliputi
deskriptif (meliputi akhlak yang timbul pada masyarakat), akhlak normatif
(perspektif akhlak), dan metaakhlak (analisis akhlak). Dalam esensi konsep
moral terbagi kepada pembagian konsep moral yaitu konsep esensial (konsep yang
di dapat melalui indra lalu diabstraksi melalui akal), konsep logis (mental),
dan konsep falsafi (pengamatan dari beberapa akal lalu dikomparasikan di antara
keduanya). Konsep esensial membicarakan mengenai batasan-batasan sedangkan
konsep logis dan falsafi membicarakan karakternya. Statemen moral bisa
dituangkan dalam bentuk afirmatif dan dalam bentuk normatif. Tetapi dalam
artian sesungguhnya penerapan konsep moral sebenarnya masuk kepada konsep
universal falsafi dimana statemen moral bersifat konvensional namun isinya
berdasarkan pertimbangan faktual dari masyarakat. Asal usul kemunculan konsep
moral adalah konsep moral sebagai realitas objektif (konsep moral hanya
dipersepsi oleh akal), konsep moral penetapan/konvensi (konsep moral ada
kaitannya dengan konsep objektif), dan konsep moral sebagai naluri (moral itu
bersifat naluriah dan ada dalam kodrat manusia).
Parameter Akhlak Yang Baik
Statemen-statemen
moral terbagi atas dua macam yaitu obligatif (harus/tidak boleh) dan evaluatif
(baik/buruk). Mengenai esensi konsep akhlak baik dan buruk masuk dalam statemen
moral evaluatif. Beberapa analisis kebaikan dan keburukan menurut beberapa filsuf
dimulai dari manusia memilih apakah itu baik untuk dirinya atau tidak. Beberapa
filsuf cenderung berpendapat bahwa mengenai baik dan buruk itu tergantung dari
fisiknya. Apabila ia cantik, maka ia baik. Begitupun sebaliknya. Namun pada
dasarnya semua itu bukanlah menjadi tolok ukur. Parameter kebaikan dan
keburukan adalah apakah itu bermanfaat untuk diri manusia secara khusus, dan
kemanusiaan secara universal. Pandangan-pandangan seputar kebaikan dan
keburukan moral adalah objektivitas (konsep objektivitas dari alam luar),
simbol emosionalitas (pandangan baik/buruk mengenai keindahan & kejelekan),
I’tibar (baik/buruk dalam arti penetapan), dan kehendak Tuhan. Latar belakang
permasalahan dalam pemikiran islam terpecah dalam dua kelompok besar yaitu Adliyah
(akal manusia yang dapat menentukan baik/buruknya sesuatu dan perintah Tuhan
merupakan petunjuk manusia dari luar) dan Hanafiyah (sama dengan objektivitas
baik/buruk dan lebih menekankan kepada perintah Tuhan). Arti-arti baik dan
buruk serta klaim asy’syariah dimana dimaksudkan menemukan titik-titik
persamaan antara pendapat kaum Asysyariah dan Adliyah yaitu kesempurnaan dan
kekurangan (baik itu sempurna dan buruk itu kurang), kesesuaian dengan tidaknya
tabiat manusia (kebaikan adalah keinginan manusia dan keburukan sebaliknya),
keseuaian dengan tidaknya tujuan, dan ketersanjugan dan hujatan. Analisis atas
pandangan Asysyariah tidak berbeda dengan Adliyah seperti perintah kepada Tuhan
namun Adliyah juga menekankan kepada akalnya. Maka dari itu manusia tidak hanya
cukup hidup dengan perintah-perintah Tuhan saja. Karena dalam kalangan
Asy-syariah saja sudah berbeda penafsiran maka dari itu membutuhkan ajaran
serta arahan Nabi pula. Objektivitas acuan-acuan abstraksi dimaksudkan seperti
standar kebaikan (kesesuaian antara tindakan dan tujuan manusia bertindak).
Akar perdebatan dalam studi moral di seluruh dunia ini yang seperti dibahas
sebelumnya bahwa di Negara ini tidak boleh dan di Negara lain tidak boleh
adalah karena ketidaktahuan seseorang mengenai kesempurnaan hakiki dan
ketidaktahuan dan pemahaman yang salah mengenai tindakan yang sengaja dan
kesempurnaan yang sesungguhnya.
Tanggung Jawab Moral (AKHLAK)
Pentingnya
studi nilai moral tidak hanya dalam bidang filsafat, melainkan sosiologi
politik, ekonomi, dan masih banyak lagi. Tanggung jawab moral sangat dibutuhkan
dan sudah lama menjadi perbincangan para filsuf. Tanggung jawab moral dapat
berupa suatu hak atau suatu kepatutan. Syarat-syarat tanggung jawab moral
berupa kemampuan (kemampuan melakukan/meninggalkan kewajiban), pengetahuan dan
kesadaran (manusia tahu apa yang dibebankan padanya), dan pilihan dan kehendak
yang bebas. Argumentasi determinisme berupa falsafi, natural, dan teologis.
Beragam tanggung jawab moral seperti kepada Tuhan, diri sendiri, orang lain,
dan alam.
Kurikulum Pendidikan Islam
Pengertian
Kurikulum
Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa
latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran. Ada yang mengatakan berasal
dari bahasa prancis courier yang berarti berlari.Ada pula yang mengatakan
kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang artinya pelari dan
“curere” yhang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dikaitkan
dengan pendidikan, kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa
kata bahasa Arab istilah kurikulum dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan
terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika
dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan
peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.
Sedangkan
secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para
ahli berikut ini:
a. Crow and Crow : Kurikulum adalah rancangan
pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis
sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.
b. Saylor Alexander (dikutip S. Nasution) :
Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga
didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di
lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
c. Hasan langgulung : Kurikulum adalah
sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik
yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
d. UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan
mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Dari beberapa
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan salah satu
komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum
merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman
dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Dengan demikian, pengertian
kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan
oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja.
Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan
sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya
disekolah, tapi juga diluar sekolah.
Dalam pengajaran biasanya hanya
terfokus pada ruang kelas saja, tapi dengan perkembangan yang terjadi saat ini
sumber pendidikan dapat diperoleh dari berbagai hal diluar kelas seperti
perpustakaan, museum, majalah, televisi, surat kabar, radio dan yang lebih
memudahkan lagi adalah internet yang segala sesuatunya ada informasi
didalamnya.
Jadi kurikulum juga harus
mempertimbangkan hal itu agar peserta didik bisa terus mengikuti perkembangan
dari suatu ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan dan lain sebagainya yang
ada diluar dari sekolah agar tidak dicap sebagai siswa yang gagal akan
perkembangan zaman.
Ciri-Ciri
Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum, kurikulum tersusun
dengan beberapa aspek utama yang menjadi cirrinya. Hasan Langgulung
mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu:
· Tujuan pendidikan yang ingin dicapai
oleh kurikulum itu.
· Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu
data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk
kurikulum itu.
· Metode dan cara-cara mengajar dan
bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang
dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
· Metode dan cara penilaian yang
digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang
dalam kurikulum.
Berangkat dari ke kempat hal yang
menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan filsafat pendidikan
yang dikembangkan pada pendidikan islam tentu semua akan menyatu dan terpadu
dengan ajaran islam itu sendiri. Pendidikan yang merupakan suatu proses
memanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan
kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha
mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting
untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu,
setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu
mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah
satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana
ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang
diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang
hendak dicapai.
Omar Mohammad al- Toumy al-
Syaibany menyebutkan lima ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut;
I.
Menonjolkan tujuan agama dan akhlak
pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan – kandungan, metode-metode,alat-alat,
dan tekniknya bercorak agama.
II.
Meluas cakupannya dan menyeluruh
kandungannya.
III.
Bersikap seimbang diantara berbagai
ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga
seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan
pengembangan social.
IV.
IV.Bersikap menyeluruh dalam menata
seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
V.
Kurikulum yang disusun selalu
disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.
Sedangkan
Al-Shaybani mengatakan bahwa kurikulum pendidikan islam haruslah mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
- Menonjolkan mata pelajaran dan akhlak .
Agama dan
akhlak seharusnya diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh-contoh dari
orang terdahulu yang sholeh.
-
Memperhatikan pengembangan yang
menyeluruh dari aspek pribadi siswa yaitu jasmani, akal dan rohani
-
Memperhatikan keseimbangan antara
pribadi dan masyarakat, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, keseimbangan itu
tentunya bersifat relative karena tidak dapat diukur secara objektif.
-
Memperhatikan juga seni
halus,seperti ukir, pahat, tulis indah, gambar dan sejenisnya.Selain itu juga
memperhatikan pendidikan jasmani seperti latihan militer, tehnik, keterampilan
dan bahasa asing sekalipun, semua ini diberikan kepada perorangan secara aktif
sesuai bakat, minat,dan kebutuhan.
-
Mempertimbangkan perbedaan-perbedaan
kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan
perbedaan zaman. Kurikulum dirancang sesuai kebudayaan.
Asas-Asas Kurikulum
Secara teoritis penyusunan sebuah
kurikulum harus berdasarkan asas-asas tertentu. Asas – asas tersebut antara
lain menurut S. Nasution yaitu :
1. Asas Filosofis
Berperan
sebagai penentuan tujuan umum pendidikan sehingga penyusunan kurikulum
mengandung kebenaran, dimana asas ini merupakan pandangan hidup mendidik anak
sesuai dengan tujuan pendidikan.
Asas filosofis
membawa rumusan kurikulum pendidikan islam kepada tiga dimensi:ontologi,
epistemologi, dan aksiologi.Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih
banyak memberi anak didik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan
fisik-fisik, obyek-obyek.Pada mulanya dimensi ini diterapkan Allah SWT.dalam
pengajaranNya kepada nabi Adam as dengan memberitahukan atau mengajarkan
nama-nama benda (QS.Al-Baqarah{2}:31) dan belum sampai pada tahap penalaran
atau pengembangan wawasan.Demensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang
sah,yang berdasarkan metode kontruksi pengetahuan yang disebut metode
ilmiah,yang sifatnya mengajak berfikir menyeluruh,reflektif dan kritis,
implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung
fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan tidak mutlak, tentatif dan dapat
berubah-ubah. (QS.Al-Baqarah {2}:26-27); dan dimensi aksiologi mengarahkan
pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar
memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari
nilai-nilai yang tidak diinginkan.Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya
guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup
menuju kesempurnaan, kenyamanan dan dijauhi dari segala sesuatu yang
menimbulkan kesengsaraan atau kerugian
Tugas ketiga
dimensi tersebut merupakan kerangkah dalam perumusan kurikulum pendidikan
islam. Dari berbagai macam filsafat pada dasarnya memberikan khasana
intelektual di bidang kurikulum pendidikan islam lainnya, semakin banyak pula
kontribusi teori dan konsep. Teori dan konsep yang ditimbulkan dari berbagai
macam aliran filsafat tidak dapat begitu saja diterima atau ditolak, namun
diseleksi terlebih dahulu kemudian hasilnya dimodifikasi pada khasana kurikulum
pendidikan islam
2. Asas Sosiologis
Memberikan
dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Asas Organisatoris
Asas ini
memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan itu disusun, dan bagaimana
penentuan luas dan urutan mata pelajaran.
4. Asas Psikologis
Asas ini
memberikan prinsip – prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai
aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dipahami oleh anak
didik sesuai dengan perkembangan.
Prinsip-Prinsip
Kurikulum Pendidikan Islam
Menurut
Al-Taumi sebagaimana yang di kutip oleh Muhammad Zein dalam bukunya ‘’ Materi
filsafat pendidilan islam “, prinsip dasar yang harus dipegengi dalam menyusun
kurikulum pendidikan islam adalah:
1. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan agama,termasuk ajaran dan nilainya.
2. Tujuan dan kandungan kurikulum pendidikan
islam harus menyeluruh (universal)
3. Tujuan dan kandungan kyrikulum pendidikan
islam harus adanya keseimbangan.
4. Kurikulum pendidikan islam harus
berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan anak didik serta alam
lingkungan di mana anak didik tersebut hidup.
5. Kurikulum pendidikan islam harus dapat
memelihara perbedaanindividu diantara anak didik dalam bakat, minat, kemampuan
dan kebutuhan mereka.
6. Kurikulum pendidikan islam harus mengikuti
perkembangan dan perubahan zaman, filsafah, prinsip, dasar, tujuan dan metode
pendidikan islam harus dapat memenuhi tuntutan zaman.
7. Kurikulum pendidikan islam harus
bertautan dengan pengalaman dan aktifitas anak didik dalam masyarakat.
H.M. Arifin
dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan empat prinsip dalam
penyusunan kurikulum pendidikan islam yaitu:
1. Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan
idealitas islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu
pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup islami.
2. Untuk berfungsi alat yang efektif
mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus nengandung tata nlai islami yang
intrinsik dan ekstrinsik mampu merealisasikantujuan pendidikan islam.
3. Kurikulum yang bercirikan islami itu
diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam
tujuan pendidikan islam
4. Antara kurikulum, metode, dan tujuan
pendidikan islam harus saling menjiwai dalam proses mencapai produk bercita-citakan
menurut ajaran islam.
Isi Kurikulum
Pendidikan Islam
Cakupan bahan pengajaran yang ada
dalam suatu kurikulum kini terus semakin luas atau mengalami perkembangan
karena tuntutan dari kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, tekhnologi yang terjadi
di dalam masyarakat, dan beban yang diberikan pada sekolah.
Berdasarkan tuntutan perkembangan
itu maka para perancang menetapakan cakupan kurikulum meliputi 4 bagian
yaitunya :
a. Tujuan merupakan arah, sasaran, target
yang akan dicapai melalui proses belajar mengajar.
b. Isi merupakan bagian yang berisi
pengetahuan, informasi, data, aktifitas, dan pengalaman yang diajarkan kepada
peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
c. Metode merupakan cara yang digunakan
guru atau dosen kepada peserta didik untuk menyampaikan mata pelajaran agar
mudah dimengerti.
d. Evaluasi merupakan cara yang dilakukan
guru untuk melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran.
Untuk
menentukan kualifikasi isi kurikulum pendidikan islam dibutuhkan syarat yang
perlu diajukan dalam perumusan yaitu:
a) Materi yang disusun tidak menyalahi
fitrah manusia,
b) Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan
islam,
c) Disesuaikan dengan tingkat perkembangan
dan usia peserta didik,
d) Membawa peserta didik kepada objek empiris
dan praktik langsung,
e) Penyusunan bersifat integral,
terorganisasi,
f) Materi sesuai dengan masalah mutakhir
yang sedang dibicarakan,
g) Adanya metode yang sesuai,
h) Materi yang diajarkan berhubungan dengan
peserta didik nantinya.,
i) Memperhatikan aspek sosial,
j) Punya pengaruh positif,
k) Memperhitungkan waktu, tempat,
l) Adanya ilmu alat ayng mempelajari ilmu
lain.
Setelah syarat
itu dipenuhi disusunlah isi kurikulum pendidikan. Isi kurikulum menurut Ibnu
Khaldum terbagi jadi 2 tingkatan:
1) Tingkatan Pemula
Materi
kurikulum difokuskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah
2) Tingkatan Atas
Tingkatan ini
punya 2 klasifikasi:
Ilmu yang
berkaitan dengan zatnya
Ilmu yang
berkaitan dengan ilmu lain seperti ilmu bahasa, matematika, mantiq
Menurut
Al-Ghazali klasifikasi isi kurikulum pada 3 kelompok yaitu:
a. Kelompok menurut kuantitas yang mempelajari
Ilmu fardhu
‘ain yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah
Ilmu fardhu
kifayah yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim saja
misalnya kedokteran, pertanian dan lainnya
b. Kelompok menurut fungsinya
Ilmu tercela
adalah ilmu yang tidak berguna untuk
masalah dunia maupun akhirat serta mendatangkan kerusakan
Ilmu terpuji
adalah ilmu agama yang dapat mensucikan jiwa dan menghindari hal-hal yang
buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan diri pada allah
Ilmu terpuji
dalam batasan tertentu tidak bolaeh dipelajari secara mendalam karena akan
mendatangkan ateis.
c. Kelompok menurut sumbernya
Ilmu Syar’iyah
adalah ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu ilahi dan sabda nabi
Ilmu ‘Aqliyah
adalah ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen dan
akulturas.
Allah berfirman
dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 mengenai isi kurikulum yang artinya:“Kami akan
memeperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami disegenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran iu
adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia
menyaksikan segala sesuatu”
Ayat tersebut
terkandung 3 isi kurikulum pendidikan islam yaitunya:
1. Isi kurikulum berdasarkan pada ketuhanan
2. Isi kurikulum berorientasi pada manusia
3. Isi kurikulum berorientasi pada alam.
Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam
Al-Abrasyi
Biografi
Muhammad Athiyah al-Abrasyi adalah seorang tokoh pendidikan yang
hidup pada masa pemerintahan Abd. Nasser yang memerintah Mesir pada tahun
1954-1970. Beliau adalah satu dari sederetan nama penting para cendekiawan Arab
dan Muslimin. Beliau adalah penulis tentang pendidikan Keislaman. Beliau
dilahirkan pada awal April tahun 1897 dan wafat pada tanggal 17 Juli 1981.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi juga adalah seorang sarjana yang telah lama
berkecimpung dalam dunia pendidikan di Mesir yang merupakan pusat ilmu
pengetahuan Islam, sekaligus sebagai guru besar pada fakultas Darul Ulum Kairo
University, Kairo. Sebagai guru besar, beliau secara sistematis telah
menguraikan pendidikan Islam dari zaman ke zaman serta mengadakan komparasi di
bidang pendidikan mengenai prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan
modern di dunia Barat pada abad ke-20 ini. Pendapat Muhammad Athiyah al-Abrasyi
tentang pendidikan Islam banyak dipengaruhi dari rangkuman, pemahaman, dan
pemikiran tokoh-tokoh muslim sebelumnya, terutama pemahaman secara filosofis.
Beliau cenderung menjadikan Ibnu Sina, al-Ghazali dan ibnu Khaldun sebagai nara
sumbernya.
Konsep Pendidikan Islam Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi
Pendidikan secara umum pada dasarnya merupakan kebutuhan yang
primer manusia, baik secara individu maupun sebagai warga negara, yang menuju
kearah terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam Islam, istilah yang digunakan
untuk pendidikan adalah Tarbiyah, ta'lim, ta'dib Dan sekarang berkembang secara
umum di dunia Arab adalah tarbiyah ternyata masih merupakan masalah khilafiyah,
(kontroversial) Pendidikan Islam menurut 'Athiyah dalam kitab at-Tarbiyah
al-Islamiyah Wafalasifatuha adalah:
“Sesungguhnya pendidikan Islam terdiri dari prinsip-prinsip
(demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam
pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara yang kaya dan
yang miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban
dalam bentuk immateri, bukan untuk tujuan materi (kehendak), dan menerima ilmu
itu dengan sepenuh hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang
kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melakukan perjalanan panjang
dansulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama.”
Berdasarkan pernyataan Muhammad Athiyah Al-Abrasyi di atas, intinya
pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan
kehidupan yang sempurna dengan mengembangkan berfikir bebas dan mandiri serta
demokratis dengan cara memperhatikan kecenderungan peserta didik secara
individu yang menyangkut aspek kecerdasan akal, dan bakat dengan dititik
beratkan pada pengembangan ahlak. Pengertian pendidikan Islam tersebut berupaya
mengembangkan anak sesuai dengan akal dan bakat dengan bimbingan dan dengan
dorongan yang dititik beratkan pada pengembangan ahklak. Pendidikan Islam
disini telah banyak memberikan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan
tidak hanya terbatas pada pendidikan Islam saja, namun, menjadikan pendidikan
Islam ini berkembang di dunia pendidikan modern dewasa ini. Hal ini dikarenakan
pendidikan Islam menurut 'Athiyah memang merupakan disiplin ilmu yang memiliki
dasar dan tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Islam memang sangat ideal untuk dilaksanakan di dalam dunia
pendidikan. Lapangan dari pendidikan Islam telah menembus berbagai dimensi
kependidikan, baik bentuk, orientasi, sikap, maupun volume kurikulum yang
selalu dipengaruhi oleh pengaruh eksternal dan internal umat Islam, yang
dilancarkan untuk melakukan perubahan pandangan, pikiran dan tindakan umat
Islam dalam menghadapi kemajuan zaman dan tantangannya.
Pengaruh yang ditimbulkan dari pendidikan Islam ini sangat besar
sekali dalam kebangkitan di segala bidang pendidikan, yang sebelumnya dipetik
dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam agama dan budi pekerti dan diutamakan
pula segi kemanusiaan, sosial, dan kerjasama, seperti persaudaraan,
kemerdekaan, keadilan, dan kesempatan, yang sama, disamping kesatuan rohaniah
seluruh umat Islam. Pendidikan disini merupakan bimbingan dan pimpinan yang
secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
Dalam ajaran Islam,
kepribadian yang utama adalah akhlak, dimana manusia memiliki akhlak yang utama
sebagai manusia yang sempurna (insan kamil) sesuai dengan al-Quran dan
al-Sunnah. Pendidikan ini merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkembang,
tidak statis karena berhubungan dengan kebutuhan manusia yang selalu mengikuti
perkembangan zaman. Ajaran Islam berisi ajaran tentang sikap dan tingkah laku
pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, sehingga
pendidikan Islam merupakan individu dan juga pendidikan masyarakat.
Metode pendidikan moral dalam Islam menurut Muhammad ‘Athiyah Al-
Abrasyi
Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Menurut Muhammad
‘Athiyah Al-Abrasyi metode merupakan jalan yang dilalui untuk memperoleh
pemahaman pada peserta didik, 'Athiyah mengatakan bahwasanya Metode pendidikan
Islam telah modern sejak semula. Hal ini terlihat dalam beberapa prinsip yang
mendasar seperti adanya unsur demokrasi, kebebasan, kemerdekaan, persamaan
dalam pendidikan, unsur pengamatan kepada bakat anak, kecenderungan, fitrah,
kecakapan, kemampuan, berkomunikasi dengan anak dengan penuh kasih sayang dan
pendidikan seumur hidup.
Mengenai kaidah-kaidah dasar dalam pendidikan Islam beliau
sependapat dengan alGhozali, di antaranya:
a. Tidak ada pembatasan usia anak mulai belajar.
b. Memberi kebebasan kepada peserta didik memilih disiplin ilmu
yang disukai sesuai bakatnya.
c. Cara mengajar anak yang belum baligh berbeda dengan metode
mengajar anak yang sudah baligh, pelajaran dimulai dari yang paling mudah.
d. Supaya pendidik tidak mengajarkan kepada anak didik dua disiplin
ilmu yang berbeda dalam satu waktu atau pada waktu yang sama, sebaiknya
masing-masing ilmu diajarkan secara khusus dalam waktu tertentu, diberikan oleh
pendidik yang menguasai ilmu itu sehingga peserta didik benar-benar
mamahaminya.
e. Ketika memperhatikan dan mengindahkan pada waktu menunjukkan
contoh dan alat peraga kepada anak sebaiknya dengan sesuatu yang mudah
ditangkap pancaindera dan perasaan mereka dan berangsur-angsur dapat dicerna
akal mereka.
Athiyah
mengklasifikasikan metode dalam pengajaran menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Metode Deduktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia remaja
2. Metode Induktif
Digunakan untuk mendidik peserta didik di usia anak-anak. Diapun
menyetujui lima langkah yang diterapkan para pendidik dalam memberikan
pelajaran dimulai dengan pendahuluan, berikut materi pelajaran, kemudian
hubungan pelajaran baru dengan pelajaran yang sudah diketahui, lalu hasil yang
didapat dan akhirnya latihan atau praktik.
Di dalam pendidikan Islam Al abrasy membaginya menjadi dua materi.
Diantaranya:
1. Materi untuk tingkat dasar (pendidikan dasar) meliputi; materi
Al-Qur`an, sendi-sendi agama, membaca, menulis, berhitung, bahasa, etika,
cerita, ketrampilan. sajak-sajak yang mengandung ajaran akhlak, menulis indah,
cerita-cerita dan latihan berenang serta berkuda
2. Untuk pendidikan lanjutan, pelajaran yang diberikan juga lebih
meningkat yaitu dengan memberikan perhatian secara khusus untuk mempersiapkan
mereka, dengan tugas-tugas yang kelak akan mereka pikul seperti pelajaran
muhadharah (berpidato), belajar sejarah (terutama sejarah peperangan), tata tertib
persidangan serta memperhatikan pula bahan pokok dasar seperti pada tingkat
pemula, Sedangkan untuk pendidikan tinggi pengajaran diarahkan kepada yang
lebih spesifik yaitu diberikan pelajaran eksakta dan sastra, namun tetap tidak
melupakan bahan pokok pada tingkat permulaan Dari sini Al abrasy memberikan
beberapa poin diantaranya:
a. Perhatian kaum muslimin terhadap studi keagamaan sangat besar
dibandingkan dengan bidang studi lainnya.
b. Menurut pendapat al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ihwanus Shafa, kesempurnaan
manusia (insan) ini tidak akan terwujud kecuali dengan penyerasian antara ilmu
agama dan ilmu- ilmu eksakta.
c. Kecenderungan kepada pelajaran-pelajaran sastra, ilmu keagamaan,
dan kemanusiaan, lebih besar terhadap ilmu- ilmu eksakta.
d. Kurikulum atau rencana pelajaran ilmu- ilmu eksakta dan sastra
pada tingkat tinggi, lebih bersifat penggalian terhadap ilmu eksakta dan
bersifat humanitas.
Sedangkan kaitannya
dengan pendidikan moral dan akhlaq,
didalam islam terdapat beberapa metode yang dilakukan, yaitu:
1 Pendidikan secara
langsung
Yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat,
menyebutkan manfaat dan bahaya-bahayanya sesuatu; di mana pada murid dijelaskan
hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak, menuntun kepada amal baik, mendorong
mereka berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela. Dan
kini Orang-orang Amerika di Amerika Serikat kini menggunakan cara-cara ini, dan
diantara kata-kata berhikmat, wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral
anak-anak, diantaranya sebagai berikut:
a. Sopan santun adalah warisan yang terbaik
b. Budi pekerti yang baik adalah teman yang sejati
c. Mencapai kata mufakat adalah pimpinan yang terbaik
d. Ijtihad adalah perdagangan yang menguntungkan
e. Akal adalah harta yang paling bermanfaat
f. Tidak ada bencana yang lebih besar dari kejahilan
g. Tidak ada kawan yang lebih buruk dari mengagungkan diri sendiri
2 Pendidikan akhlak secara
tidak langsung
Yaitu dengan jalan sugesti seperti mendiktekan sajak-sajak yang
mengandung hikmat kepada anak-anak, memberikan nasehat-nasehat dan
berita-berita berharga, mencegah mereka membaca sajak-sajak yang mengherankan
karena ahli-ahli pendidik dalam Islam yakin akan pengaruh kosong termasuk yang
menggugah soal-soal cinta dan pelaku-pelakunya. Tidaklah kata-kata berhikmat,
nasehat-nasehat dan kisah-kisah nyata itu dalam pendidikan akhlak anak-anak.
Karena kata-kata mutiara itu dapat dianggap sebagai sugesti dari luar. Di dalam
ilmu jiwa (psikologi) kita buktikan bahwa sajak-sajak itu sangat berpengaruh
dalam pendidikan anak-anak, mereka membenarkan apa yang didengarnya dan
mempercayai sekali apa yang mereka baca dalam buku-buku pelajarannya.
Sajak-sajak, kata-kata berhikmat dan wasiat-wasiat tentang budi pekerti itu
sangat berpengaruh terhadap mereka. Juga seorang guru dapat mensugestikan
kepada anak-anak beberapa contoh dari akhlak-akhlak yang mulia seperti berkata
benar, jujur dalam pekerjaan, adil dalam menimbang, begitu pula sifat
3. Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak
dalam rangka pendidikan akhlak.
Seperti contoh mereka memiliki kesenangan meniru ucapan-ucapan,
perbuatan-perbuatan, gerak-gerik orang-orang yang berhubungan erat dengan
mereka. Sifat meniru ini mempunyai pengaruh yang besar bukan saja dalam
pengajaran tetapi juga dalam pendidikan budi pekerti dan akal. Disamping itu,
ahli-ahli didik Islam mengetahui bahwa anak-anak mempunyai pembawaan suka
dipuji, suka menampang, maka mereka memuji perbuatan-perbuatannya atau
perkataan-perkataannya yang baik dan mendorong supaya hal itu diteruskan,
sehingga akhirnya si anak tadi mempertahankan kedudukannya tadi dan senantiasa
berusaha pula memperbaiki dirinya.
Melihat dari ketiga metode tersebut maka dapat di jelaskan secara
sederhana tahap- tahap yang harus ditempuh dalam proses pembelajaran pendidikan
akhlak (moral) kepada peserta didik yaitu:
1. Dengan keteladanan
2. Dengan memberikan tuntunan
3. Dengan kisah-kisah sejarah
4. Dengan memberikan dorongan dan menanamkan rasa takut (pada
Allah)
5. Dengan memupuk hati nurani
IQBAL
Biografi
Iqbal
dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab
Barat dan Kashmir) pada tanggal 22 Februari 1873/ 2 Dhulhijjah 1289 dan wafat
ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender Masehi, atau
63 tahun menurut kalender Hijri. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi
berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan
tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai
di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore.
Iqbal menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus
pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena
baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A
dalam bidang filsafat.
Ia lahir dari
kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah
mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad
Rafiq kakeknya. Dan Iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College di
Sialkot agar ia mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan teman ayahnya yang
ahli bahasa Persia dan Arab. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia
selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore
(salah satu kota di India yang menjadi pusat kebudayaan , pengetahuan, dan
seni) di tahun 1895 di Lahore inila dia bertemu dengan Sir Thomas Arnold, pada
tahun 1905 ia studi di Cambridge-Inggris, ia berguru pada R.A Nicholson, seorang
spesialis dalam sufisme, dan seorang Neo-Hegelian, yaitu John M.E. Mc Taggart,
dan terakhir di Munich-Jerman ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908 dengan
mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia
disertasi ini ia persembahkan kepada gurunya Sir Thomas Arnold. Sekembalinya
dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat
menjadi pengacara.
Pada tahun 1922
seorang wartawan Inggris mengusulkan kepada pemerintahnya untuk member gelar
Sir kepada Iqbal. Iqbal pun mendapat undangan penguasa Inggris untuk pertama
kalinya. Mula-mula ia menolak undangan itu, tetapi ata dorongan sahabatnya,
Mirza Jalaluddin, akhirnya ia memenuhi. Gelar Sir ia terima dengan syarat gurunya, Mir Hasan,
yang ahli tentang sastra Arab dan sastra Persia juga mendapat gelar Shams
al-Ulama. Sebetulnya gurunya gurunya itu tidak begitu terkenal dan patut diberi
gelar demikian, namun Iqbal tetap bersikeras dengan syarat yang ia ajukan.
Akhirnya syaratnya itu diterima oleh penguasa Inggris.
Saat-saat
Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada tahun 1935 istrinya meninggal
dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan membawa kesedihan yang
berlarut-larut kepada Iqbal. Dan berbagai penyakitpupun menimpa Iqbal sehingga
fisiknya semakin lemah. Sungguhpun demikian, pikiran dan semangat Iqbal tidak
pernah mengenal lelah. Ia tiada henti-hentinya mengubah sajak-sajak dan terus
menuliskan pemikiran-pemikirannya. Pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia
merasa ajalnya telah dekat, namun Iqbal masih menyempatkan diri berpesan kepada
sahabat-sahabatnya.
Kukatakan
kepadamu tanda seorang Mu’min
Bila maut
datang, akan merekah senyum di bibir.
Akhirnya
Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa
gagasan-gagasannya atau pemikirannya tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir
sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini
pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang
tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahla widan Sayyid Ahmad Khan. Keduanya
adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin
tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat
tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India
ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat
mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris dan bahkan pada tahun 1858
British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas
pemerintah imperium India.
Adapun
karya-karya Iqbal diantaranya adalah:
‘Ilm al-Iqtis
(1903), Devlopment of Metaphyiscs in Persia (1908), Islam as Moral and
Political Ideal (1909), Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri/ Rahasia Pribadi) ;
(1915), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri ) ; (1918),
Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur) ; (1923), Bang-i-dara (Genta Lonceng/ Seruan
dari Perjalanan) ; (1924), Self in the Light of Relativy Speeches and
Statements of Iqbal (1925), Zaboor-i-‘Ajam (Taman Rahasia Baru/ Kidung Persia)
; (1927), Khusal Khan Khattak (1928), A Plea Deeper Study of Muslim Scientist
(1929), Presidential Address to the All-India Muslim Leaque (1930), Javid
Nama(Kitab Keabadian) ; (1932), Lectures on the Reconstruction of Religius
Thought in Islam (1934), Letter of Iqbal to Jinnah (1934), Bal-i-Jibril (Sayap
Jibril) ;
(1935), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq
(Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?) ; (1936), Musafir Nama/
Mathnawi Musafir (1936), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa) ; (1936), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz) ;
(1938), dan A Contibution to the History of Muslim Philosopy.
Filsafat Iqbal
Menurut Dr.
Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbalyang ditulis oleh Dr.
Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu
intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India
bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa
mengkaji ide-idenya secara mendalam.
Namun dalam
tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh
masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas,
justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak
sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan
hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi,
diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India
pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik
sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut
sebagaiTokoh Multidimensional.
Dengan latar
belakang yang cukup unik di atas penulis dalam makalah ini akan memaparkan
gagasan-gagasan Iqbal yang berkaitan dengan pemikiran filsafatnya sub bahasan
eksistensialisme dalam tiga hal yaitu: Ego dan Khudi, Ketuhanan, Insan Kamil
Ego dan Khudi
Khudi dalam
bahasa Parsi berarti pribadi.[15] Yaitu pribadi-pribadi yang sempurna.
Sedangkan yang dimaksud Iqbal di sini adalah usaha menjadikan diri Individu
yang selalu di liputi sifat-sifat Tuhan yang sempurna. Ini terlihat ketika
Iqbal melukiskan kejayaan pribadi dan jalan hidup nabi Muhammad. Yang mana
dalam tafsir sajaknya bahwa untuk perkembangan sewajarnya dari setiap muslim
dirindukannya suatui masyarakat menurutr acuan Islam, dan setiap muslim yang
berusaha akan menjadikan dirinya Individu yang sempurna turut membina kerajaan
Islam dibumi ini.
Syarat-syarat
untuk masyarakat Islam itu dilukiskan Iqbal dalam kumpulan syairnya yang kedua,
yakni: Rumuz -i-bekhudi, yang diterbitkan sesudah Asrar –i-khudi. Dalam buku
kumpulan syair Rumuz –i-bekhudi itu Iqbal melukiskan bahwa orang yang dapat
menafikan dirinya sendiri dalam masyarakat, membayangkan yang silam dan yang
akan datang sebagai suatu satuan di dalam cermin, dapatlah dia mengatasi sang
ajal dan masuk kedalam hidup ke Islaman yang bersifat abadi dan tidak terbatas.
Diantara acara-acara terpenting yang abadi dan tak terbatas. Diantara
acara-acara terpenting yang didendangkan Iqbal ialah: asal-usul masyarakat,
pemimpinan Tuhan pada manusia dengan perantaraan para nabi. Pembentukan pusat
–pusat hidup kolektif dan nilai sejarah sebagai faktor penting untuk menetapkan
tanda tersendiri dalam sesuatu bangsa.
Khudi yakni ego
yang hendak menangkap Ego yang besar oleh kian membulatnya dirinya sendiri.
Pribadi bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi
dinamisme pribadi. Pribadi atau khudi itu ialah action ialah hidup dan hidup
ialah pribadi.
Tuhan
menjelmakan sifat-sifatnya bukanlah di alam ini dengan sempurna tetapi pada
para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan sifat-sifatNya dalam
diri, yang sebenarnya sesuai dengan hadist rasullah s.a.w: Takhallaqu bi
akhlaqi’llah, tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah. Jadi mencari Tuhan
bukanlah dengan jalan merendah-rendahkan diri atau meminta-minta, tetapi dengan
himmah tenaga yang berkobar-kobar mejelmakan sifat-sifat uluhiyyah (ketuhanan)
dalam diri kita dan kepada masyarakat ramai. Tegasnya mendekati Tuhan ialah
menyempurnakan diri pribadi insan, memperkuat iradah atau kemauannya.
Maka menurut
Iqbal pribadi sejati adalah bukan yang menguasai alam benda tetapi pribadi yang
dilingkupi Tuhan kedalam khuduinya sendiri. Maka sifat dan pikiran pribadi atau
khudi ialah:
Tidak terikat
oleh ruang sebagaimana halnya dengan tubuh.
Hanyalah
lanjutan masa mengenai kepribadian
Kepribadian
pada asasnya tersendiri dan Unik.
Sedangkan cita
tentang pribadi itu memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya,
diselesaikannya soal buruk dan baik. Hal-hal yang memperkuat pribadi bagi Iqbal
Ialah:
‘Isyq-o-muhabbat,
yakni cinta kasih.
Faqr yang
artinya sikap tak peduli terhadap apa yang disediakan oleh dunia ini, sebab
bercita-cita yang lebih agung lagi.
Keberanian
Sikap tenggang
rasa (tolerance)
Kasb-i-halal
yang sebaik-baiknya terjalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang sah.
Mengerjakan
kerja kreatif dan asli.
Ketuhanan
Filsafat Iqbal
tentang tuhan dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam
pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal
tersebut mengenai konsepsi Tuhan. Fase pertama berlangsung mulai dari tahun
1901M hingga kira-kira tahun 1908M, pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai
mistikus-panteistik. Hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik yang
berkembang di wilayah Persia, lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti Ibnu
‘arabi. Puncak kekagumannya itu tergambar dalam disertasi doktornya,
berjudulDevelopment of Metaphysics in Persia: a Constribution to the History of
Muslim Philosophy. Pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai suatu Keindahan
yang abadi, keberadaan-Nya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului segala
sesuatu bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Ia menyatakan dirinya di
langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, pada kerlap kerlip bintang
–bintang dan jatuhnya embun di tanah dan di laut, di api dan nyalanya, di
batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, di wewangian dan
nyanyian, di semua tempat dan keadaan.
Demikianlah,
Tuhan sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan
pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas dan
kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan
ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi dan ideal segala
sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan
individu adalah seperti halnya setetes air. Demikianlah, Tuhan adalah seperti
matahari dan individu adalah seperti lilin, dan nyala lilin hilang di tengah
cahaya. Seperti balon atau bunga api, kehidupan ini bersifat sementara tidak
hanya itu bahkan keseluruhan wujud atau eksistensi adalah suatu yang fana.
Secara umum
telah dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan pada fase pertama seperti
termuat diatas. Pemikiran seperti itu tidak sulit dicari sumbernya, pada
dasarnya pemikiran seperti itu bersifat platonis. Plato juga menganggap Tuhan
sebagai Keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang medahului segala
sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk. Plato juga
menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan cinta dari
pengertian seks dan memberinya makna universal, konsep platonis ini sebagaimana
yang diungkapkan oleh Platonis diambil alih oleh kaum skolastik Muslim awal dan
dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para mistiukus patheistis, menurut Iqbal suatu tradisi lama dalam puisi,
parsi dan urdu ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis Inggris.
Sehingga dapat dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini
tidak asli. Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima
sebagai warisan sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan
ini sebagai bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.
Masa kedua
perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun 1908-1920 M. kunci untuk
memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah perbedaan yang ia tarik
antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu, disatu pihak dan cinta
kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana telah dicatat bahwa Iqbal menyebut
keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan efisien serta kausalitas akhir dari
segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi pada masa kedua, sikap ini
mengalami perubahan.
Pertama, suatu
kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam pesimisme yang menyelinap ke
dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan dan efisiensinya serta
kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh konsep tentang
pribadi(self) yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat, upaya, aspirasi,
usaha ,keputusan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu,
melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi adalah aksi
yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan, halangan
dan rintangan. Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi karena
itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dengan pedang.
Yang disebut
dengan dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang menggairahkan termasuk
ruang dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia perasaan, ide-ide dan
ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti fichte dan ward, Iqbal
menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari dirinya sendiri sesuatu yang
bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri. Dunia yang terindera adalah ciptaan
pribadi. Karena itu segala keindahan alam merupakan bentukan hasrat-hasrat kita
sendiri. Hasrat menciptakan mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.
Tuhan sang
hahekat terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi. Ia tidak lagi dianggap
sebagai keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai kemauan abadi dan keindahan
disusutkan menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi sebutan yangs ekarang mencakup
nilai-nilai estetisdan nilai-nilai moral sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada
tahap ini keesaan tampak menunjukkan nilai pragmatis yang tinggi karena ia
memberi kesatuan tujuan dan kekuatan pada individu, bangsa-bangsa dan manusia
sebagai keseluruhan kekuatan yang mengikat, menciptakan hasrat yang tak kunjung
padam, harapan dan aspirasi dan menghilangkan semua rasa gentar dan takut
kepada yang bukan Tuhan.
Tuhan
menyatakan dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan dalam pribadi
terbatas, dan karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya akandimungkinkan
lewat pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat kondisional terhadap
pencarian diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa diperoleh dengan
meminta-minta dan memohon semata-mata karena hal seperti itu menunjukkan
kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus konsisten
dengan kekuatan dan kemauan sendiri. Ia harus menangkap Dia dengan cara sama
seperti seorang pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga menginginkan
diriNya tertangkap. Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia. Dengan menemukan
Tuhan seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan
menjadi tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya,
menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak terbatas.
Dengan menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh
menjadi super ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.[26]Singkat kata pada fase ini
Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari keindahan dan efisiensinya,
serta kausalitasnya akhirnya. Sebaliknya tumbuh keyakinan akan keabadian cinta,
hasrat, dan upaya atau gerak. Kondisi ini tergambar dalam karyanya, Haqiqat-i
Husna (Hakikat Keindahan). Pada tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang
dijadikannya sebagai pembimbing rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi
dianggap sebagai Keindahan Luar, tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara
keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di samping ke Esaan Tuhan. Karena itu,
Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan (the ultimate
spiritual basis of all life). Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang
terindera, tetapi dalam pribadi terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri
kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang
tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada.
Sebaliknya, manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak
mungkin sifat-sifatNya, dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap
Tuhan ke dalam diri, tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik
ke tingkat wakil Tuhan.
Masa ketiga
perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak tahun 1920 hingga tahun
1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap sebagai masa
kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan unsur-unsur dari
sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang menyeluruh.
Menurutnya Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan hakikat sebagai
suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian suatu Individu
dan suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia, Dia adalah suatu
prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain
yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan
konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita. Karena ujian yang
paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada
panggilan pribadi yang lain. Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi
segalanya, dan tidak ada sesuatu pun diluar Dia.
Ego mutlak
tidaklah statis seperti alam semesta sebagaimana dalam pandangan Aristoteles.
Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga hidup dan karena tidak ada
sesuatu pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka sepenuhnya Dia merupakan
jiwa kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas. Tetapi sifat tidak
terbatasNya bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak terbatasan ruang
tidak bersifat mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat intensif bukan ekstensif
dan mengandung kemungkinan aktivitas kreatif yang tidak terbatas. Tenaga hidup
yang bebas dengan kemungkinan tak terbatas mempunyai arti bahwa Dia Maha
Kuasa.Dengan demikian Ego terakhir adalah tenaga yang maha kuasa, gerak kedepan
yang merdeka,suatu gerak kreatif.
Insan Kamil
Manusia adalah
misteri terbesar yang diciptakan Tuhan di dunia, padanya Tuhan tidak hanya
membentuk sesuai dengan citra-Nya, akan tetapi sudah menjadi kehendak-Nya bahwa
manusia akan menjadi mitra kerja-Nya di dunia. Pengertian manusia adalah
pemahaman secara menyeluruh menyangkut aspek ruhani dan jasmani serta tidak
dapat dipisah-pisah antara satu dan lainnya, karena keduanya bersama-sama ada
dan merupakan suatu keutuhan dan keseluruhan baru, yang merupakan diri yang
selalu hidup, serba lain dari pada hidup raga saja atau jiwa saja dalam dirinya
sendiri, dan penyatuan antara keduanya merupakan kekuasaan Tuhan. Allah, dalam
al-Qur’an secara sederhana menggambarkan keunikan serta kelebihan manusia
daripada ciptaan Tuhan yang lain. Hubungan antara pikiran dan tindakan yang
membentuk kesatuan kesadaran manusia yang menjadi pusat kepribadiannya
merupakan ciri khas individualitas manusia. Hal inilah yang menjadi ukuran
kesempurnaan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.
Dalam sejarah
pemikiran, baik dalam kajian filsafat manusia maupun tasawuf manusia merupakan
kajian yang selalu menarik untuk di kaji, dari hal ini kajian manusia ideal
dalam pandangan Iqbal merupakan hal yang tidak dapat di hindari dalam memandang
manusia baik dari perspektif filsafat, tasawuf, dan agama. Manusia ideal dalam
pandangan Iqbal merupakan manusia yang mempunyai kesucian ruhani yang mampu
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya (ego kecil), sehingga dengan
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, di harapkan mampu mengantarkan
dirinya pada kualitas manusia sempurna (insan kamil). Disamping itu pula
manusia harus mampu mewujudkan dan mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam
kehidupannya. Di sinilah Iqbal memandang manusia ideal merupakan puncak dari
segala kehidupan yang di inginkan oleh Tuhan. Dengan mengemban sebuah amanah
sehingga pantas manusia mendapatkan gelar sebagai khalifah Allah di bumi.
Manusia sebagai
individualitas yang unik yang memungkinkan seseorang untuk memikul beban orang
lain, dan menamainya hanya berkenaan dengan apa yang telah diusahakan, karena
Qur’an diarahkan untuk menolak ide tentang penebusan. Apapun pandangan kita
tentang diri perasaan, identitas diri, jiwa, kemauan hanya dapat diuji dengan
peraturan-peraturan pikiran yang di dalam cirinya bersifat hubungan, dan “semua
hubungan melibatkan pertentangan”.
Dengan mudah
kita dapat mengakui bahwa ego, dalam keterbatasannya, tidak sempurna sebagai
kesatuan kehidupan. Ego mengungkap ego itu sendiri sebagai kesatuan dari apa
yang kita namakan keadan mental. Keadaan mental tidak berada dalam tempat yang
saling terpisah. Keadaan-keadaan mental saling berarti dan saling berkaitan,
atau katakanlah peristiwa-peristiwa merupakan jenis kesatuan yang khusus.
Secara mendasar hal ini berbeda dengan kesatuan material; karena kesatuan
material dapat berada pada tempat yang saling terpisah. Kesatuan mental
benar-benar unik. Kita tidak dapat mengatakan bahwa salah satu kepercayaan
diletakkan di sebelah kanan atau sebelah kiri kepercayaan saya yang lain. Oleh
karena itu ego tidak terbatas pada ruang, sedang tubuh terbatas oleh ruang.
Peristiwa fisik dan mental berada dalam waktu, tetapi waktu ego secara mendasar
berbeda dengan waktu peristiwa fisik. Durasi waktu fisik dibentangkan dalam
ruang sebagai fakta sekarang; durasi ego dikonsentrasikan di dalamnya dan
dicakup dengan masa sekarang dan masa depannya dengan cara yang unik.
Ciri penting
yang lain dari kesatuan ego merupakan privasinya yang mendasar yang mengungkap
keunikan setiap ego. Untuk mencapai kesimpulan yang pasti, semua premis
silogisme harus diyakini oleh seseorang dan akal yang sama. Jika saya percaya
kata-kata “ semua laki-laki adalah makhluk hidup” dan akal yang lain percaya
kata-kata “Socrates adalah seorang laki-laki”, tidak ada kesimpulan yang
mungkin. Hanya memungkinkan jika saya percaya kedua dalil tesebut. Lagi, hasrat
saya terhadap sesuatu yang pasti pada dasarnya milik saya.
Bentuk lain
pembuatan manusia sebelumnya “ mengembangkan dasar organisme fisik – kumpulan
sub ego yang lebih mendalam yang bertindak dalam diri saya, dan membiarkan saya
untuk membangun kesatuan pengalaman yang sistematis. Sesuatu yang lain di luar
saya dikira memiliki sifat-sifat tertentu yang dinamakan dasar, mengacu pada sensasi tertentu dalam
diri saya, dan saya membenarkan kepercayaan saya tentang sifat-sifat tersebut
dengan dasar penyebab harus memiliki kemiripan dengan pengaruhnya. Tetapi tidak
perlu ada kemiripan antara sebab dan pengaruhnya.
Manusia punya
aspek ruang tetapi ini bukan aspek manusia saja. Ada aspek alain selain aspek
manusia, yaitu penilaian, karakter kesatuan dari pengalaman yang bertujuan, dan
pencarian kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dari studinya, serta
pengertian yang memerlukan kategori-kategori lain yang disiratkan oleh ilmu
pengetahuan.
Manusia Asamu
hidupku! Seluruh kehidupanmu, seperti jam waktu, akan selalu baru, dan akan
terus berlalu. Di dalam lingkaran ini, engkau hanyalah sebutir pasir, akan
terus bersinar tanpa kesudahan!”
AL-‘ATTAS
BIOGRAFI
Nama lengkap Syed Muhammad Naquib
Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin
Muhammad al-Attas. Beliau lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september
1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan
pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama
Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan
Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya
berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf
yangterkenal dari kalangan sayid.
Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed
Muhammad Naquib Al-Attas, dimulai sejak ia masih berusia 5 tahun. Ketika ia
berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya
Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun
1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada
zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan
bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun
1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama
saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan
Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua
umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit
Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949.
Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang
berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun
1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan
mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program
pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph.
D
PEMIKIRANNYA
TENTANG PENDIDIKAN
1. Pengertian
Pendidikan Islam
Ada beberapa istilah yang dipakai
untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang pengistilahan itu
diambil dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an) maupun al-sunnah. Misalnya dijumpai
kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib bahkan ada yang disebut riyadlah. Namun dalam
pembahasan berikut ini akan disajikan konsep pendidikan Islam versi Naquib
al-Attas. Pemaparan konsep pendidikan Islam dalam pandangan al-Attas lebih
cenderung menggunakan istilah (lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya.
Pemilihan istilah ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas
dengan menganalisis dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan
pesan-pesan moralnya.
Sekalipun istilah tarbiyah dan
ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah
konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya
(Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas,
merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata “addaba“ yang berarti memberi
adab, atau mendidik.
Dari sini dapat dipahami bahwa yang
dimaksudkan dengan Ta'dib dalam terminologi al-Attas adalah peresapan dan
penanaman adab pada diri manusia(serdik) dalam proses pendidikan. Disamping itu
adab merupakan suatu muatan atau kandungan yang semestinya ditanamkan dalam
proses pendidikan Islam. Mengenai adab dalam konteks ini, al-Attas
mendefinisikan sebagai berikut:
“Adab berarti
pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat
teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat mereka dan
tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta
dengan kapasitas dan potensi jasmaniah,intelektual serta ruhaniah seseorang”.
Dalam pandangan al-Attas, dengan
menggunakan term di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses
internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial
yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan
adab. Seperti yang diungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses
mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai
pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ (Ismail SM, dalam
Abdul Kholiq, dkk., 1999: 275).
Al-Attas melihat bahwa adab
merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan
dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan
Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah
mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling
baik”. (HR. Ibn Hibban).
Sesuai dengan ungkapan hadits di
atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri
manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat
kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana
penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis
dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara
ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan
memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang
teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana
manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring Konsep
Pendidikan menurut Naquib al-Attas.
Al-Attas membantah istilah
tarbiyah, sebagaimana yang digunakan oleh beberapa pakar paedagogis dalam
konsep pendidikan Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan
pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu
masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun
ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur
pendidikan yang bersifat fisik dan material. Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan
bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna
substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang
(rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada
aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep
ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan,
pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi
al-Attas tidak perlu dipakai.
Dari sini dapat dipahami bahwa
menurut al-Attas, hakikat pendidikan Islam adalah Ta'dib, karena istilah
tersebut sudah termasuk tarbiyah atau ta'lim, karena menurutnya ta'dib sudah
mencakup unsur-unsur pengetahuan(llm), pengajaran(ta'lim), dan pengasuhan yang
baik (tarbiyah). Selanjutnya menurut al-Attas jika konsep ta'dib ini tidak
diterapkan maka akan muncul akibat-akibat yang serius diantaranya:
pertama,kebingungan
dan kesalahan dalam pengetahuan, yang pada gilirannya menciptakan kondisi:
kedua,
hilangnya adab di dalam umat. Kondisi yang timbul akibat 1 dan 2 adalah:
ketiga,
Bangkitnya pemimpim-pemimpin yaang tidak memenuhi syarat-syarat kepemimpinan
yang absah dalam umat Islam, yang tidak memiliki standar moral, intelektual dan
spiritual yang tinggi yang dibutuhkan bagi kepemimpinan.
Menurut al-Attas, pendidikan dalam arti
Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusa, lebih lanjut ia mengatakan:
“Mengingat makna pengetahuan dan pendidikan hanya berkenaan dengan manusia
saja, dan sebagai terusannya dengan masyarakat pula, maka pengenalan dan
pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan
penciptaan mesti paling utama diterapkan pada pengenalan dan pengakuan manusia
itu sendiri tentang tempatnya yang tepat, yaitu kedudukannya dan kondisinya
dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarganya, kelompoknya atau
komunitasnya dan masyarakatnya serta kepada disiplin pribadinya, di dalam
mengaktualisasikan dalam dirinya pengenalan dengan pengakuan”.
2. Tujuan
Pendidikan Islam
Menurut pemikiran Naquib al-Attas
yang beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan
dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir
pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan
materiil dan spiritualnya. Di samping
tujuan pendidikan Islam yang menitikberatkan pada pembentukan aspek pribadi
individu, juga mengharapkan pembentukan masyarakat yang ideal tidak terabaikan.
Seperti dalam ucapannya, “Karena masyarakat terdiri dari perseorangan maka
membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik
berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik” (Al-Attas, 1991:23).
Secara ideal, al-Attas menghendaki
pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan
al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai
Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka
bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan
dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang
menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.
Dari diskripsi diatas bisa dipahami
bahwa dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam
dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam
wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw.
Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas
dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan
masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian
masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat kumpulan dari
individu-individu.
3. Sistem
Pendidikan Islam
Sebagaimana yang tertuang dalam
tujuan pendidikan Islam di atas, bahwa al-Attas mendeskripsikan tujuan tersebut
adalah mewujudkan manusia sempurna, insan kamil. Dengan begitu, berarti sistem
pendidikan Islam harus memahami seperangkat bagian-bagian yang terkait satu
sama lain dalam sistem pendidikan. Maksudnya pendidikan Islam harus
mencerminkan aspek manusia itu sendiri, bukannya negara. Perwujudan paling
tinggi dan sempurna dari sistem pendidikan adalah Universitas. Menurut
al-Attas, Universitas Islam yang dirancang untuk mencerminkan yang universal,
harus pula merupakan pencerminan manusia itu sendiri.
Al-Attas berpandangan bahwa seperti
manusia yang terdiri dari dua unsur, jasmani dan ruhani, maka ilmu juga terbagi
dua katagori, yaitu ilmu pemberian Allah (melalui wahyu ilahi), dan ilmu
capaian (yang diperoleh melalui usaha pengamatan, pengalaman dan riset
manusia). Al-Attas membuat skema yang menjelaskan kedudukan manusia dan
sekaligus pengetahuan. Bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan menurut dia, adalah
berian Allah (God Given) dengan mengacu pada fakultas dan indra ruhaniayah
manusia. Sedangkan ilmu capaian mengacu pada tingkatan dan indra jasmaniyah.
Menurut al-Attas, bahwa akal
merupakan mata rantai yang menghubungkan antara yang jasmani dan yang ruhani,
karena akal pada hakikatnya adalah substansi ruhaniyah yang menjadikan manusia
bisa memahami hakikat dan kebenaran ruhaniyah. Dengan kata lain, dia mengatakan
bahwa ilmu-ilmu agama merupakan kewajiban individu yang menjadi pusat jantung
diri manusia.
Jadi, dalam sistem pendidikan Islam
ada tiga tahap atau tingkat (rendah, menengah, dan tinggi ) ilmu fardlu ain
harus diajarkan tidak hanya pada tingkat rendah, melainkan juga pada tingkat
menengah dan tingkat universitas. Karena universitas menurut al-Attas merupakan
cerminan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus di
dahulukan. Seperti yang dijelaskan al-Attas (1991: 41) ruang lingkup dan
kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan
ke dalam tahapan-tahapan yang lebih sedikit secara berurutan ketingkat yang
lebih rendah mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistematisasi
yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus didahulukan.
Merujuk hal tersebut bisa dipahami
bahwa pembenahan dan rekonstruksi terhadap Universitas merupakan sesuatu yang
pertama yang harus dilakukan sebab, ia akan menjadi model bagi level-level
dibawahnya. Bila tidak demikian, artinya jika usaha perumusan ruang lungkup dan
kandungan dimulai dari tingkat yang paling rendah dikhawatirkan tidak akan
berhasil lantaran tidak adanya model yang lengkap yang bertindak sebagai
kriteria bagi perumusan ruang lingkup dan kandungan tersebut.
Al-Attas mengklasifikaskan ilmu
menjadi dua macam, yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu rasional, intelektual
dan filosofis. Yang termasuk ilmu-ilmu agama misalnya: al-Qur’an; (pembacaan
dan penafsirannya). Al-Sunnah; (kehidupan Nabi, sejarah dan pesan para rasul
sebelumnya, hadits dan riwayat-riwayat otoritasnya). Al-Syari’ah;
(Undang-undang das hukum, prinsip-prinsip dan praktek-praktek Islam; Islam,
iman ihsan). Teologi (Tuhan, esensi-Nya, sifat-sifat dan nama-nama-Nya, serta
tindakan-tindakan-Nya). Tasawuf (Pikologi, kosmologi, dan antologi), dan ilmu
bahasa atau Linguistik (bahasa Arab, tata bahasa, leksikografi dan
kesusatraan).
Sedangkan yang termasuk ilmu
rasional dan sejenisnya adalah ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam, dan
ilmu-ilmu terapan. Menururt al-Attas, bagian yang termasuk ilmu kemanusian
seharusnya ditambah dengan pengetahuan Islam. Karena semua disiplin ilmu harus
bertolak kepada Islam. Karena itu ia menganjurkan agar pengetahuan tersebut
ditambahkan disiplin-disiplin baru yang berkaitan dengan hal berikut ini:
1. Perbandingan
agama dari sudut Islam
2. Kebudayaan
dan peradaban Barat, khususnya kebudayaan dan peradaban yang selama ini dan di
masa datang berbenturan dengan Islam.
3. Ilmu-ilmu
linguistik; bahasa-bahasa Islam, tata bahasa, dan literatur.
4.Sejarah
Islam; pemikiran kebudayaan dan peradaban Islam, perkembangan ilmu-ilmu sejarah
Islam, filsafat-filsafat sains Islam, Islam sebagai sejarah dunia (al-Attas,
1990:91).
Dari diskripsi
diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sesuai dengan pandangan al-Attas
tentang ilmu, ia melihat bahwa Universitas Islam tidak dapat mencontoh begitu
saja pada Universitas Barat yang senantiasa memisahkan ilmu pengetahuan dan
nilai dalam dua bidang yang dipisahkan oleh ruang hampa. Universitas Islam
mesti mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai demi terwujudnya manusia
ideal, yaitu manusia beradab.
AKTUALISASI
KONSEP AL-ATTAS DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER
1. Corak
Pemikiran Pendidikan
Apabila ditelaah dengan cermat,
format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas sebagaimana telah
dideskripsikan, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan
Islam sebagai suatu pendidikan terpadu.
Hal tersebut dapat secara jelas
dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni terwujudnya manusia
yang 'baik', yaitu manusia yang universal(Al-Insan Al-Kamil). Insan kamil yang
dimaksud adalah manusia yang bercirikan: Pertama; manusia yang seimbang,
memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian; a). dimensi isoterikvertikal yang
intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan b). dimensi eksoterik, dialektikal,
horizontal, yaitu membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya.
Kedua; manusia seimbang dalam kualitas pikir, dzikir dan amalnya (Achmadi,
1992: 130). Maka untuk menghasilkan manusia seimbang yang bercirikan tersebut
merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih
dahulu paradigma pendidikan yang terpadu.
Dari deskripsi di atas, dapat
ketahui bahwa orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan
yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan
keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib
(adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan
bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat
proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di
masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda
dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi
pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
Hal itu merupakan indikator bahwa
pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu
kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan
aspek kognitif (sensual–logis) dan psikomotorik (sensual-empiris). Hal ini
relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan
moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek
transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan
psikomotorik. Domain Iman diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran
Islam tidak hanya menyangkut hal-hal yang rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal
yang supra rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali
didasari dengan iman, yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Domain Iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai
hidup peserta didik, dan dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal
yang dilakukan.
2. Kondisi
obyektif pendidikan Islam dewasa ini
Untuk memotret bagaimana kondisi
dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan
penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan
bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun
statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi ia
sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan
Islam yang dicita-citakan.
Prof. Dr. Isma’il Raji Al-Faruqi
dalam karya monumentalnya islamization of knowlegde: general principles and
workplan mensinyalir bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan,
berada di bawah anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Al-Faruqi meyakini bahwa
kondisi umat islam yang memprihatinkan ini, disebabkan oleh sistem pendidikan
yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan Barat, baik materi maupun
metodologinya (AL-Faruqi, 1984:17).
Tidak bisa dipungkiri, bahwa
masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam arus perubahan yang
sangat dahsyat seiring datangnya era globalisasi dan informasi. Sebagai
masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah berusaha menghindari
pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya modernisasi yang diwujudkan
melalui pembangunan berbagai sektor termasuk pendidikan, intervensi dan
westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan dengan itu Fazlur Rahman
Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam
saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang
sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam.
Khursyid
Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang
ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu: Pertama,
pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan
pelajar. Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati
dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran,
tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat
terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu
dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan
manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar. (Achmad,
1992:22-23).
Sementara Al-Attas melihat bahwa
universitas modern (baca:Barat) tidak mangakui eksistensi jiwa atau semangat
yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada fungsi administratif pemeliharaan
pembangunan fisik.
Dari berbagai pemaparan di atas
Dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah
terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikna Barat. Dimana paradigma
pendidikan Barat tersebut secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan
pengejaran pengetahuan yang menitik beratkan pada segi teknik empiris,
sebaliknya tidak mengakui eksistensi jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas
serta jauh dari landasan spiritual.
3. Menuju
paradigma pendidikan Islam
Melihat kondisi pendidikan dewasa
ini sebagaimana telah dideskripsikan, maka peniruan terhadap konsepsi
pendidikan Barat harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan dengan cita-cita
pendidikan Islam. Sebaliknya merupakan suatu keniscayaan untuk mencari
paradigma pendidikan yang paling sesuai dengan cita-cita islam.
Dalam wacana ilmiah, setidaknya
dapat dikemukakakan beberapa alasan mendasar tentang pentingnya realisasi
paradigma pendidikan Islam. Pertama, Islam sebagai wahyu Allah yang meruapakan
pedoman hidup manusia untuk mencapia kesejahteraan di dunia dan akherat, baru
bisa dipahami, diyakini, dihayati dan diamalkan setelah melalui pendidikan.
Disamping itu secara fungsional Nabi Muhammad, sendiri di utus oleh Allah
sebagai pendidikan utama manusia. Kedua, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora
juga termasuk ilmu normatif, sebab ia terikat dengan norma-norma tertentu.
Disini nilai-nilai Islam sangat memadai untuk dijadikan sentral norma dalam
ilmu pendidikan itu.
Ketiga, dalam memecahkan dan
menganalisa berbagai masalah pendidikan selama ini cenderung mengambil sikap
seakan-akan semua permasalahn pendidikan, baik makro maupun mikro diyakini
dapat diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat, padahal
yang disebut terakhir tadi bersifat sekuler. Oleh karena itu, nilai-nilai ideal
Islam mestinya akan lebih sesuai untuk menganalisa secara kritis fenomena
kependidikan (Lihat Achmadi, 1992: viii-ix).
4. Aktualisasi
konsep Al-Attas dalam pendidikan Islam masa kini
Berdasarkan pada fenomena dan
kondisi obyektif dunia pendidikan masa kini pada umumnya dan pendidikan Islam
pada khususnya, maka pemikiran pendidikan Islam yang terformula dalam konsep
ta’dib yang ditawarkan Al-Attas, sungguh memilki relevansi dan signifikansi
yang tinggi serta layak dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk
diaktualisasikan dan di implementasikan dalam dunia pendidikan Islam. Karena
pada dasarnya ia merupakan konsep pendidikan yang hendak mengintegrasikan
dikhotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan-equilibrium, bercorak moral
dan religius. Secara ilmiah Al-Attas telah mengemukakan proposisi-proposisinya
sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang sangat jelas. Sehingga bukanlah
suatu hal yang naif bahwa statement Al-Attas ini merupakan sebuah jihad
intelektual dalam menemukan paradigma pendidikan Islam. Bila dicobakan untuk
berdialog dengan filsafat ilmu, apa yang diformulasikan oleh Al-Attas dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik dari dataran ontologis, epistemologis
maupun aksiologis.
Makasih ...mendapatkan ilmu yang bermanfaat
BalasHapusiyaa sama2 ....
Hapus